Para Penanya Simbah

Pintu lobi hotel belum tertutup sempurna, ketika seorang lelaki muda berwajah sembab, tergopoh-gopoh merangsek masuk. Dia berhasil menerobos rintangan tangan beberapa pegiat Kenduri Cinta yang semula berusaha menahan. Tubuhnya lantas diluruhkan ke dekapan Mbah Nun. “Tolong saya, Cak!”, rintihnya berkali-kali di antara isak.

Tak ada yang tahu, persoalan apa yang tengah ditanggungnya. Bahkan ketika Mbah Nun bertanya, jawaban yang keluar pun hanya sengau. Tak jelas. Dia seperti sedang mengidap rasa takut luar biasa. Panik. Mbah Nun menenangkannya. Doa-doa dirapal, sembari tangannya mengelus kepala pemuda tak dikenal itu. Tenang. Orang-orang diam. Hening.

Pada jarak kurang lebih sepuluh langkah saya menyaksikan pemandangan itu. Selama beberapa saat Mbah Nun berusaha menenteramkan si pemuda. Tak ada kesan sungkan, apalagi enggan. Meski tampak lelah setelah enam jam lebih berada di panggung Kenduri Cinta, disusul bersalaman sambil jalan dengan kerumunan hadirin. Mbah Nun tetap mau melayani keletihan liyan. Dan ini, untuk satu orang! Bukankah beliau harus istirahat? Padahal waktu sudah merambat fajar.

Peristiwa semacam ini bukan hanya sekali berlangsung. Sering! Juga tak melulu pada acara-acara. Di tempat-tempat umum pun bisa terjadi. Mulai teras bandara, terminal bus hingga rumah makan. Rata-rata adegannya nyaris sama. Dari arah yang tak disangka-sangka, seseorang bisa tiba-tiba menghampiri seraya menghamburkan pertanyaan.

Suatu kali pernah terjadi, seseorang lelaki pengendara motor tiba-tiba mengetuk kaca samping kanan mobil Mbah Nun yang berhenti di persimpangan ramai pelintas. Waktu itu lampu pengatur lalu lintas sedang menyala merah. “Cak, saya mau tanya!”, pekiknya. Begitu jendela dibuka, lelaki itu menyusulkan pertanyaan. Perbincangan singkat lantas berlangsung. Kira-kira kurang dari 1 menit. Kilat!

Barangkali, sudah miliaran pertanyaan yang ditampung Mbah Nun sejak dekade tujuh puluhan. Orang-orang dari berbagai latar belakang tak canggung melontar soal. Dengan Mbah Nun mereka merasa aman, meski mengadukan persoalan paling kontroversial. Mbah Nun selalu menyediakan tanggapan yang menenteramkan. Segar. Membuka katup-katup kemungkinan jalan keluar.

Tak ada hal yang sama sekali buntu. Hidup begitu luas. Kita yang kerap ciut pikiran. Jawaban akan terus ada. Kita yang sering kali keliru membangun pertanyaan. Ini yang lantas disuguhkan Mbah Nun dalam berbagai forum Maiyah. “Jangan malas, lukar kesempitan, ulik dengan ketajaman akal!”, seakan-akan Mbah Nun berkata demikian.

Para penanya itu tahu, Mbah Nun bukan bank jawaban yang akan mengeluarkan rumus mujarab untuk memuaskan mereka. Bukan! Bukan itu yang dinanti. Mereka hanya ingin ditemani mencabut sumbat di genangan benak yang mampat. Butuh pemantik untuk menyalakan lilin dalam ruang batin yang kelam. Perlu penunjuk pintu keluar saat terjebak di kamar pengap, menuju lorong yang akan mereka lalui sendiri. Itu yang mereka cari dari Mbah Nun.

Juni dua tahun lalu, usai gelaran ulang tahun Kenduri Cinta ke-16, Mbah Nun dihampiri seorang lelaki tua dengan raut muram. Sayu, tampak sedang dirundung kesedihan. Dia memaksa beberapa pegiat Kenduri Cinta untuk bertemu Mbah Nun walau hanya sebentar. Akhirnya diizinkan. Mbah Nun sendiri lantas mendekat, meski saat itu sudah berada di dalam lift, bersiap menuju kamar hotel untuk istirahat. Sementara waktu sudah menunjuk pukul setengah empat dinihari.

Mbah Nun lalu mengajak orang itu menyingkir ke sisi lobi. Kurang lebih, dua menit kemudian pembicaraan keduanya selesai. Ajaib, airmuka lelaki itu total berubah ceria. Sungguh berbeda dengan ketika dia datang.

Sampai sekarang, saya tidak tahu, apa yang dikatakan Mbah Nun padanya. Yang pasti, orang tua yang semula dikerubung mendung itu, pergi dengan wajah berseri.