Pemuda adalah Kunci

Liputan Sinau Bareng CNKK di Dusun Petis, Duduk Sampeyan, Gresik, 19 Juli 2018

Memasuki jalanan Dusun Petis sore tadi, pandangan saya disambut oleh spanduk acara bertajuk “Pemuda & Warga Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng”. Umbul-umbul berbaris di tepian jalan, berkibar-kibar tersapu angin kencang kawasan tambak.

Orang-orang duduk-duduk di teras rumah dan di warung kopi, bercengkrama memancarkan binar wajah ayem, mèsem. Anak-anak berlarian di tengah lapangan, sebagian mulai membeli jajanan para pedagang. Makam dusun di tepi barat jalan, juga ramai peziarah. Seolah yang sedang bersemayam di alam kubur pun diajak serta menghirup atmosfer kebahagiaan. Segenap warga dusun ini sedang punya gawe. Tua, muda, kecil, dewasa, tanpa kecuali, seluruhnya terlihat menjadi bagian dari–dan pemilik atas–hajat tahunan ini.

Sejak pertama kali melihat poster acara di media sosial, di benak saya lahir tanda tanya. Ada apa gerangan sehingga panitia memilih diksi “pemuda” untuk disandingkan dengan “warga”. Sore tadi juga, terjawab sudah. Saya hitung setidaknya ada lima tempat parkir tersedia, dan masing-masing dijaga oleh para pemuda.

Di salah satu gang, sedang dilakukan sterilisasi area oleh para pemuda. Para pedagang yang baru tiba di lapangan, diarahkan dan ditata agar rapi posisinya, oleh para pemuda. Instalasi listrik sekitar tepi lapangan, dilakukan oleh para pemuda. Menjelang maghrib, area depan panggung juga disterilkan dari lalu lalang pengunjung, oleh para pemuda. Jika Anda tadi turut hadir di lokasi, Anda akan mendapati pemandangan ratusan seragam biru bertuliskan “Putune Buyut Pupon” ke sana kemari sibuk ini itu, yang dikenakan oleh para pemuda.

Saya sempat berbincang dengan salah seorang warga. Saya taksir beliau seumuran bapak saya, sekitar 60 tahun. “Iki acarane arek-arek enom, Mas. Kabeh ditandangi arek-arek. Sing tuwek kari nyawang lan ndunga,” tuturnya.

Erwin (27 tahun), pemuda Dusun Petis yang turut menjaga “area steril” sempat saya ajak ngobrol. Ia mengaku bahwa acara Haul Sesepuh tahun ini luar biasa, paling besar dibanding tahun-tahun sebelumnya. Hari ini ia izin tidak masuk kerja. Sejak pagi bersama kawan-kawannya ia tandang gawe di lapangan menyiapkan acara.

Malam ini, sebagaimana acara maiyahan di mana-mana, kita akan menyaksikan lapangan Dusun Petis menjadi lautan manusia, yang mayoritas adalah pemuda. Dan Mbah Nun senantiasa setia me-ngemong mereka.

Memasuki jalanan Dusun Petis sore tadi, pandangan saya disambut oleh spanduk acara bertajuk “Pemuda & Warga Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng”. Umbul-umbul berbaris di tepian jalan, berkibar-kibar tersapu angin kencang kawasan tambak. Orang-orang duduk-duduk di teras rumah dan di warung kopi…