Pengajian Tombo Ati Hotel Elmi

Orang-orang yang mencintai Cak Nun itu banyak. Tak hanya orang-orang kecil yang kerap menyapa dan salim sama  beliau di jalan, di warung, di bandara, terminal, stasiun, di kampung-kampung, atau di ketiak-ketiak derap pembangunan kota dengan segala kondisi dan upaya mereka buat bertahan hidup dan menghidupi keluarga mereka.

Tidak cuma para aktivis dan mahasiswa yang gelisah mencari formula diri di tengah lingkungan sosial yang mereka cemaskan pergeseran dan perkembangannya, sembari pada saat bersamaan membutuhkan wacana-wacana lain buat memahami politik dan keadaan negaranya, dan yang di balik wajah mereka tersimpan gairah akan perubahan Indonesia menuju lebih baik.

Tidak hanya orang-orang yang berduyun-duyun datang ke forum-forum beliau untuk minta nasihat, doa, dan upaya-upaya bagi pemecahan masalah yang dihadapinya. Atau anak-anak muda, yang kadang kurang jelas kerja dan penghidupannya, tapi mereka sungguh-sungguh dalam pencarian jati diri dan pemahaman akan makna agama sehingga membutuhkan sosok Cak Nun buat sejenak menemani mereka dan mereka mintai sedikit pemaknaan akan proses-proses yang mereka jalani.

Tetapi juga ada orang-orang yang luwih jelas (lan beres) uripe mbangane arek-arek… wkwkwk. Sebut saja misalnya Pak Imam Utomo yang saat itu adalah Gubernur Jawa Timur. Beliau sangat mencintai Cak Nun. Pada 1999, beliau beberapa kali datang ke Padhangmbulan ikut ngaji bersama ribuan jamaah yang membludak di rumah keluarga Cak Nun hingga ke jalan-jalan.

Karena cinta mendalam kepada Cak Nun dan sangat senang dengan  fenomenologisnya dan manfaat Padhangmbulan bagi masyarakat luas, khsususnya masyarakat Jawa Timur, maka beliau tak tahan untuk tidak urun sesuatu. Beliau ikut berpartisipasi dalam wujud memudahkan perjalanan jamaah dari berbagai daerah untuk lancar jalannya menuju desa Menturo.

Pak Gubernur Imam Utomo tidak sendirian sebenarnya. Ada sejumlah stakeholder yang juga seneng sama Cak Nun. Di antaranya, kalangan seniman atau kesenian di Surabaya dan orang-orang ICMI Jatim. Dan, khususnya Pak Imam Utomo, mereka pingin ngaji langsung secara spesifik kepada Cak Nun. Jan-jan-nya sih mungkin mereka sebenarnya pinginnya ya bisa duduk dan berlama-lama dengan Cak Nun. Itu sudah cukup bikin hati mereka tenteram dan damai. Tapi ya mosok cuma begitu.

Atas prakarsa dan dimotori oleh almarhum Pak Bambang Sujiono, penggerak kesenian Jawa Timur dan kolega dekat Cak Nun, dirintislah sebuah forum kecil pengajian di Surabaya dan mengambil tempat di Hotel Elmi. Di situlah Pak Imam Utomo dan beberapa tokoh lainnya hadir. Termasuk orang-orang DPRD Jatim. Kala itu kayaknya anggota dewan alih-alih mendengarkan kritik, malahan mereka mau ikut ngaji. Sedikit berbeda dengan anggota dewan pada suatu zaman yang bernama now.

Acaranya diberi nama Pengajian Tombo Ati. Karena relatif segmented dan terbatas pesertanya, maka format acaranya pun dibuat mirip kelas seminar, dengan topik-topik yang telah ditentukan sebelumnya. Narasumbernya tak lain adalah Cak Nun dan Cak Fuad. Hakikatnya sama seperti pengajian Padhangmbulan sebagai pengajian tafsir, di mana Cak Fuad membawakan tafsir tekstual dan Cak Nun tafsir kontekstual. Bahkan untuk pengajian di Hotel Elmi ini, secara khusus Cak Fuad menyiapkan makalah.

Dari beberapa makalah yang ada, terlihat pengajian ini pun sangat mendalam topiknya, di antaranya Dzikrullah (Mengingat Allah), Kebenaran (Al-Haqq), Al-Qur’an dan Reformasi, serta Mempelajari Al-Quran: Membaca Manusia dan Alam Semesta. Pengajian Tombo Ati di Hotel Elmi ini berlangsung 8 sampai 10 kali pertemuan pada tahun 1999 dan 2000. Di sela-sela kepadatan Cak Nun keliling ke berbagai daerah bersama Mini Kanjeng, sekretariat HAMAS (Himpunan Masyarakat Shalawat) menjadwal kehadiran Cak Nun di hotel Elmi ini.

Oh ya, sekadar tambahan buat kamu-kamu. Hotel Elmi Surabaya adalah salah satu tempat di mana dulu almarhum Gus Miek sering stay dan di situ beliau biasa menerima tamu-tamu dari kalangan elite buat minta nasihat, doa, dan suwuk. Tentu saja, Gus Miek mengenal baik Cak Nun dan memperlakukannya secara khusus. Tentang ini, saya pernah dengar cerita bahwa Gus Mieklah orang yang menceritakan kepada Gus Dur mengenai nasab Cak Nun. Tapi yang lebih asyik sebenarnya adalah sebutan Gus Miek kepada Cak Nun yang untuk alasan ketenangan medsosiyah tidak perlu disebut di sini.

Demikianlah, Tombo Ati bukan hanya mengilhami kalangan kesenian, bukan hanya melahirkan brand pengajian Cak Nun dan KiaiKanjeng saat itu di berbagai kesempatan dan tempat, tak hanya diterima di grass root dan menghiasi bak-bak truk, melainkan pada suatu rentang waktu pernah merambah ke hotel berbintang yaitu Hotel Elmi Surabaya.

Yogyakarta, 15 Februari 2018