Penyakit Mental Ana Khairun Minhu

“Di antara para Mujahidin yang sangat mengharukan dan membesarkan dada itu”… “ada sekelompok anak-anak muda yang sangat merepotkan kehidupan di dunia dan menyusahkan orang Islam”

“Mereka ini menyebut Negara di mana mereka bekerja sebagai Negara Kafir, tetapi mereka makan nasi dan menerima gaji dari Bos-bos Kafir Perusahaan-perusahaan Kafir. Mereka mengabdi kepada majikan-majikan sambil mengafirkan mereka di belakang punggung”

“Sementara mereka selalu bersikap sangat sombong, bermulut kejam, dan tiap hari menyakiti hati sesama Muslim. Sejak dulu Kiai dan Ulama pengabdi Tuhan dan penyayang manusia berjuang menambah jumlah orang yang mengislamkan dirinya. Sementara jenis Kiai yang ini setiap hari ribut mengafirkan saudara- saudaranya sendiri sesama Muslim, serta sibuk mengurangi jumlah Kaum Muslimin, hanya karena berbeda pandangan dengan mereka.”  —Daur II-013Sombong, Kejam, dan Menyakiti.

Ana khairun minhu, saya lebih baik dari dia. Itulah respon iblis yang diabadikan Al-Qur`an ketika Tuhan menanyakan alasan mengapa ia tidak mau melaksanakan perintah, sujud hormat pada Adam. Iblis menambahkan, Khalaqtani min nar wa khalaqtahu min thin, “Engkau menciptakan aku dari api dan menciptakan dia hanya dari tanah” (Al-A’raf: 12). Iblis merasa diri lebih mulia karena asal penciptaannya.

Kesombongan iblis rupanya menjadi penyakit mental yang menulari anak cucu Adam. Pernyataan sikap ana khairun minhu ini sungguh mampu berdampak untuk saling menyakiti, saling membenci, saling menjatuhkan, hingga saling bunuh. Kejam!

Jika iblis merasa ana khairun minhu hanya karena asal penciptaannya, anak cucu Adam bisa lebih kompleks kesombongannya. Bukan sebatas nasab keturunan, tapi juga jabatan, status, profesi, hingga kelompok pergaulannya. Anak cucu Adam seakan lupa jika kanjeng nabi sudah mewanti-wanti dengan sabda, “Semua kalian berasal dari Adam, dan Adam (diciptakan) dari tanah. Tidak ada kelebihan orang Arab dari yang bukan Arab, kecuali karena takwa”  karena “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa” (Al-Hujurat: 13).

Ketika anak cucu Adam menginginkan jabatan dan “amanah sosial”, berbagai teknik ana khairun minhu digunakan untuk memengaruhi opini bahwa dialah yang lebih baik, paling baik, dan paling layak. Baliho, spanduk, brosur, stiker, iklan, dan berbagai macam teknik komunikasi massa digunakan untuk mempropagandakan ana khairun minhu-nya.

Anak cucu Adam yang berkuasa namun memiliki penyakit mental ana khairun minhu akan anti kritik dan hanya ingin dipuja. Ia tidak suka jika ada orang lain yang lebih unggul yang bisa menggantikan kedudukannya. Ia lalu menggunakan berbagai muslihat untuk tetap melanggengkan kekuasaanya.

Padahal dalam perjuangan meraih prestasi, kesejatiannya bukan pada menang kalahnya. Kesejatian ada pada laku perjuangan itu sendiri. Perjuangan adalah perjuangan. Sejarah tidak mencatat kemenangan atau kekalahan, tetapi perjuangan itu sendiri. Anak Adam tetap harus menunjukan prestasi terbaik dan produktivitas kerja. Tapi, berusaha menjadi yang terbaik berbeda dengan merasa yang paling baik. Berusaha menjadi yang terbaik adalah upaya positif, sedang merasa yang paling baik adalah kesombongan.

Daur ini ditutup agar pembaca mendalami makna Ali Imron: 159 “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka”, sebagai sindiran pada kita sebagai anak cucu Adam betapa kesombongan mampu menggerus nilai-nilai fitrah kemanusiaan. Laa ilaaha illaa anta subhaanaka innii kuntu minazh zhaalimiin. “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk diantara orang- orang yang berbuat aniaya.” (Doa Dzun Nuun, Al-Anbiya: 87). Wallahualam.

“Di antara para Mujahidin yang sangat mengharukan dan membesarkan dada itu”… “ada sekelompok anak-anak muda yang sangat merepotkan kehidupan di dunia dan…