Para Jurnalis Bermartabatlah, Sedikit Saja

Saya lupa. Saya lupa kapan dan di mana tepatnya, Mbah Nun mengutarakan bahwa sekarang ini tidak ada lagi jurnalis atau wartawan kebudayaan: Orang yang selain mendalami jurnalistik, namun juga mau, bisa atau minimal pernah bergelut dengan wilayah-wilayah kebudayaan, terutama kesenian. Jurnalistik juga hasil budaya, tapi yang dimaksud rasanya adalah budaya pada pengartian yang murni.

Jurnalistik modern jelas bukan budaya murni apalagi murni Nusantara. Tak ada memang yang namanya budaya murni, semua budaya–yang masih bertahan, yang kita kenal–adalah hasil dari pertemuan dan pernikahan. Tapi kan beda hilangnya perawan karena pernikahan dengan karena pemerkosaan kolonial.

Era ketika Tirto Adisoerdjo berkiprah membidani jurnalistik modern di masyarakat ini, adalah era ketika selera dan cita rasa kaum kelahiran empat musim telah mulai diserap oleh pribumi dua musim khatulistiwa. Huruf latin, pers, ideologi, konsep identitas ala intelektuil Sumpah Pemuda, kacamata pandang sejarah, cita rasa spiritual ningrat Kiai Theosofi kejawen Dirk Van Hinloopen Labberton, berpuncak hingga bentuk nasion yang akan (dan berhasil) didirikan sebagai NKRI sekarang ini. Tapi saya juga tidak terlalu berminat jadi penganut purifikasi budaya atau menjadikan tulisan ini bahasan post-kolonial. Semua sudah terlanjur.

Ketiadaan wartawan dan jurnalis budaya itu mengakibatkan terjadi degradasi, penurunan kualitas terhadap produk-produk tulisan, ulasan atau reportase kegiatan-kegiatan kesenian. Adapun majalah-majalah budaya, walau masih eksis tapi kiblatnya malah kepada industri pariwisata atau yang paling mending, sekadar pelestarian tradisi yang terlanjur beku. Bukan pemaknaan hakikat, elaborasi pengalaman hidup dan kehidupan. Bukan peresapan atas gejala-nuansa dan apalagi, juga bukan usaha mengkontinuasi kebudayaan itu sendiri.

Budaya mandek, jurnalistik secara umum juga. Betul bahwa semua bidang mengalami itu belakangan ini, tapi di sini media massa akan jadi bahasan spesifik. Kenapa? Nanti mungkin kita akan kesitu. Mungkin. Ndak berani janji saya.

Walau saya lupa konteks ruang-waktu pesan dan peringatan dari Mbah Nun itu, tapi saya sangat yakin benar-benar mendengarnya. Sebab kalimat itu menjadi pemacu saya untuk kembali menulis. Sebelumnya memang saya mengalami kejengahan untuk menulis. Sempat ada perasaan bahwa menulis adalah kegiatan narsis, GR dan sok tahu apalagi meliput. Tapi kalimat Mbah Nun kala itu membuat saya sadar bahwa pengalaman saya bermain teater walau juga bukan benar-benar pro, tidak mubadzir.

Saya bukan penganut jurnalisme sastrawi, bahkan agak eneg. Saya tipe yang lebih suka baca data daripada permainan kata-kata dan gambar yang saya su`udhonkan sedang menjajah emosi. Kalau ada kasus pembantaian, saya hanya mau baca berapa-siapa yang disangka pelaku, berapa-siapa korban, di mana, kapan, kenapa, bagaimananya dan ya 5W1H itulah. Soal kisah-kisah dramatis di baliknya, maaf saja, saya sendiri yang akan memutuskan mau peduli atau tidak. Saya sudah merasa cukup dijajah oleh banyak hal di dunia, NKRI dan sejenisnya, tak perlu ditambah penjajahan oleh demokrasi dan dramatisasi tulisan.

