Paseduluran Padhangmbulan: Semua Harus Dicatat, Semua Dapat Tempat

Catatan Majelis Ilmu Padhangmbulan Jombang, 30 April 2018

Mbah Nun tidak hadir secara kasat mata di Padhangmbulan. Beliau berada di Johor bertemu sedulur Persaudaraan Setia Hati Teratai (PSHT). Hal itu menjadi semacam ujian kesetiaan bagi jamaah. Malam itu halaman pengajian dipadati oleh jamaah yang nyaris tidak bergerak. Mereka setia dan menyetiai niat mereka sendiri saat menghadiri majelis ilmu.

Teman-teman penggerak simpul di setiap kota Jawa Timur hadir. Dipandu Mas Amin dan Mas Hari, para penggerak simpul menyapa sedulur Maiyah. Sesi ini semakin meneguhkan paseduluran antar jamaah. Ternyata, kita memiliki banyak sekali saudara yang tersebar di berbagai kota. Paribasane kesasar dalan kita tidak perlu cemas. Sedulur Maiyah membuka pintu persaudaraan secara tulus.

Terkait paseduluran itu Cak Dil menggambarkannya secara indah. Ketika dunia semakin gersang, gerah dan panas, Maiyah ibarat pohon yang rindang. Setiap manusia, siapa saja, apa saja, boleh berteduh di bawahnya. Bukan hanya ngiyup—mereka melangsungkan persaudaraan kemanusiaan dunia akhirat.   

Saya jadi teringat pesan Mbah Nun pada pengajian Padhangmbulan bulan lalu. Selain jamaah yang hadir di Maiyahan, cukup banyak pula jamaah yang tidak kelihatan sehingga keberadaan mereka jangan dianggap tidak ada. Yang tidak kelihatan—dan jumlah mereka pasti lebih banyak dan lebih berpengaruh—bukan berarti mereka lenyap begitu saja. Menyadari yang tidak kelihatan ini mendorong kita bersikap lebih rendah hati.

Bagaimana sikap rendah hati memengaruhi kesungguhan dan kesetiaan kita?

Jawabannya tampak jelas pada militansi jamaah pengajian Padhangmbulan yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban itu. Kyai Muzamil menegaskan, Mbah Nun memang tidak hadir secara kasat mata. Namun, yang kasat mata itu jangan menjadi satu-satunya kesimpulan. Yang tidak tampak perlu disadari. Secara tidak kasat mata Mbah Nun tetap hadir.

Tidak perlu diseram-seramkan. Kalau memakai cara berpikir Indonesia, pernyataan Kyai Muzamil tersebut sudah dijadikan komoditas yang empuk untuk dikunyah. Diolah sedemikian rupa menjadi kuda tunggangan, baik untuk kepentingan citra pribadi maupun atas nama membela agama Allah.

Kita tengah hidup di tengah atmosfer wacana memitoskan dan mengklenikkan yang tidak kasat mata, atau bahkan yang Mbah Nun oriented, tanpa kewaspadaan konteks yang akurat. Selera mitologi khas manusia Indonesia yang kian mabuk menjelang tahun “goro-goro.”

Alhamdulillah-nya, Maiyah tidak ditegakkan oleh reruntuhan selera itu. Mengapa? Kita mencatat setiap fakta, mendokumentasikan setiap kegiatan, menata kembali arsip lembaran-lembaran sejarah. Distorsi informasi dan syubhat sejarah kita atasi dengan ketekunan mencatat dan menulis rekaman kejadian.

Malam itu kita mencatat tiga benih surat dari Al-Quran yang disampaikan Cak Fuad: surat Al-Baqarah: 194, Asy-Syuro: 40 dan An-Nahl: 126. Ketiga surat tersebut memandu bagaimana seharusnya kita bersikap di tengah gelombang dikotomi yang membelah bangsa Indonesia. Dalam kasus penghinaan agama misalnya, selalu terbentuk dua kubu yang berseberangan. Satu kubu bersikap memaafkan. Kubu satunya bersikap menghakimi.

