Paralelisme Cinta Shalawat

Catatan Diskusi Sewelasan Perpustakaan EAN, 11 Desember 2018

Mesranya cinta segitiga antara Allah, Muhammad SAW dan manusia. Tentu ini pemahaman yang sudah akrab bagi telinga jamaah Maiyah, tapi bagaimana kita mengaplikasikannya itu adalah tantangan sendiri-sendiri. Apakah shalawatan sekadar membacakan lirik-lirik bernada pujian terhadap kekasih? Apakah mesti dengan perbuatan? Atau itu dua-duanya bukan pilihan oposisi biner hitam-putih?

Mbah Nun dan KiaiKanjeng sedang berada di Pati pagi harinya, ada poin yang sebenarnya sangat mengena soal shalawatan yang disampaikan Mbah Nun pada sore hari di SMK Tunas Harapan, sayangnya saya koq lupa memasukkannya dalam reportase. Mungkin memang jodohnya poin.itu untuk dimasukkan pada reportase Diskusi Sewelasan. Karena rupanya, pada disksui Sewelasan hal ini menjadi pembahasan yang cukup hangat, baik antara dua pembicara yakni Mbak Rima Olivia yang juga menulis buku Solusi Segitiga Cinta dan Mas Fauzi yang kiprahnya sudah malang melintang di dunia persilatan itu, maksud saya ayolah Anda pasti minimal pernah singgah ke lapak merchandise Mas Fauzi kan di majelis-majelis Maiyahan? Juga ini menjadi bahasan yang menghidupkan suasana diskusi di antara para peserta, bahkan ketika acara sudah selesai, para peserta tidak langsung meninggalkan lantai dua Perpustakaan EAN, masih banyak hal yang didiskusikan. Sementara itu, apa poin yang dibabar oleh Mbah Nun yang rupanya saya dapatkan jadi bahasan hangat di Diskusi Sewelasan kali ini? Sederhananya, Mbah Nun sempat mengolah diskusi di sana dengan bertanya pada para siswa-siswi “Apakah shalawat hanya syair-syair yang kita kenal ini? Apakah boleh shalawatan dengan bahasa sendiri? Apakah boleh kita membuat shalawat kita sendiri?” dan semacam itu, intinya soal ekspresi cinta pada kanjeng Nabi. Rata-rata siswa yang hadir di Pati sore itu berpendapat bahwa shalawatan itu ya bisa sebebas-bebasnya seluas-luasnya karena dia adalah ekspresi rasa.

“Aku hanya ingin bercinta dengan kamu sendiri tak perlu si anu si itu, harus gini mesti gitu” lirik lagu “Ningrat” band Jamrud itu, sedang mengalun di Syini Kopi saat saya sedang menyelesaikan beberapa poin dalam reportase ini. Bahkan lirik trash metal Jamrud bisa menjadi terasa spiritual kalau memang kondisi kita sedang cocok, bukan begitu? Nah shalawatan itu mungkin seperti itu, bisa kita lakukan dengan khusyuk petapa, bisa bebarengan, bisa sambil masak, bisa sambil menulis, bisa juga dengan cara-cara yang entah bagaimana kita buat. Tentu dengan etika yang tidak berlebihan jatuh pada pengagungan berlebihan, tidak jatuh pada fenomena apotheosis kalau memakai istilah seni renaissance. Sejak seni apotheosis itu sebenarnya wacana pen-santoan, mistifikasi sosok menjadi marak dan kemungkinan diserap oleh budaya Islam dalam spiritualitas sufistik yang diformalkan menjelma menjadi mistifikasi wali-wali.

Malam tanggal sebelas itu, tentu tidak ada janjian anatara Perpus EAN dengan KiaiKanjeng, tapi mungkin ada hubungan paralel. Dan kalau boleh otak saya yang terbatas ini simpulkan, shalawatan adalah hubungan paralel segitiga itu juga. Walau tak terkatakan secara bahasa, malam itu saya menyimpulkan hal tersebut. Bisa saja hubungan paralel terjadi tapi kognisi manusia tidak menyadari bahwa hubungan itu sedang terjadi, manusia punya alam bawah sadar. Poin seperti itu dibabar oleh Mbak Rima yang sudah kedua kali ini menjadi pembabar bahasan di Diskusi Sewelasan. Mbak Rima diawal sempat menyampaikan “Agak grogi ya membahas shalawat di tempat yang seperti rumahnya sholawatan” maksudnya ya karena ini di Perpus EAN, di Rumah Maiyah, di jalan Barokah dan (saya sudah sering menulis ini tapi belum bosan) tetangganya NKRI. Mbak Rima yang seorang konselor psikologi, banyak mengambil terapi dari shalawatan.

