Pengajian Kok Workshop

Sewaktu masih kecil, saya sering ikut Ayah menghadiri pengajian-pengajian (bukan liqa’). Biasanya memang kegiatan ini diselenggarakan pada momentum-momentum khusus seperti Maulid Nabi, Isra’ dan Mikraj, Tahun Baru 1 Muharram, dan Nuzulul Qur`an, yang lazim disingkat PHBI (Peringatan Hari Besar Islam). Yang merupakan acara inti adalah menyimak ceramah yang disampaikan oleh seorang Kyai (bukan ustadz).

Kyai yang oleh panitia diundang untuk berceramah ini biasanya dihadirkan dari daerah-daerah lain. Merupakan kesenangan tersendiri dapat mendengarkan ceramah Kyai yang kita belum pernah mendengarkan sebelumnya. Seringkali muncul hal-hal baru yang kita peroleh darinya. Bagi banyak jamaah, lebih menyenangkan dan digemari juga apabila Kyainya pandai melontarkan cerita yang mengundang selera humor dan enak didengar dalam berpidato, sehingga telinga dan pikiran tidak bosan mendengarkannya.

Atau, yang di kemudian hari saya sadari, saya suka memerhatikan bagaimana sang Kyai mengawali ceramahnya. Misalnya dengan jenis suaranya yang tebal, ceramah dimulai dengan mengucapkan bismillah, alhamdulillah, shalawat, dan seterusnya. Ini memang baku dalam penyampaian ceramah. Dan semua awalan itu berbahasa Arab. Nah, mengucapkan alhamdulillahnya nggak sebatas yang standar yaitu Alhamdulillahi robbil ‘alamin, tetapi alhamdulillahil ladzi…bla bla bla. Artinya, segala puji bagi Allah yang…bla bla bla. Cukup panjang kadangkala. Atau kalaulah tidak panjang, bisa saja dipakai kosakata dan kalimat yang pendek namun beda dengan yang umumnya kita dengar.

Sesudah kata alladzi, yang berarti ‘yang’ adalah ruang luas bagi sang Kyai untuk menggambarkan mengapa kita perlu memuji kepada Allah, dan lazimnya juga dikaitkan dengan momentum atau tema acara, tapi juga sekaligus ruang buat kita tahu betapa mahir sang Kyai menyusun kalimat dalam bahasa Arab. Terlihat jelas dari situ bahwa sang Kyai itu sudah advance menggeluti lekuk-lekuk ilmu agama di pondok pesantren. Dari perspektif tertentu, kemampuan menyusun awalan tadi juga diam-diam berfungsi sebagai momentum di mana sang Kyai secara tidak langsung menunjukkan legitimasinya sebagai da’i, muballigh, atau pembawa pesan keagamaan.

Kebanyakan, feature yang demikian itu saya temukan sebagai ciri khas Kyai-kyai atau muballigh di lingkaran Nahdhiyyin di daerah-daerah pada waktu itu. Saya pun membandingkannya dengan gaya penceramah atau ustadz dari lingkungan Muhammadiyah yang tentunya relatif punya sejumlah perbedaan. Yang dari NU hangat dan kaya gaya. Sebagai contoh, di tengah berceramah, tiba-tiba sang Kyai melantunkan ayat al-Qur`an dengan teknik mujawwad atau Qiroah ), sehingga memunculkan kejutan seni tersendiri yang merebut perhatian hadirin. Sementara itu, pengajian oleh ustadz Muhammadiyah cenderung disampaikan dalam gaya ilmiah, lempeng, dan bercorak kajian. Tentu kesan saya itu subjektif dan terbentuk oleh keterbatasan pengalaman saya.

Ingat KH Zainuddin MZ juga? Ceramah-ceramah Pak Zainuddin adalah satu model tersendiri dalam gaya intonasi maupun retorikanya. Saya juga pernah menghadiri pengajian umum yang diisi oleh KH Zainuddin MZ ini yang dulu tersohor dengan sebutan Da’i Sejuta Umat. Itu saya alami pada akhir tahun 1980-an. Itu semua sekadar gambaran mengenai pengajian-pengajian yang dekat dengan diri saya pada masa-masa kecil saya itu. Dan bagaiamanapun juga, pengajian umum adalah bagian dari wajah kultural dari umat Islam di Indonesia.

Situasi yang melekat dalam ingatan saya itu setting-nya adalah masa ketika belum banyak televisi swasta nasional. Jangan lagi youtube. Juga tivi-tivi lokal. Ketika televisi swasta nasional bermunculan, dan pengajian agama dimasukkan ke dalam salah satu mata acara atau program tivi, perkembangan dan pergeseran terjadi bila dilihat dari garis tradisi pengajian-pengajian yang berlangsung di masyarakat. Anda bisa mempelajari dan mencermati sendiri fenomena pengajian di tivi ini. Saya lompati saja, menuju pertanyaan.

