Percikan Maiyah di Jagad Bocah

Maiyah itu seperti meja prasmanan yang amat luas. Kita bisa saja datang maiyahan mengambil menu sesuka hati untuk kepentinganmu. Kita bisa datang ke maiyahan membawa bungkus kosong kemudian kita isi bungkus kosong itu dengan macam-macam lauk pauk yang tersedia di meja prasmanan Maiyah. Bungkusan itu dapat berisi lauk poitik, lauk rumah tangga, lauk pendidikan, sup kepemimpinan, sayur lodeh perdagangan atau apapun saja.

Dalam bermaiyah kami mengisi bungkusan kami dengan menu pendidikan dan anak-anak menjadi sasaran suguhan bungkusan kami. Bagaimana anak menjadi subjek pendidikan, bagaimana cita-cita itu seharusnya, bagaimana untuk sibuk berbuat apa bukan menjadi apa. Bagaimana mencari apa yang benar bukan siapa yang benar, bagaimana untuk percaya diri dan bangga menjadi Indonesia dan lain-lain. Begitu antara lain menu yang kami bungkus.

Oleh karena itu kami membuat komunitas pendidikan anak yang kami beri nama “Jagad Bocah”. Kami berusaha membagi bungkusan kami dari maiyahan lalu kami masak dan bungkus ulang agar kompatibel dan proporsional untuk anak-anak.

Percikan-percikan Maiyah coba kami kembangkan pada kegiatan kami sebab bagi kami Maiyah bukanlah festival kata-kata. Bermaiyah bukan untuk adu gagah atau berakhir dengan instastory dan status bijak di laman media sosial. Bagi kami Maiyah adalah perbuatan. Jagad Bocah merupakan salah satu cara kami bermaiyah dalam bentuk yang lain.

Karena akan percuma jika setelah maiyahan kita masih seperti sebelumnya. Tidak ada perubahan yang fundamental di dalam diri pada cara berpikir dan sikap hidup kita ke arah yang lebih baik dan disukai Tuhan. Itu seperti kita menghadiri seminar anti korupsi namun setelah itu kita tetap korupsi.

Bagaimana Mbah Nun sering menunjukkan kegelisahannya mengenai tata kelola negara, ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dan budaya namun apa gunanya itu semua jika kami para Jannatul Maiyah tidak memadatkannya ke dalam sistem di pos-pos hidup kita masing-masing sesuai kemampuan kita.

Tidak, Mbah Nun tak boleh sendiri. Jamaah Maiyah adalah barisan shaf dengan rakaat yang amat panjang. Mbah Nun sebagai imam sudah banyak sekali memberi teladan. Apakah pantas jika kami tetap diam menyaksikan laju kehancuran? Apakah sebagai orang yang mengaku jamaah kami pantas datang maiyahan hanya untuk merepotkan dan menambah beban pikiran Mbah Nun seorang? Apakah kami sebagai jamaah dapat menjawab kegelisahan Mbah Nun atau justru mendorong laju kehancuran dan kebobrokan agar tetap berjalan?

Tulisan ini dimaksudkan sekadar untuk menyampaikan rasa terima kasih kami kepada Mbah Nun dan Ibu Novia Kolopaking sekeluarga, serta Syekh Nursamad Kamba, Cak Fuad, Umbu Landu Paranggi, dan seluruh Jannatul Maiyah seantero jagad raya. Terima kasih kepada Mbah Nun yang bersedia kami “rampok” waktunya untuk keliling menemani kami yang lemah dan bodoh ini. Dibanding berkumpul dengan keluarga mungkin Mbah Nun lebih banyak menghabiskan umurnya untuk berkumpul dengan kami. Maaf atas kelancangan kami.

Kami hanya tidak tahu kepada siapa lagi kami belajar kemurnian hidup, kami bingung kepada siapa kami berguru keutuhan diri, kami gagap menghadapi zaman yang kian edan, kami terperangkap gelap dalam mencari jalan menemukan Tuhan. Denganmu kami menemukan cahaya itu. Terima kasih Mbah Nun, terima kasih Maiyah.

Purwokerto, 25 Februari 2017

Maiyah itu seperti meja prasmanan yang amat luas. Kita bisa saja datang maiyahan mengambil menu sesuka hati untuk kepentinganmu. Kita bisa datang ke maiyahan membawa bungkus kosong kemudian kita isi bungkus kosong itu dengan macam-macam lauk pauk yang tersedia di meja prasmanan Maiyah. Bungkusan itu…