Sedangkan Mas Fauzi menyeimbangkan bahasan dengan pengalaman beliau yang karib dengan kultur sholawatan sejak masa kecil. Itu membuat referensi sholawatan yang dibahas oleh Mas Fauzi sangat kaya dan berragam.

Diskusi kali ini dimoderatori oleh Mas Iskandar Zulkarnain, acara dimulakan dengan kegiatan Yasinan dan pembacaan ratib, mungkin seperti itu ya nama kegiatannya, dipimpin oleh Mas Fahmi dari komunitas Sahabat Shalawat. Saya sendiri kurang akrab dengan kultur seperti ini sebenarnya. Ini saya coba masukkan dalam tulisan, sekadar untuk menunjukkan bahwa yang namanya manusia Maiyah itu tidak semua berlatar belakang Islam tradisionalis, tentu saya bukan satu-satunya. Saya itu bahkan sebenarnya sedang kabur dari kegiatan tahlilan di RT, menghindari teror pandangan mata mertua untuk selalu harus ikut acara kumpulan di desa, bukannya saya penganut tafsir yang mengharamkan dan membid’ahkan hal semacam itu. Hanya kegiatan macam itu membuat saya merasa jadi kayak bapak-bapak, berasa tua, istilah anak sekarang. Eladalah koq malah tahlilan di Perpus EAN. Begitu mendapati di Diskusi Sewelasan rupanya malah juga Yasinan dan sholawatan, saya sedikit merasa geli juga.

Saya sempat coba liat-liat teks Ratib yang dibagikan, kalau saya tidak salah baca itu “Ratib Al Athhas”. Dalam hal seperti ini buat saya yang justru menarik adalah membedah struktur tubuh teks, saya coba cocok-cocokkan sedikit dengan apa yang pernah saya baca untuk kemudian sedikit menyimpulkan, agak serampangan, bahwa struktur syair macam ini mendapat pengaruh yang besar dari sastra Persia dan Arab. Kalau dibedah lagi, kita mungkin akan bisa menemukan bermacam-macam budaya lain berkawin-mawin di dalam satu tubuh teks. Bahkan dalam kitab hadits-hadits, kita bisa dapati nuansa Persia. Budaya Islam memang sejak lama menyerap rasa Persia (Dan Romawi). Cara penceritaan dalam kitab hadits misalnya, mirip sekali dengan cara penyair-penyair Persia menceritakan raja-raja mereka.

Itu wajar, karena budaya selalu berjalan dan mengalir. Tapi itu teknis, saya selalu agak terpentok di teknis, sedangkan malam ini kita sedang membedah jiwa shalawatan itu sendiri. Lepas dari teknis-teknis, tapi yah pintu memasuki cinta memang banyak ragamnya bukan? Yang setuju yang tidak, yang pro maupun yang kontra, yang suka tahlilan maupun yang tidak suka tahlilan, tentu semua muaranya adalah cinta.

Kalau biasanya Bu Roh selalu menemani dari awal acara diskusi Sewelasan, kali ini Bu Roh dapat bergabung ketika sudah cukup malam. Mbak Ririn yang lebih banyak tampak sibuk mempersiapkan segala keperluan selama diskusi berlangsung. Baru pada sekitar pukul 23.00 WIB Bu Roh dapat bergabung, sepulang dari Jombang. Seperti juga yang sudah saya tuangkan dalam reportase Sinau Bareng di Pati, seluruh keluarga besar Mbah Nun sedang berduka dan langsung berangkat ke Jombang untuk pemakaman almarhumah Mba Fafa. Ada sedikit haru, rasanya total sekali Bu Roh menemani kita, membimbing bahkan ketika dalam keadaan sedang berduka, stamina yang sama yang saya saksikan pada Mbah Nun. Bahkan andai Bu Roh tidak hadir malam ini kan kita tentu bisa maklum, tapi fakta bahwa Bu Roh langsung menuju acara diskusi setiba dari Jombang rasanya sangat menyentuh. Maka ketika pada penghujung diskusi Bu Roh meminta kesediaan hadirin untuk bersholawat dan mengirim al-Fatihah untuk almarhumah yang juga keponakan beliau, para hadirin benar-benar khusyuk mendoakan.

Sebelas Desember 2018 M, bahkan saya yang mungkin kurang spiritual ini bisa merasakan, banyak sholawat dan banyak cinta bertaburan. Dan cinta akan saling berpaut, bertaut di alam yang paralel dalam realitas yang saling berkelindan.