Pertanyaannya, apakah Sinau Bareng itu pengajian? Saya yakin teman-teman akan mencoba mempelajari jawabannya. Satu hal yang sama-sama kita lihat bahwa fenomena Sinau Bareng ini bila diletakkan dalam kontinum pengajian yang sejak dulu sudah ada sebenarnya telah mendekonstruksi tradisi dan pola-pola yang ada. Yang paling awal dan sederhana ialah mengubah tradisi satu arah menuju tradisi dialog, obrolan, memperlajari bersama, sampai mengerucut pada nama yang lebih pas: Sinau Bareng.

Kekayaaan dan kelengkapan dimensi lainnya yang ada pada Sinau Bareng yang dilakukan Mbah Nun dan KiaiKanjeng teman-teman bisa melihat dan merasakannya langsung, dari pola komunikasi Mbah Nun, kekayaan musikal KiaiKanjeng, hingga bobot tematik yang dibahas, serta sub-sub fenomena lainnya.

Sinau Bareng bisa juga dianggap ‘bukan pengajian’, dengan gaya penjelasan seperti sepotong kisah dari teman kita di JTV Surabaya. Suatu ketika, setelah menyaksikan Sinau Bareng yang ditayangkan JTV, seorang pemirsa setengah mempertanyakan ke redaksi JTV, “Pengajian kok kayak gitu, Mas.” Mendapatkan pertanyaan ini, teman JTV itu dengan cerdas menjawab,”Lho itu memang bukan pengajian Pak, itu Menek Blimbing.” Menek Blimbing adalah nama tayangan Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng di JTV. Stasiun televisi lokal ini diberi izin Mbah Nun untuk merekam Sinau Bareng dan menayangkannya.

Jawaban itu juga bisa kita kembangkan untuk melihat sejumlah inovasi yang dilakukan Mbah Nun. Coba kita lihat, belakangan sering Mbah Nun meminta entah sepuluh hingga lima orang jamaah atau hadirin buat naik panggung dan diberi tugas untuk mendiskusikan pendapat dan pandangannya tentang suatu hal, biasanya topik Sinau Bareng saat itu. Mereka dikasih waktu 30-45 menit untuk berdiskusi secara kelompok. Nanti kalau sudah selesai mereka diberi kesempatan mengungkapkan hasil diskusi di depan semua jamaah.

Kita mencatat bahwa di tengah-tengah pengajian, secara kreatif Mbah Nun menciptakan sesi workshop ini. Tentu tidak mudah melakukannya. Dalam waktu singkat, mereka diminta berdiskusi. Ini artinya, Mbah Nun harus bisa memberikan pertanyaan dan arahan yang mudah dipahami partisipan. (Jangan lupa juga workshop Ta`dib). Selama mereka berworkshop, Mbah Nun dan KiaiKanjeng menjalankan menu lainnya. Mungkin musik, mungkin obrolan dengan narasumber lainnya. Dua pekerjaan berjalan sekaligus, di tempat yang sama, dan dalam satu keterkaitan.

Jadinya, mungkin ada yang bertanya, pengajian kok ada workshop segala. Lho, bukankah kita bisa merasakan pula bahwa sebenarnya Sinau Bareng ini aslinya memang satu bentuk workshop, workshop menghadapi masa depan, workshop menyimulasi respons atas tantangan-tantangan zaman, serta melatih adik-adik generasi muda merumuskan pendapat atau pandangan. Bu Sri Muslimatun, wakil bupati Sleman, yang hadir di Sinau Bareng di dusun Kenayan Wedomartani Sleman beberapa waktu lalu punya penangkapan yang jitu tentang kesempatan workshop atau diskusi kelompok yang diminta Mbah Nun kepada perwakilan jamaah atau hadirin. Mereka diminta merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan merti dusun, apa perlunya dan apa pula manfaat-manfaatnya. Setelah mendengarkan presentasi jubir masing-masing kelompok, Bu Sri Muslimatun bilang, “Workshop tadi melatih adik-adik, masyarakat, dan jamaah untuk mampu bermusyawarah dan bermufakat.”

Zaman memang mungkin sedang membutuhkan workshop, dan selama ini kita atau masyarakat kurang mendapatkannya.

Yogyakarta, 30 Juli 2018

Sewaktu masih kecil, saya sering ikut Ayah menghadiri pengajian-pengajian (bukan liqa’). Biasanya memang kegiatan ini diselenggarakan pada momentum-momentum khusus seperti Maulid Nabi, Isra’ dan Mikraj, Tahun Baru 1 Muharram, dan Nuzulul Qur`an, yang lazim disingkat PHBI (Peringatan Hari Besar…