Pemuda-Pemuda Pecinta Keabadian

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Sundoluhur, Kayen, Pati, 3 Juli 2018

“Perjalanan Mbah Nun dari ruang transit menuju panggung ibarat kapal memecah ombak. Kerumunan ribuan orang sudah terhampar ketika mobil yang membawa Mbah Nun tiba di rumah salah satu panitia. Jajaran Banser dan panitia pun berpikir keras bagaimana mengantar Mbah Nun menuju pangggung.”

“Ada dua solusi yang dirembuk. Pertama, dengan jalan kaki. Kedua, dengan membawa mobil. Tantangan yang jadi pertimbangan sangat jelas. Kerumunan orang begitu banyak akan membuat Banser dan panitia kesulitan melakukan pengawalan. Sementara itu tidak bisa dielakkan ribuan jamaah akan meminta salaman. Mbah Nun akan kesulitan melayaninya semua. Serta Banser dan panitia bisa kewalahan. Sedangkan kalau mobil, kerumunan orang yang lesehan sangat sulit dibelah. Akhirnya demi melayani jamaah dan semuanya tetapi dengan tetap mempertimbangkan kenyamanan dan kelancaran, solusi pertama yang diambil. Tentu dengan konsekuensi proses jalannya pelan, dan dikabarkan tim beserta teman-teman yang mengawal benar-benar kemringat saking banyaknya orang yang mendekat kepada Mbah Nun dan hendak bersalaman.”

Rekan kita dari Gambang Syafaat, Muhammad Yunan Setiawan, melaporkan secara langsung dari Desa Sundoluhur Kayen Pati tempat digelarnya Sinau Bareng malam ini.

Sesampai di panggung setelah diantar pengawalan yang harus penuh kesabaran itu, dan terutama kemudian karena melihat antusiasme ribuan jamaah yang menghadiri Sinau Bareng dalam rangka Halal Bihalal yang diprakarsai para pemuda desa Sundoluhur ini, Mbah Nun mengatakan,”Jangan salah niat. Ini bukan karena saya siapa-siapa. Ini karena anak pemuda sekarang senang dengan keabadian.”

Oleh Mbah Nun, keabadian diibaratkan seperti kita dan nasi. Kalau kita makan nasi, kita akan merasakan kenyang. Dan, rasanya kenyang itu cuma sehari. Tapi, kalau kita memberikan nasi kepada orang lain, kita akan merasakan pahala itu selamanya.

Saya langsung mencatat. Anak muda dan keabadian. Itu dua hal yang mengejutkan dari pernyataan Mbah Nun tadi. Jarang kita menyandingkan anak muda dengan keabadian. Biasanya anak muda ya identik dengan kebebasan, gairah mencari jati diri, kenikmatan berekspresi, gaya hidup, aktivisme atau apa lagi, yang itu tidak mesti bernada minor tentunya. Atau citra-citra lainnya. Tetapi, menyebut anak muda dan keabadian dalam satu tarikan napas itu lompatan yang tak biasa.

Terbayang andai Prof. Asef Bayat, sosiolog terkemuka kelahiran Iran yang kini mengajar di Departemen Sosiologi Universitas Illinois Urbana-Champaign Amerika Serikat datang ke Sinau Bareng di desa Sundoluhur ini. Dalam kajian keislaman kontemporer, dia terbilang punya banyak temuan karena mahir meramu unit-unit sosiologis kontemporer yang selama ini kurang mendapat perhatian, dan menjadikannya sebagai variabel dalam memotret dunia Timur Tengah dan Islam masa kini, serta menemukan bagaimana anak-anak muda urban di kota-kota seperti Kairo dan Teheran punya peran dalam mengubah wajah Timur Tengah. Unit-unit yang selama ini “diam, sunyi, tak dibaca, dan dilihat” menjadi berbicara di tangannya. Ia menulis buku salah satunya Life As Politics: How Ordinary People Change the Middle East.

Kalau dia hadir di desa ini dan menatap anak-anak muda Sundoluhur yang menggelar Sinau Bareng ini, rasanya Ia akan punya serapan dan temuan yang unik melihat fenomena anak-anak muda ini yang juga merupakan bagian dari umat Islam dengan background: desa, bukan urban, Indonesia, berekspresi, berbuat, dan seperti kata Mbah Nun punya orientasi pada keabadian.

Kalau Ia berkesempatan datang, dia pun akan bisa menyaksikan fenomena-fenomena visual yang lain dari yang pernah dijumpainya di Timur Tengah, di antaranya hadirin yang rela duduk di sela-sela pepohonan pisang di belakang panggung. Belum nanti di akhir acara: deretan panjang jabat tangan dengan berbagai macam ekspresi dan nuansanya. Juga, mereka yang mengikuti acara ini dari atas atap rumah-rumah. Dan masih banyak lagi. Kiranya beliau akan menemukan gairah baru karena tertantang menyingkap makna-makna di balik Sinau Bareng sebagai fenomena baru keislaman.

Dalam hal generasi muda: tak hanya kaum muda urban, ada kaum muda di desa-desa dengan segala kiprah dan perjuangannya…(Helmi M)

“Perjalanan Mbah Nun dari ruang transit menuju panggung ibarat kapal memecah ombak. Kerumunan ribuan orang sudah terhampar ketika mobil yang membawa Mbah Nun tiba di rumah salah satu panitia. Jajaran Banser dan panitia pun berpikir keras bagaimana mengantar Mbah Nun menuju pangggung.” “Ada dua…