Pelak Pelok

Mukadimah Lingkar Daulat Malaya Maret 2018

Ketika orang membaca atau mendengar kata PELAK yang berasal dari bahasa Sunda akan spontan terbesit makna menanam. Entah itu menanam bibit pohon, buah-buahan ataupun menanam sayuran.

Ada juga celetukan PELAK menjadi PELAKOR (PErebut peLAKan ORang),  tanaman yang sudah dipelak orang lain diambil. Entah cara menanamnya yang diambil (ditiru) atau bibitnya yang malah diambil, atau bahkan hasil dari pelakannya yang diambil. Bahkan ada yang mendefinisikan dengan PELAK-’CHORD’, menanam adalah sebagai kunci. Kunci dalam bersekolah bagi siswa, kunci dalam berkuliah bagi mahasiswa, kunci dalam bekerja, berdiskusi, silaturahmi dan kunci-kunci lainnya dalam menjalani setiap jengkal kehidupan.

Sementara PELOK adalah biji buah mangga. Sisa makanan yang kebanyakan oleh orang-orang dianggap hina, bernilai rendah, menjijikkan dan layak untuk dibuang. Ada juga yang mengartikan PELOK sebagai biji kebaikan, sehingga buah mangga ada dan bisa dinikmati rasa manisnya oleh siapapun sampai saat ini karena berasal dari biji mangga.

PELAK PELOK adalah menanam biji buah mangga, menanam sisa makanan yang dianggap menjijikan, menanam kebaikan dan karena bahan dasar manusia yaitu fitrah, sifat asal untuk berbuat baik. Maka sebejat-bejatnya seorang pencuri misalnya, ketika menyaksikan kelahiran anak pertamanya,  naluri sebagai ayah akan keluar dan seorang ayah akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Minimal tidak akan membiarkan sang anak berbuat keburukan seperti yang ayahnya lakukan.

Ada juga yang mengira bahwa PELAK PELOK adalah PALAHAK POLOHOK (terbengong bengong, terkesima, takjub, dsbnya). Setelah memakan manisnya buah mangga dan tinggal bijinya, orang-orang ini kemudian terdorong untuk memperhatikan, memaknai, mentadabburi biji buah mangga. Tidak merendahkan, tidak menganggap hina sebab berkesadaran bahwa segala hal yang diciptakan Allah itu tidak ada yang sia sia.

Orang-orang ini berusaha memposisikan benda sesuai presisi. Seperti emas dan batu, hanya karena emas lebih mahal secara materi tidak dikatakan lebih bernilai daripada batu. Karena emas bernilai ketika dibuat menjadi perhiasan (cincin, kalung, gelang, dll), tapi tidak menjadi bernilai dan tidak layak ketika emas dijadikan pondasi untuk membangun rumah.

Simbah Emha Ainun Nadjib dalam tulisan-tulisannya berulangkali saling mengingatkan dengan daya kepengasuhan beliau tentang PELOK. Misalkan Daur-15 Maiyah lil ‘Alamin:

Tidak tega hati saya selama 2 minggu ini. Anak cucu di maiyahan saya kasih pelok (biji), padahal ternyata mereka masih belum merdeka dari kebiasaan makan buah mangga manis dari saya. Selusin lebih saya kasih tulisan-tulisan yang bersifat biji pelok dan bukan untuk dikonsumsi sebagai makanan, melainkan untuk ditanam dan menunggu waktu tidak sebentar untuk berbuah pada diri mereka masing-masing.”

Di Maiyah, semula Simbah menyajikan buah mangga siap santap di piring, boleh dikonsumsi oleh siapapun, diambil kapanpun dan sebanyak apapun. Namun Simbah menyadari betul bahwa mangga manis yang tersaji itu akan habis dan hanya membuat kenyang sesaat. Sehingga Simbah dengan cinta-kasih-sayangnya perlahan memberi pengertian dan memberi pelok kepada anak cucu sebagai pengganti buah mangga.

Pelok yang tanahnya diolah kemudian baru peloknya ditanam, disiram, dipupuk, dijaga dari hama-hama, dirawat dengan suka cita hingga tumbuh-besar dan menghasilkan buah manga dengan daya kesabaran, keikhlasan dan rasa syukur dalam menjalankannya.

Barangkali seringkali timbul pertanyaan, bijinya ada di mana? Apakah bijinya sudah ditanam? Atau malah sama sekali belum ditemukan? Belum tau mau mengambil bijinya dari mana? Atau bahkan tidak tahu sama sekali biji itu yang mana?

Seperti halnya kita di majelisan ini. Perlu kita renungkan, tata kelola dan tegaskan kembali atas perjalanan panjang kita ke depan dan peristiwa lalu panjang kita di belakang. Di mana ‘biji biji’ (tema sajian sinau bareng) yang sudah kita lalui, dapatkan, ambil dan atau sudah kita tanam jauh-jauh sebelumnya? Masih konsistenkah kita rawat, kita sirami, kita asuh, kita jaga sebaik baiknya? Malah, bisa jadi terlalu banyak biji menumpuk, tapi tidak disemai apalagi ditanam dan dirawat berkelanjutan? Ataukah malah kita kepincut dengan ‘biji biji’ yang lain?

Jika memang sudah ditanam, apakah sudah dirawat dengan baik? Jika sudah dirawat dengan baik, apakah ingin segera menikmati panennya?