Perisai Maiyah

Panah

Maka melayanglah panah-panah itu sebagai rancang bangun keangkuhan dan penyembahan terhadap berhala-berhala kekinian. Panah-panah itu adalah politik busuk dan bohong kepada publik. Panah-panah itu adalah lenyapnya akhlak di pendidikan kita. Panah-panah itu adalah acara-acara televisi penuh gosip, rekayasa berita, goyangan menggoda, serta berita-berita hoaks yang tersiar mutlak.

Panah-panah itu adalah sistem medis yang salah jalan dan merundung orang-orang miskin. Panah-panah itu adalah aurat multi dimensi yang dikeluarkan di khalayak ramai. Panah-panah itu adalah film-film biru easy access oleh anak-anak. Panah-panah itu adalah lagu dan musik penuh dengan kedangkalan. Panah-panah itu adalah pelecehan merajalela. Panah-panah itu adalah rusaknya silaturahmi manusia dengan alam.

Panah-panah itu adalah anak-anak yang terenggut jiwa kanak-kanak mereka. Panah-panah itu adalah hasutan perpecahan agama di medsos-medsos dan di masyarakat. Panah-panah itu adalah pemerintah yang menceraikan rakyatnya. Panah-panah itu adalah penuh sesak jutaan bahkan tak terbendung jumlah angka masalah konflik di bumi ini yang sekarang sedang merajalela. Panah-panah itu adalah dismakna pada segala aspek makna.

Panah-panah itu adalah kesalahkaprahan pada setiap aspek dan bidang pada diri manusia dari ujung rambut hingga ujung jempol baik jiwa dan raga sukma ruh spiritual. Merangsek pelan dan berat pada anak cucu Adam. Panah-panah itu… panah-panah itu… adalah… adalah… adalah yang bersarang di tubuh Mbah Markesot. Di tubuh kita semua!

Sekian tahun belajar, Pakde Tarmihim mengatakan, “…cukup lama sinau bareng, kini saatnya untuk kalian untuk mempelajari hal baru…” Kalimat itu berasa berat di punggung kami. Terdengar seperti mengemban sesuatu yang tak lazim, misterius dan miris.

Perisai

Kukuat-kuatkan dan kuberanikan diri sungkem kepada Simbah (CakNun) untuk mendekati Mbah Markesot, yang masih bercengkerama dengan panah-panah itu di sujudnya. Sambil tersenyum secerah mungkin, semanis mungkin, semenghibur mungkin, kuupayakan, setidaknya satu panah dulu tercabut. Lantas kubuat perisai.

“Nnggg…anu Mbah, jangan khawatir, kami mulai membangun gerombolan pasukan cilik yang namanya Malik, Maiyah Cilik. Baru rintisan. Perisai baru agar kelak tak mengenai tubuh kami. Anak cucumu Mbah. Anak cucu kita semua. Perisai yang kami upayakan membangun pelan-pelan nilai-nilai baik, kami upayakan berstandar manusia sejati dan arif, agar pasukan cilik ini kelak menjadi manusia yang sesungguhnya. Bahkan hal ini kami berlakukan pada para ibu juga. Biar bijak kuat mendampingi anak-anaknya di era gerah ini!”

Satu panah saya cabut lagi, dan kami buat perisai berbentuk lingkaran.

“Kami akan buat perisai yang mengokohkan lingkaran-lingkaran Mbah, baik kepada siapa saja, don’t be worry, doakan kami ya Mbah Nun, Mbah Markesot.”

Lantas panah ketiga saya cabut. Perisai belum juga usai dibuat. Semampu-mampu kucabut panah keempat, kelima, keenam dan seterusnya… seterusnya. Dan sesegera sejeli mungkin kumembuat perisai bersama karib setia di sekitarku. Terus, terus dan terus, walau peluh letih nian saya dan kawan-kawan tak peduli. Mencabut dan membuat perisai demi perisai satu persatu. Terus dan terus. Sebisa-bisanya. Dan sekuat tenaga.

“Dan maafkan, baru beberapa panah ini yang mampu kami cabut. Baru beberapa perisai ini yang sanggup kami buat. Itu pun terkadang perisai kami lemah dan remuk. Namun kami tak patah arang. Kami akan terus cabuti panah itu dan membuat perisai senantiasa. Semoga terus dan terus lahir generasi superhero pembuat perisai yang memiliki keberanian menangkis dan mencabut panah-panah yang lain yang masih berjumlah ratusan itu…,” kutahan-tahan air mata ini.

Dan…”Glonthanggggg……” suara gelas seng jatuh dari meja tersenggol kaki kucing kami yang molet dari tidurnya. Ah buyar lamunan cita-citaku. Btw, siapalah aku, siapalah kami yang GR dan PD mencabuti panah di tubuh Mbah Markesot. Ah… pantas saja anak-anak panah berhamburan menghujani badan Mbah Markesot. Karena Mbah Markesot cekoki mereka jamu Tahlil, Tauhid dan tenaga Takbir. Yang adalah cecap pahit bagi lidah dan hati mereka. Terlebih terdapat ayat-ayat gagah yang mengabarkan sebuah generasi kokoh pada Al-Maidah: 54. Sebuah generasi yang akan berdiri dan menjanjikan memperbaiki hal-hal yang terserak-serak ini. Inikah yang dimaksud Cak Nun sebagai ‘qoumun akhor’ di Daur I-104 tanggal 16 Mei 2016. Pasukan yang aku lamunkan tadi yang akan membuat perisai-perisai. Yang Allah anugerahi penuh cinta kepada Allah dan Allah pun mencintai mereka. Yang memiliki nyali untuk menuntaskan kemorsalan dan keruwetan di sekitar kita. Yang Allah elus-elus batinnya dalam Al-Insyiroh: 1-8. Yang semoga akan benar-benar terlahir.

Akhirnya

Pakde Tarmihim di akhir tulisan Daur ini mengajak kembali meng-Islami kembali hidup kita semua.

Inilah kekafahan yang sebenarnya. Menyeluruhi Islam dalam setiap aspek hidup. Menyelamatkan tiap jejak langkah hidup kita dalam segala-galanya. Dan Daur diakhiri dengan surat Ali-‘Imran: 19.

Bagi saya pribadi. Ini tulisan daur terpendek namun terlengkap secara multidimensionalnya. Tulisan ini menyosialkan sekaligus menauhidkan batin kita untuk senantiasa perkasa di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin tenggelam langkah moralnya. Saya tidak tahu apakah tadabbur saya akan Daur ini benar atau salah. Namun saya berkeyakinan bahwa perisai-perisai anak-anak Maiyah akan segera merajalela dan membentengi serangan-serangan.

Maiyah Cilik, Maiyah Ahibba (wanita) dan entah Maiyah remaja atau pasukan Maiyah atau Maiyah jenis entahlah apalah pasti segera melahir. Dan beranak pinak memenuhi telaga cahaya.

Amin.

Buku Cak Nun