Tapi ini bukan reportase. Mari saya lambari sedikit tulisan ini dengan cerita pengalaman ketika berada di Rumah Maiyah tatkala digelar acara konferensi pers menjelang Pentas MANTRA#2019. Supaya pembaca yang budiman mengerti sudut dan limitasi pandang saya, maka saya tambahkan informasi bahwa saya datang ke Rumah Maiyah kala itu untuk membuat laporan kegiatan di web caknun.com. Acaranya karena memang konferensi pers, dipadati oleh para jurnalis dan wartawan.

Sudah beberapa kali Mbah Nun memperingatkan bahwa media massa memang tengah mengalami masa degradasi yang sangat parah. Dan sangat terasa pada acara kali itu. Hampir tak ada pertanyaan berkualitas yang muncul dari para jurnalis. Bukan saja pertanyaan mutu tinggi yang tidak muncul, pertanyaan pada hal-hal mendasar pun tidak.

Sebagai contoh, di papan terpampang keterangan kapan dan di mana tepatnya pentas diadakan. Ditulis di situ bahwa waktu pentas adalah 19:38 WIB. Tidak harus jadi sekelas Seno Gumira, Andreas Harsono atau Karni Ilyas kan untuk melihat ada yang aneh di situ? Dan bisa menggali pertanyaan, kenapa harus dilebihkan delapan menit dari pukul 19:30?

Kenapa tidak? Memang tidak ada keharusan, tapi kan ada yang menarik, apakah ketentuan dari pihak pengelola gedung? Atau inisiatif yang punya gawe? Yang punya gawe siapa? Kok tidak ada keterangannya? Dari kelompok seni apa? Kok tidak ada nama kelompok teater atau grup keseniannya? 

Pertanyaan dasar itu tidak muncul. Untung Mbah Nun sendiri  membabarkan beberapa hal (tapi soalan mengenai waktu pentas tidak, dan tetap tidak ada yang bertanya).

Banyak hal yang menarik di acara tersebut, tidak perlu benar-benar jeli. Asal mau meresapi atsmosfer suasana saja, bukannya sekadar mengacungkan smartphone dengan kondisi siap rekam. Kemenarikan mudah didapati.  Aroma dupa saja sudah menarik digali kalau mau. Pekerjaan jurnalistik adalah pekerjaan yang berada pada garda depan pembawa tanya. Kalau kita tidak mampu menemukan tanya, entah jadi apa peradaban kita nantinya?

Tapi itu belum puncak keheranan saya. Sebagaimanapun saya agak kecewa dengan para jurnalis yang hadir, toh masih bisa dimaklumi kalau membuat peliputan acara hari itu mungkin hanya satu dari berapa banyak tugas yang menanti. Kebut saja seadanya. Kualitas tak perlu. Atasan ngèhèk menanti. Deadline adalah segalanya. Tapi siapa sih manusia yang tidak dikejar-kejar garis kematian? Death line?

Keesokan harinya, justru berita yang bermunculan adalah berita dengan framing-framing sesuka hati. Kita ini sebenarnya bagaimana sih? Tak punya waktu untuk bertanya tapi cukup senggang untuk membakukan jawaban asal sesuai selera?

Di beberapa media, muncul berita seolah pernyataan dan kalimat-kalimat Mbah Nun ditujukan untuk menanggapi isu-isu sexy dan seolah ditujukan pada orang-orang tertentu; Amien Rais, Prabowo dan sebagainya. Herannya, media-media yang sangat getol dengan framing-framing isu sexy itu malah yang saat acara berlangsung dan dibuka kesempatan bertanya, tak tampak batang hidung atau embus suara nafas para jurnalisnya. Tidak perlu ngecek catatan malaikat Rakib-Atid, saya juga punya dong, catatan–walau tidak lengkap–pihak-pihak yang bertanya saat itu.

Ada satu film karya sutradara Oliver Stone, script-nya digarap oleh Quentin Tarantino. Salah satu film wajib sejuta ummat, agak ngepop berjudul “Natural Born Killer”. Terdapat line dialog dalam film itu yang diucapkan tokoh utamanya bermama Mickey, bunyinya begini: “…From where I’m standing, you’re an ape. You’re not even an ape. You’re a media person. Media’s like the weather, only it’s man-made weather…

Itu kalimat saya potong. Kalau lengkapnya agak panjang dan konteksnya adalah bicara soal alasan pembunuhan. Tapi potongan dialog ketika Mickey bilang pada wartawan bahwa orang media itu dianggap “berevolusi jadi kera saja belum” memang favorit saya.