Prinsip yang ditegakkan oleh ketiga surat tersebut adalah kalau kita diserang boleh balas menyerang. Kalau diperangi boleh balas memerangi. Balasan atas kejahatan adalah balasan yang serupa. Namun, Cak Fuad menekankan sikap membalas itu harus benar-benar seimbang. Akurat. Pas. Tidak lebih tidak kurang.

Akan lebih baik dan mulia apabila kita tidak balik membalas melainkan bersabar dan memaafkan. Janji yang diberikan Allah pun dikemas dalam struktur kalimat yang dahsyat: fa ajruhuu ‘alallah. Pahala sikap memaafkan itu menjadi tanggungan Allah. Artinya, Dia sendiri yang akan turun tangan melunasi pahala kemuliaan itu.

Seimbang dalam bersikap adalah inti dari kandungan al-silmu. Kita tengok bagaimana sikap kaum Yahudi yang tidak kenal kompromi. Kalau ada yang menyerang harus balik diserang. Berlawanan dengan sikap lemah lembut kaum Nasrani yang melarang agar tidak balik menampar. Kalau perlu sodorkan pipi kirimu.

Al-Qur’an berdiri tegak di tengah-tengah. Membalas perlakuan secara seimbang adalah timbangan yang adil. Namun, bersabar dan memaafkan adalah akhlak mulia di hadapan Allah.

Sayangnya, membela agama Allah kerap keluar dari konteks, demikian ungkap Kyai Muzamil. Sikap keras membalas walaupun demi dan mengatasnamakan membela Allah, kalau dicermati, ternyata akibat dari keberpihakan yang ciut, cekak dan cethèk.

Bagaimana ini? Allah sering disadari sebagai satu pihak sendiri, sedangkan para pembela berdiri sebagai pihak yang lain. Pembela ada di bumi dan Allah ada di sana. Mereka berjarak dengan Allah sehingga pembelaan yang diteriakkan adalah pembelaan yang memadat.

Kita tidak bisa menyederhanakan persoalan tersebut sebatas permasalahan akidah. Lantas apa? Hulu dan hilirnya akan kembali pada persoalan berpikir yang tidak jangkep dan tidak utuh. Terbentuknya padatan-padatan yang mudah terbelah dan saling bertabrakan adalah konsekuensi yang lumrah.

Gamblang sudah, hingga urusan sebiji kata pun memantik pro dan kontra, memicu debat benar dan salah. Kontroversi ini belum ada apa-apanya bila dibandingkan dengan pernyataan orang Yahudi. “Aku benci Al-Haqq,” katanya. “Aku menyenangi fitnah (al-fitnatu). Aku shalat (ushalli) tanpa berwudlu terlebih dahulu. Aku memiliki sesuatu yang Allah tidak memilikinya.”

Kalau orang itu hidup di Indonesia mungkin akan diangkat jadi duta kerukunan antar umat beragama. Beruntung ia bertemu dengan Sayyidina Ali yang menyelamatkannya dari pedang Umar bin Khattab.

“Al Haqq bisa berarti kematian,” ujar Ali. “Wajar dia membenci kematian karena dia menyukai kehidupan dunia. Tidak heran ketika suka dunia dia menggemari al-fitnatu. Bukankah anak dan istri adalah fitnah? Jangan marah kalau dia shalat tanpa berwudlu. Sebab ushalli bisa berarti aku membaca shalawat kepada Nabi. Membaca shalawat tidak harus berwudlu terlebih dahulu. Lalu, dia memiliki sesuatu yang Allah tidak memilikinya. Apakah itu? Dia memiliki anak dan Allah mustahil memilikinya.”

Semua harus dicatat, semua dapat tempat, kata Chairil Anwar. Getar Paseduluran Padangmbulan harus dicatat oleh pena kita masing-masing. Semua dapat tempat di rindang pepohonan Maiyah.[]