Pangudoroso Ngopi

Mukadimah MaSuISaNi April 2018

Pangudoroso adalah nukilan atau sepatah kata yang terdengar menggelitik. Mendengarnya seperti mengajak kita untuk membuka kotak harta karun Bajak Laut ternama si Black Beard di Pirates and Caribean-nya Johnny Depp. 

Bila kita mempelajari genealogi kata, akan kita temukan kata dasar Udo, atau Udoh. Dari kosa kata Jawa yang harafiahnya bermakna telanjang, terbuka, tergelar. Lalu tambahan Afiksasi Ng– akan mengubah kata sifat menjadi kata kerja, menjadi Ngudo atau proses menelanjangi diri, membuka tabir diri. 

Sementara Roso, bermakna perasaan batin, maka Ngudoroso dimaknai sebagai proses keluarnya cerita yang murni dari ketulusan batin seseorang, go (beyond) inside. cDi sisi lain, Ngudoroso tidak sama dengan berkelakar, celoteh, apalagi gosip. Ada mutiara kejujuran yang diemban jika kita menyampaikan sesuatu.

Kemudian penambahan awalan Pa– menjadi sebuah ketegasan momentum dalam menjelaskan sebuah proses. Kali ini prosesnya yang diambil adalah Ngudoroso lalu menjadi nukilan awal Masuisani PANGUDOROSO. 

Ngopi sendiri pun demikian berasal dari kata kopi dan awalan nge-, digabungkannya nge+kopi mengubah kopi sebagai kata benda menjadi kata kerja. Jadi ngopi bisa dimaknai sebagai proses kita menikmati kopi. 

Menelisik soal kopi tentu kita tidak bisa lepas dari sejarah panjang tanaman tersebut. Kopi adalah tanaman perkebunan, mulai dikenal oleh Suku Gala di Afrika Timur. 

Tanaman ini lantas menjelajah ke seantero dunia, menjadi pemantik Revolusi Perancis dan gerakan-gerakan politis lainnya di belahan bumi Eropa. 

Di Nusantara, saking populer dan menjadi komoditas ekspor kolonial Belanda kala itu, di tahun 1700-an, kopi Jawa (Arabika) berhasil ‘menguasai’ pasar kopi dunia. Hingga menginspirasi seorang programmer, dan terciptalah ‘Javascript’ dengan logo cangkir lengkap dengan kepulan asap: sang programmer, rupanya terinspirasi dengan nikmatnya kopi Java. 

Di Bali, kopi juga menjadi mata dagangan selain gula, garam, babi, sebelum Abad XVI melalui kongsi dagang kerajaan Mengwi dengan pedagang-pedagang candu dari Tiongkok. 

Dari gaya hidup, kopi ditafsir menjadi ikon baru yang kaya nilai. Cerita kopi lantas dihadirkan menjadi sebuah narasi besar, semacam menandai kelahiran ‘ideologi’ baru: nasionalisme gaya baru dengan slogannya stand of greatness’. Siapapun bisa mengaku nasionalis jika mengonsumsi kopi produksi dalam negeri. Beberapa tahun terakhir, di Indonesia booming buku Filosofi Kopi diikuti pula dengan booming film-nya yang turut mengonstruksi narasi besar kopi hari ini. 

Tafsir diri dalam secangkir kopi:

“Kopi itu pekat. Sepekat malam” 

“Menjadilah tabah, tawadlu’, sakti serupa bunga kopi. Ia hanya akan mekar di waktu dan kehendak yang tepat” 

“Kopi itu pahit. Tetapi nikmat. Serupa hidup. Jika pahit mampu engkau cecap utuh, maka utuhlah hidupmu” 

“Kelopak bunga kopi hanya akan gugur pelan-pelan dan menjadi buah manakala rintik hujan tabah dileram cahaya mentari” 

“Di kedalaman perut bumi sana, sang akar hanya akan menuju pusat. Sementara tangkup-tangkup dedaunan yang baru tumbuh, senantiasa menghadap sumber cahaya” 

“Di tiap bilah biji terbelah, kita akan temukan sap-sap, lapis-lapis, bilah-bilah. Dan bermuara pada satu kandung lembaga. Titik pusat” 

“Kopi itu, beda lidah beda rasa. Tapi yang otentik adalah pahit-nya”

“Kopi itu tómbó ngantuk. Tómbó ngelu, tómbó kangen”

“Kopi itu adalah kamu… Kamu adalah aku… Tatwamasi” 

Tak habis-habisnya memang jika kita ngudoroso soal kopi. Ada berbagai pergolakan, juga mencuatnya segregasi identitas soal kopi dan geliat perburuan harta karun sumber daya alam di Nusantara. 

Maka di Gelaran MaSuISaNi kali ini, tikar Pangudoroso Ngopi dibentangkan lebar untuk sedulur semua. Mari duduk melingkar membersamai Sumur Ilmu dan Sawah Nilai kita bersama. 

Ngopi sendiri pun demikian berasal dari kata kopi dan awalan nge-, digabungkannya nge+kopi mengubah kopi menjadi kata kerja. Jadi ngopi bisa dimaknai sebagai proses kita menikmati kopi.