Pendidikan dan Masyarakat yang Lupa Memperhatikan Trayek Perjalanan

Catatan Sinau Barng CNKK dalam Rangka HUT Korpri ke-47 di Kemendikbud, Jakarta, 19 Desember 2018

Rabu siang 19 Desember 2018, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Dr. Muhadjir Efendi mengundang semua pegawai Kemendikbud untuk berkumpul di Aula Gedung A kantor Kemendikbud di Jakarta untuk mengikuti Sinau Bareng bersama Cak Nun dan KiaiKanjeng dalam rangka memeringat Hari Ulang Tahun ke-47 KORPRI.

Para pegawai mulai memasuki venue saat KiaiKanjeng masih melakukan sound check.

Acara diawali dengan persembahan nomor shalawat bertajuk An-Nabi dan Shalawat Badar. Selepas itu, seluruh hadirin berdiri dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dalam format 3 stanza. Cak Nun secara khusus mengapresiasi dinyanyikannya lagu Indonesia Raya dalam 3 stanza itu. Diceritakan kepada mereka bahwa KiaiKanjeng sudah lama juga membawakan Indonesia Raya dalam 3 stanza dalam Sinau Bareng-Sinau Bareng. Dalam pandangan Cak Nun, bait-bait pada stanza kedua dan ketiga inilah yang penting untuk dimaknai yang selama ini justru bisa dikatakan tak pernah dilakukan.

Selalu ada hal menarik dari Cak Nun yang menggambarkan sensibilitasnya pada keperluan untuk memperbaharui dan memproporsionalkan sesuatu. Lantaran mendengar MC membuka acara dengan mengucapkan kalimat salam secara lengkap dari berbagai kepercayaan, pada bagian awal Cak Nun mengemukakan pendapatnya bahwa mengucapkan salam itu tidak harus diucapkan sesuai dengan susunan kalimat setiap kepercayaan. Kalau Anda adalah orang Islam ya ucapkan saja Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Ini bukan untuk efisiensi waktu semata, namun ucapan salam itu esensinya adalah bagaimana mewujudkan rahmat menjadi berkah.

Rahmat merupakan anugerah dari Allah yang diberikan kepada siapapun saja, tanpa batas, tanpa resisten, tanpa diskriminasi. Namun, tugas kita sebagai manusia selanjutnya adalah bagaimana agar mampu mentransformasikan rahmat itu untuk menjadi berkah sehingga melahirkan manfaat bagi kebaikan untuk sesama manusia dan juga makhluk hidup lainnya.

Diproyeksikan dalam konteks tugas Kemendikbud, Cak Nun menyampaikan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Indonesia memiliki peran sangat penting dalam mentransformasikan ilmu dan akal yang sudah diberikan oleh Allah, sehingga Kemendikbud menyusun langkah-langkah dan program-program agar rahmat Allah yang berupa ilmu tadi tertransformasi menjadi berkah bagi seluruh bangsa Indonesia.

Seperti halnya sholat, yang esensinya adalah hubungan sangat privat antara hamba dengan Allah, maka yang seharusnya diperlihatkan bukan seberapa rajin kita sholat, melainkan seberapa besar kita mampu mengelola sholat yang kita laksanakan untuk kita transformasikan menjadi bukan hanya sekadar tanha ‘ani-l-fakhsya’I wa-l-munkar, melainkan juga menjadi manfaat yang baik bagi sesama makhluk hidup di dunia.

Jika positioning tersebut belum mampu kita bangun dalam diri kita, jangan heran bila kita menjumpai fenomena di mana ibadah yang sifatnya privat dan sangat personal itu justru kerap ditunjukkan kepada semua orang. Celakanya, ini mengakibatkan kita selalu memandang segala sesuatu dari sudut materialistik (yang tampak mata) semata. Ada perumpamaan bagus dari Cak Nun tentang hal ini dari dunia transportasi. Ketika kita akan bepergian ke sebuah kota dengan menggunakan bus, misalnya, maka kita biasanya tidak merasa perlu mengenal dengan baik siapa supirnya. Pokoknya kita percaya saja bahwa bus yang kita naiki akan mengantarkan kita ke tempat tujuan yang akan kita tuju. Seperti itulah kognisi dan keyakinan kita selama ini bekerja.

Bagaimana jika perumpamaan naik bus itu kita pakai membaca Pilpres 2019? Bagi Cak Nun tampak jelas bahwa kebanyakan kita justru sibuk meributkan siapa calon presiden dan wakil presidennya. Yang diributkan justru sosok supir bus yang akan mengantarkan kita, yakni sisi personal calon Supir Bus Indonesia. Sangat sedikit yang berdiskusi bagaimana calon supir bus Indonesia itu akan mampu mengendalikan bus, kemudian apa saja yang ditawarkan untuk mengantarkan rakyat Indonesia ke ke kota tujuan atau masa depan, atau setidaknya dalam 5 tahun mendatang, apa saja yang direncanakan oleh para kandidat sopir tersebut. Sangat sedikit yang mencari tahu apa yang akan ia lakukan. Pada akhirnya kita terjebak pada kultus individu, karena yang diperbincangkan selalu sisi personal sosok tokoh yang didukung.

Buku Cak Nun