Persimpangan Hijrah

Mukadimah Sulthon Penanggungan September 2018

Atmosfer Tahun Baru Islam masih begitu hangat terasa, berbagai kegiatan membuat sudut-sudut Desa menjadi Arena Pertunjukan Silaturahmi dengan multikultur kreasi dan ekspresi menyambut pergantian Hijriyah.

Bulan Muharram dalam tradisi Islam memiliki makna yang dalam dan sejarah yang panjang. Di bulan ini pula lahir sebuah kemantapan yang kemudian menjadi tonggak berdirinya peradaban Islam yang agung, yaitu mantapnya keputusan hijrah Nabi dari fitnah kafirin Mekkah menuju Yastrib yang kemudian berubah wujud dan nama menjadi Madinah an Nubuwah.

Dalam Al qur’an tidak kurang dari 31 kata yang berasal  dari kata Hajara atau Hijrah. Dari jumlah itu tidak kurang dari 6 ayat yang menyebutkan kata Hajaruu (orang-orang yang berhijrah) bergandengan dengan kata Aamanuu (orang-orang yang beriman) dan  Jahaduu (orang-orang yang berjihad). 

Belum lagi kata Hajaruu diiringi dengan kata Fillah (karena Allah) atau Fi Sabiilillah (di jalan Allah). Ini berarti betapa erat kaitan hijrah dengan iman. Hijrah sama sekali berbeda dengan Migrasi, hijrah adalah terminologi khas Islam yang landasanya iman kepada Allah. Jadi hijrah menjadi tolok ukur keimanan seseorang. Orang yang benar-benar beriman tentu tidak akan merasa berat  melakukan hijrah. Sebaliknya, orang yang tidak melakukan hijrah menunjukan lemah atau tidak sempurna imannya.

“Hijrah adalah Berpindah Tempat”, begitu kebanyakan orang mempersepsikan pemaknaan Hijrah dengan hanya mengartikan makna Harafiah pada umumnya, sedang “Tempat” adalah objek dan “Berpindah” adalah kata kerja yang berlaku pada semua hal, Berpindah cara berpikirnya, Berpindah Keilmuannya, Berpindah skala perjuangannya, dst.

Yang menjadi persoalan sekarang adalah apa hakikat hijrah yang menjadi  tolok ukur Manusia?? dan bagaimana mengaplikasikannya dalam kehidupan kita sebagai seorang Khalifah yang terus menerus berjuang untuk mencari kemauan Tuhan-Nya?

Lebih dari 14 abad setelah peristiwa hijrah, tepatnya 1440 tahun sudah peradaban Islam lahir.

Masa kebangkitan, keemasan, dan kehancuran suatu umat terjadi silih berganti, dari satu generasi ke generasi yang lain, dari suatu abad ke abad yang lainnya. Peristiwa-peristiwa itu terus bergulir dengan pasti, sesuai dengan sunnatullah.

Semua peristiwa tersebut merupakan pelajaran yang amat berharga bagi kita dan bagi generasi yang akan datang, untuk memilih mana yang baik yang harus diikuti dan mana yang buruk yang harus dihindari.

Jangan pernah tidak mempertimbangkan adanya “Proxy Wars” atau “Perang Asimetris” yang membuat sistem baru pelemahan dan penjajahan terhadap 8 (Delapan) Aspek kehidupan “Astagatra” yang menjadi sasaran bidik tembak para Mafia Kapitalis Internasional untuk menguasai Sebuah Negara.

Dan apakah benar Indonesia sudah masuk dalam Agenda Perang Dingin “Asimetris” tersebut?

Transisi Revolusi Industri level 4 sudah berlaku, zaman sudah semakin modern, arus teknologi yang semakin deras, ditambah lagi dengan hantaman ‘industrialisasi’ syariat, mengakibatkan terjadinya penyempitan makna hijrah. Masuk organisasi tertentu, dibilang sudah hijrah. Ikut kelompok tertentu, dibilang sudah hijrah. Merubah penampilan, dibilang sudah hijrah. Apakah hanya sebatas itu saja indikator hijrah seseorang?

Umat Islam sekarang ini terpasung oleh sistem kapitalis-sekuler yang selalu tampil dengan ’aroma surgawi’, sehingga ummat di level manapun, tak pandang kyai ataupun santri, cendekiawan ataupun awam, berlabel gus ataupun ustadz, telah banyak yang tergiur dengannya dan keasyikan menikmatinya, sehingga penindasan sesama umat pun tak lagi disadari sebagai bentuk kedzaliman.

Islam seringkali dijadikan alat atau kendaraan bagi kepentingan (ekonomi, politik) yang sama sekali tidak terkait dengan nilai-nilai Islam. Bahkan Islam direduksi dan dirancukan dalam organisasi sosial dan politik, dipersempit menjadi ’matakuda politik’ untuk melegitimasi kepentingan pribadi dan golongan. Islam ’dimodikasi’ sebagai doktrin untuk menghipnotis dan menguatkan fanatisme, primordialisme dan eksklusivisme umat agar mereka dengan mudah dapat ’dimanfaatkan’ untuk kepentingan pribadi dan komunitasnya. Inilah gerakan kebudayaan yang berbasis kapitalisme-sekularisme, yang kini disebut-sebut sebagai paradigma dan sistem jahiliyah modern.

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Hijrah adalah bergerak mendekat kepada Allah.

Dari semua itu, kita mencoba melihat kembali koordinat hijrah kita, Revolusi Budaya Digital ini memudahkan atau menjerumuskan?

Mari meninjau ulang arah hijrah kita, ke arah yang benar atau justru malah sebaliknya, bahwa Kita sedang berada pada titik koordinat agenda Kapital Internasional yang sudah lama berjalan?

Mari kita bersama sama mencari terang, agar tak tersesat di persimpangan jalan-Nya pada hari Sabtu tanggal 22 September 2018 jam 20:00 WIB di kolam renang Sakura Asri Bangil Pasuruan.

Buku Cak Nun