Pameran Dokumentasi dan Karya: Gambang Syafaat dalam Rentangan Waktu

19 Tahun Gambang Syafaat

Hari ini, 25 Desember 2018, Majelis Ilmu Gambang Syafaat Semarang berkhidmat memeringati ultahnya yang ke-19. Salah satu mata agenda yang telah dipersiapkan dalam rangka mensyukuri hari jadi tersebut adalah menggelar pameran dokumentasi dan karya. 

Pameran ini diadakan di dalam aula Masjid Baiturrahman Semarang. Dengan gelaran ini, diharapkan tercipta kontinuasi informasi dari masa ke masa mengenai Gambang Syafaat. Baik penggiat maupun jamaah Gambang Syafaat yang datang belakangan dapat memperoleh gambaran historis mengenai perjalanan Gambang Syafaat dari era awal hingga saat ini. 

Sebagai contoh, tidak semua tahu bahwa dulu pada masa awal Gambang Syafaat hanya didatangi oleh sedikit jamaah, dan pelan-pelan berkembang menjadi majelis ilmu yang dinanti banyak jamaah di Semarang dan sekitarnya, kemudian menjadi simpul yang bisa didatangi oleh ribuan jamaah. Masa itu tidak berlangsung singkat. Pernah pada suatu edisi di Gambang Syafaat, kedatangan Mbah Nun hanya didatangi oleh puluhan jamaah saja. Bahkan saking sedikitnya, Mbah Nun meminta jamaah yang berjumlah puluhan itu, yang duduk lesehan di depan panggung, untuk naik ke panggung semua. Dan, semua jamaah itu bisa tertampung di atas panggung.

Saat kita ceritakan kejadian itu di masa-masa sekarang. Hampir sulit dipercaya bahwa simpul Maiyah yang didatangi Mbah Nun hanya didatangi puluhan orang saja. Itu berbeda dengan keadaan sekarang. Sebab, hampir semua tempat yang dihadiri Mbah Nun dan KiaiKanjeng serta beberapa simpul Maiyah yang didatangai Mbah Nun selalu bisa mendatangkan ribuan anak muda, anak-anak, orang tua, yang duduk lesehan di lapangan, di aula masjid, di alun-alun kota, dan di pelbagai tempat lainnya. 

Sebagai wujud mengabarkan adanya proses panjang yang pernah dijalani Gambang Syafaat, para penggiat Gambang Syafaat mencicil informasi, mengumpulkan arsip foto, guna menyajikan narasi selama 19 tahun ini. Beberapa foto akan menjelaskan beberapa narasumber yang tidak kita lihat lagi. Juga tempat, sebuah ruangan yang tidak kita tempat lagi. Atau, tentang kisah para pendiri Gambang Syafaat yang tidak bisa kita jumpai lagi di panggung-panggung Gambang Syafaat.

Semua rangkaian cerita selama 19 tahun Gambang Syafaat tentu tidak bisa selesai diceritakan dalam satu kali pertemuan di tanggal 25 Desember 2018 ini. Sebanyak 107 foto yang tertata di palet-palet  pameran di aula Masjid Baiturrahman ini adalah usaha menyambungkan cerita dari masa lalu ke generasi sekarang. Foto-foto itu barangkali bisa sedikit menceritakan biografi Gambang Syafaat pada saat awal berdiri, saat-saat hampir vakum, dan saat-saat dihadiri banyak jamaah.

Tentu pameran dokumentasi ini tidak akan terjadi tanpa bantuan tulus dari penggiat simpul Maiyah dari kota-kota di Jawa Tengah dan jamaah Maiyah yang tersebar di pelbagai kota. Penggiat Gambang Syafaat tidak sendirian dalam menyiapkan ini. Malam hari sebelum pembukaan, jamaah Maiyah dari Batang menyediakan diri turut membantu; jamaah dari Sedulur Maiyah Kudus datang membawa empat porsi martabak manis; jamaah Kalijagan Demak jauh-jauh hari sudah mengabarkan akan membantu logistik bahan pameran berupa tumpukan kardus dan kayu-kayu bekas. Semua guyub dalam menyambut Gelombang Kreativitas di Gambang Syafaat. (Yunan Setiawan)