Lihat, potongan seperti ini saja, konteksnya bisa bergeser. Tepat di situ, kita mau bahas konteks. Manusia sekarang banyak yang hilang konteks. Kehilangan nuansa, hampir tak ada kepekaan mengenai seberapa kuat atau lembut kuas disapukan, seberapa dalam tinta diguratkan. Mungkin karena kita sebenarnya mengetik, bukan menulis. Kita hanya bermain kata, dengan kata-kata yang telah disediakan oleh dunia tanpa punya kehendak turut menciptakan bahasa yang murni. Yang murni hanya bisa lahir dari rahim suci nan sunyi.

Ini bukan pertama kalinya kata-kata Mbah Nun diberi framing sedemikian rupa oleh sedulur-sedulur kaum pers. Paling mudah diingat beberapa tahun ke belakang misal potongan pernyataan soal ISIS, kasus 1,5 T ala NU, lalu spesies cendekiawan elit-ningrat-kiri-rumongso-proletar yang aduhai lebay mengomentari Mbah Nun dengan praduga Mbah Nun mendukung pembangunan bandara di Kulon Progo. Ini bukan yang paling parah dan kalau mau kita abaikan juga sebenarnya tak berefek apa-apa pada Maiyah dan apalagi Mbah Nun sendiri. Tapi kasihan, kasihanilah diri kita sendiri kalau sudah asing pada martabat dan harga diri. Mbok punya martabat, sedikit saja, minimal pernah punya kan ndak rugi juga.

Apa kita berpikir sepotong-sepotong? Mau kelahi tapi tak mau bonyok? Masa kalau Anda lihat ada menteri difoto saat sedang ngopi dan merokok di atas perahu kano Anda pikir itu foto yang natural terjadi begitu saja? Bukannya ada proses? Bagaimana foto itu diambil? Di tengah laut yang lumrahnya bergoyang, kemudian dipilah-pilih yang sesuai dengan citra yang ingin ditampilkan?

Mana yang harus dibuang karena kontraproduktif dengan pesan dan kesan yang diinginkan? Dan kemudian, cangkir kopi si ibu ditaruh di mana setelah ngopi di tengah laut? Masak Anda pikir presiden benar-benar sederhana kalau keluar memakai kaos oblong? Padahal sederhana bukan soal kemeja atau kaos, tapi bagaimana konsep dalam pikiran.

Salah satu yang membedakan Mbah Nun dengan buanyak sekali tokoh di negeri ini adalah, Mbah Nun jarang tampak dalam foto yang memang sudah diatur kesan-kesannya. Pada era dulu (1980 sampai akhir 90-an) ada sedikit, di majalah atau tentu pada album-album KiaiKanjeng. Tapi selebihnya, kebanyakan foto Mbah Nun diambil pada pose yang memang ada peristiwanya. Bukan ala foto kiai atau guru spiritual yang memang diatur sedemikian rupa di studio foto agar tampak berwibawa, kharismatik dan ma’rifat.

Terakhir setahu saya, foto yang memang diambil dengan sengaja adalah ketika Pak Darwis Triadi berkunjung ke Yogyakarta. Kalau saya coba sedikit mengkurasi, hasil foto pak Darwis lebih menangkap apa kesan yang diserapnya dari Mbah Nun ketimbang bagaimana Mbah Nun ingin menampilkan diri. Ada beda mendasar di situ.

Saya tidak benar-benar punya pengalaman jurnalistik atau pers. Selain pers-persan mading saat di pondok dan pers mainan (Persma) saat di kampus. Di Persma dulu, sudah mulai tercium gejala krisis martabat di kalangan pers macam ini. Ketika kaum intelektual aktivis beringas berapi-api kalau menulis seolah mau menggedor hajar tembok kampus, tapi makplekenyik kalau minta anggaran dana dari kampus. Tetap tangan menengadah, minta, nyuwun, ngemis. Memang itu hak, tapi tetap saja cengeng.

Buku Cak Nun