Para Pendekar PSHT Sinau Noto Lelaku

Catatan Sinau Bareng PSHT Johor Bahru Malaysia, 1 Mei 2018

Sesuai yang dijadwalkan, pukul 11.30 Selasa siang kemarin Mbah Nun bergerak menuju lokasi silaturahmi PSHT cabang khusus Johor. Cuaca siang itu hujan.

Dipandu panitia, rombongan bergerak menuju utara kota Johor Bahru melewati highway kurang lebih selama 45 menit. Penataan kota dan jalan kota ini terasa berbeda dengan di Indonesia. Tata jalannya terasa seperti penataan di Amerika Serikat di mana mobil-mobil mendominasi, sementara jumlah sepeda motor cukup sedikit.

Sebelum tiba di lokasi acara, rombongan mampir menunaikan shalat dhuhur di Masjid Jamek Ar-Raudhah. Masjid yang dari implementasi fiqhiyah-nya seperti para Nahdliyyin di Indonesia. Kapan-kapan kita coba melihat lanskap Islam di Malaysia melalui teropong Maiyah.

Waktu menunjukkan hampir pukul 14.00 ketika rombongan tiba di lokasi, yaitu sebuah komplek ruko. Kalo teman-teman pernah ke Bumi Serpong Damai Tangerang Selatan, tata letak ruko ini dan suasananya sangat mirip. Hanya bedanya tidak banyak motor lalu lalang.

Para lelaki tegap dengan pakaian hitam-hitam dengan logo hati berwarna putih di dada kiri berdiri berjejer menyambut kedatangan Mbah Nun dengan salam ta’dhim. Salam para anggota PSHT ini memang khas. Pertama kali salaman akan kaget karena tangan rasanya diprekes. Genggamannya kuat dan kencang, serasa dijepit kayu, hehe. Tapi itu benar-benar ekspresi kesungguhan berjabat tangan dari mereka.

Mbah Nun langsung dipersilakan naik ke lantai dua ruko melalui sebuah pintu tempat acara berlangsung. Ruko di bagian bawah di samping kanan dan kiri pintu naik itu pada tutup. Mungkin karena hari itu tanggal merah di Malaysia. Libur. Sama seperti di Indonesia, tanggal merah karena Hari Buruh.

Naik ke lantai dua, pencahayaan gelap. Dinding sekelilingnya didominasi warna merah dan langit-langit bercat hitam. Tak ada satu pun jendela. Menghadap pintu masuk ruangan ditata dengan panggung setinggi 40 cm dengan ukuran 2×3 meter. Dalam keremangan itu, lampu kelap kelip warna warni menerangi. Rasanya seperti di diskotik.

Dan memang ruangan itu adalah tempat hiburan. Ruangan itu adalah dua ruko yang digabung lantai atasnya. Sejatinya, teman-teman panitia ingin menghelat acara ini di area outdoor. Namun karena hari itu adalah hari yang tinggal seminggu saja dari hari pencoblosan untuk Pemilu Malaysia yang panas, maka perizinan outdoor itu belum bisa didapatkan.

Ketika Mbah Nun tiba, ruangan itu telah penuh sesak oleh sekitar 300 orang anggota PSHT. Semua adalah teman-teman TKI. Ternyata tidak hanya dari Johor saja. Mereka datang juga dari Kuala Lumpur dan daerah-daerah lain di Semenanjung Malaysia (Malaysia Barat).

Mereka adalah pekerja legal yang memiliki izin kerja sebagai pekerja bangunan, di pabrik, dan di perkebunan. Latar belakang mereka pada umumnya adalah orang jalanan. Mereka bekerja rata-rata lebih dari 5 tahun dan ada yang sudah 20 tahun di Malaysia. Mayoritas mereka dari Jawa Timur. Tapi menurut laporan panitia, anggota PSHT di Malaysia ini hampir berasal dari semua daerah dari Sabang hingga Merauke yang memang menjadi TKI di sana.

Kedatangan Mbah Nun adalah kedatangan seorang bapak kepada anak-anaknya. Para TKI, 300-an anak-anak Mbah Nun, ini menyambut Bapak mereka dengan sumringah dan siap mendapat penguatan serta kasih sayang dari Mbah Nun terutama karena niat baik mereka untuk jauh-jauh datang ke pertemuan ini. Meskipun di lokasi ini harus berpenuh-sesak agak pengap, tetapi mereka ikhlas.

Mbah Nun menyatakan kekaguman terhadap ketangguhan anak-anaknya yang memang manusia Indonesia, di tengah negaranya yang lemah. Mereka tanggon dan trengginas. Manusia Indonesia adalah manusia all season. Manusia segala musim.

Sebelum Mbah Nun menyapa mereka, terlebih dahulu Pak Moerdjoko dari Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun berpesan kepada anak-anak PSHT ini agar benar-benar memperhatikan apa yang akan disampaikan Mbah Nun karena semua yang dijalani dan disampaikan Mbah Nun sangat sesuai dengan falsafah PSHT.

Silaturahmi ini berjalan hingga pukul 16.00. Dalam sambutannya, panitia mengatakan bahwa teman-teman PSHT ini ingin belajar bagaimana noto lelaku manusia. Sangat mendasar yang disampaikan Mbah Nun. Teman-teman Jamaah Maiyah tentu sudah bisa memahami dalam rentang rute bagaimana noto lelaku itu. Yaitu rentangan rute inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Konsep dasar di dalam Maiyah juga disampaikan Mbah Nun dengan mengajak teman-teman PSHT ini untuk mengetahui keberadaan mereka sebagai makhluk yang paling buncit. Sebagai bungsu dari kakak-kakaknya yang harus dihormati, mulai hewan, tumbuhan, jin, malaikat, alam, hingga Nur Muhammad.

Selain dalam rute inna lillahi tadi dan memahami urutan posisi kemakhlukannya, noto lelaku juga harus berada dalam rentang waktu. Yakni rentang khalidina fiha abada. Hidup manusia yang memang abadi.

Waktu 2 jam tentu adalah waktu yang sangat kurang bila diukur berdasarkan yang sering terjadi dalam Maiyahan. Namun dalam silaturahmi ini, beberapa kunci dasar sudah bisa menjadi pegangan, sehingga dalam dua jam mereka telah memperoleh sangu ilmu.

Malam usai acara, Mbah Nun diajak teman-teman panitia sejenak melihat suasana kota Johor Bahru dengan suasana pasar malamnya. Kemudian, pagi sekali tadi, sebelum subuh, Mbah Nun sudah bergerak meninggalkan kota Johor Bahru menyeberang selat menuju Singapura. Meskipun penerbangan ke Yogya pada pukul 11.15, harus pagi-pagi sekali berangkatnya karena dua titik pemeriksaan di pagi hari sangat padat oleh mereka yang berangkat kerja ke Singapura.

Jam menunjukkan 12.20 ketika roda AirAsia mencium lembut landasan Adi Sucipto. Mbah Nun tiba di Yogya dan akan segera menemani masyarakat di Wonogiri, Gresik, Surabaya, Banjarnegara, dan Madiun. Dalam beberapa hari ke depan Mbah Nun pencolotan menambah al-mutahabbiina fillah, para rakyat yang kuat, di negara yang sedang lemah.