Pasukan Bayangan Sunyi dan Para Pejuang Silaturrahim

Liputan Sinau Bareng CNKK dan BKKBN di Ponorogo, 28 November 2018

Mobil yang membawa peralatan musik KiaiKanjeng tiba di alun-alun Kabupaten Ponorogo, ketika shalawat Tarhim berkumandang dari masjid jami’ Kabupaten Ponorogo, menandakan subuh akan segera menyusul. Di seberang alun-alun, kantor Pemkab Ponorogo menjulang, tampak sepi. Dan lantunan shalawat disusul dentaman adzan dari berbagai arah, subuh seperti ini selalu indah.

Rombongan KiaiKanjeng sendiri tiba di lokasi pada siang hari, menjelang sore. Udara sedikit gerah, namun semakin sore awan semakin mendung. Ba’da Ashar segala persiapan teknis telah siaga, beberapa kekurangan masih disempurnakan. Mas Yudis siaga memperhatikan, mengawasi dan mengontrol segala kelengkapan teknis. Pak Erfan, Mas Awi dan Mas Pentil pada wilayah sound. Orang-orang ini ditambah, Mas Alay, Mas Agus, Mas Adin, dan semuanya yang tidak bisa disebutkan satu-satu adalah yang sangat bertanggung jawab pada kelangsungan serta kelancaran teknis Sinau Bareng.

Tentu pembaca yang budiman tidak luput memperhatikan, bahwa di balik kemesraan Sinau Bareng ada mereka, yang bolehlah kita sebut “pasukan bayangan sunyi”. Entah mungkin istilah ini cuma untuk mempuitis-puitiskan liputan.

Soundcheck KiaiKanjeng selalu adalah peristiwa sendiri. Alun-alun Ponorogo yang semarak (nama Alun-alun ditulis dengan masih menggunakan ejaan Hindia-Belanda: Aloon-Aloon) seperti berbinar-binar. Bahwa akan ada acara Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, sudah jadi bahan obrolan di warung-warung, di antara tukang parkir dan juga di masjid. Antusiasme itu jelas terasa. Mungkin tulisan belum tentu bisa menuangkannya, tapi itu hal yang sangat terasa.

Sajian Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng di Alun-Alun Ponorogo pada malam tanggal 28 November 2018 M ini adalah termasuk dalam rangkaian perjalanan Sinau Bareng yang diinisiatifi oleh BKKBN.

Rangkaian yang bermula sejak Sinau Bareng di Sidoarjo, kemudian Sukoharjo dan Grobogan dan masih berlanjut di Surabaya lusa. Bisakah kita persepsikan bahwa konsep keluarga, kekeluargaan, kemesraan dan kebersamaan yang selalu diusung dalam sajian Maiyah ternyata sangat dibutuhkan juga oleh instansi BKKBN yang secara wilayah organisasi bernama negara, paling bertugas menjaga keharmonisan keluarga masyarakat?

Itu secara organisasi tentu, dan secara ketatanegaraan, negaranya bisa apa saja, berganti sistem, berganti konstitusi. Tapi secara substansi kita semua pasti juga adalah pejuang keluarga, wabilkhususon JM. Saya sering mendengar bahwa JM di mana-mana dalam wilayah dan koordinat maqomnya masing-masing selalu punya ciri khas sebagai penyambung tali silaturrahim, laskar pejuang silaturrahim. Bisa kita sebut begitu? Karena sekarang ini, jarang ada yang mengambil peran demikian. Selain silaturrahim hanya bersama yang satu golongan dan satu kubu atau satu kepentingan. Padahal jejaring silaturrahim, kuatnya mestilah melebihi kesetujuan maupun ketidaksetujuan. Peran ini yang rasanya sering diambil oleh para JM, walau tidak perlu dieksklusifkan juga. Ini hanya pembacaan pola.

Sementara menuliskan ini saya sedang mencari beberapa pihak dari BKKBN untuk saya tanyai, mengenai keterkaitan konsep keluarga di BKKBN dengan Sinau Bareng. Maka laporan singkat ini, semoga cukup untuk sementara waktu. Kita akan lanjutkan pada kemesraan-kemesraan di depan.

Lainnya

Karanganyar Menyambut Tahun Baru 2020

Macan Muria Sinau Bareng

Bertelanjang Dada di Panggung KiaiKanjeng

Sinau Bareng Masyarakat Purwokerto

Buku dan Merchandise