Persilatan Ngaji Bareng Bagi Para Pendekar Muda

Reportase Sinau Bareng CNKK di Padepokan PSHT Madiun, 15 Juli 2018

Tentu saja karena ini Ngaji Bareng dan bukan sekadar ceramah searah atau sekadar majelis podium dengan satu pengomong tanpa pemomong, maka Mbah Nun pertama-tama menggali apa yang telah dimiliki PSHT sendiri sebagai sohibul hajat pada hari Ahad malam tanggal 15 Juli 2018 M kali itu. Mbah Nun melancarkan beberapa kebutan pertanyaan ringan semacam; kapan kata silat dipakai sebagai ‘pendamping’ kata ‘pencak’?

Sang sesepuh perguruan rupanya sudah siap kuda-kuda, tidak sembarangan orang memang yang bisa mendapat posisi sesepuh pada perguruan setua ini. “Kata silat dipakai sejak era kolonial,” kata beliau.

Dari situ Mbah Nun kemudian mengelaborasi lebih lanjut. Bila sekadar pencak, maka urusannya selalu soal tarung, menang-kalah. Namun sesepuh-sesepuh dan para leluhur kita rupanya sangat mafhum bahwa pada masa di mana kekuasaan sangat berhasrat merenggut jati diri maka peri silat, yang dibabarkan oleh Mbah Nun maknanya tali pengikat. Pada saat Mbah Nun mengutarakan hal ini, saya perhatikan pemuda-pemuda di sekeliling saya, di lapangan padepokan PSSHT ini, tempat para pendekar-pendekar muda berkumpul memesrai Ngaji Bareng. Beberapa menyimak khusyuk melingkari layar yang disediakan di sisi lapangan. Beberapa (seperti saya) sambil ngopi, jajan pentol, juga (tentu saja) sambil selfie.

Seragam perguruan yang mereka kenakan hitam-hitam, namun juga beberapa ornamen tali-temali putih menghiasi. Kancing atas memakai tali, beberapa orang juga mengenakan semacam tali putih melingkar, yang akrabnya disebut “usus-usus” ala Warok, di pinggang mereka. Warok, wara’?

Silaturrahim itu juga apakah maksudnya pengikat sifat rahim? Kita sedang butuh silat, silaturrahim.

Artinya pada era kekuasaan sangat menindas, kita butuh imbang antara kekesatriaan dengan sifat menjembar di antara sesama kita, saling seduluran. Karena, itulah harta kita yang tersisa. Mbah Nun juga menekankan, belakangan kita perlu lebih kuat lagi dalam hidup bebrayan dan seduluran.

Setahu saya, kata “pencak” memang sempat tidak disenangi oleh pemerintah kolonial. Bagi kolonial, kata ini berpotensi merusak ketenteraman. Seperti hampir semua bentuk kekuasaan politik, pemerintah kolonial juga sangat mementingkan ketenteraman. Begitu juga nanti era Nippon di 1940-an, dan dilanjut era NKRI pun tak jauh beda. Bukan soal ketenteramannya, tapi siapa yang berhasrat terhadap ketenteraman itu, bisa kita lihat kepentingan di dalamnya.

Evolusi kesadaran itu wajar, Mbah Nun membabarkan dari penggalian kepada sesepuh padepokan bahwa wajarnya pendekar yang masih muda sifatnya kayak Jago, suka cari lawan. Kemudian nanti akan jadi Iwak, mulai berenang-renang dalam kehidupan. Lantas berevolusi jadi burung, yang melihat dari ketinggian. Mbah Nun mengasosiasikan ini dengan tingkatan: padatan, cair hingga udara.

Kalau kita baca profil PSHT ini, kita bisa sedikit paham bahwa dianya didirikan secara resmi pada 1922 oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo. Masa 1900 awal hingga 1930-an awal memang era di mana kolonial sedang agak ramah dengan perkembangan komunitas, pergerakan, hingga organisasi dari pribumi. Hampir semua komunitas yang cukup berumur di negeri ini, berdiri atas restu zaman itu.

Tentu saja karena ini Ngaji Bareng dan bukan sekadar ceramah searah atau sekadar majelis podium dengan satu pengomong tanpa pemomong, maka Mbah Nun pertama-tama menggali apa yang telah dimiliki PSHT sendiri sebagai sohibul hajat pada hari Ahad malam tanggal 15 Juli 2018 M kali itu. Mbah Nun…