Pakai Narkoba? Maaf, Itu Bodoh

Catatan singkat Sinau Bareng BNNP DIY, Bantul, 21 September 2018, bag. 1

Merupakan metode khas dalam berpikir yang dilatihkan Cak Nun kepada segenap jamaah bahwa tatkala membahas satu gejala hendaknya tidak lupa bahwa gejala yang sama bisa saja diketemukan berlangsung pada wilayah-wilayah lain.

Demikianlah saat memulai membicarakan narkoba yaitu penyalahgunaan obat-obatan atau narkotika yang mengakibatkan kecanduan yang merusak pada diri manusia, Cak Nun memberikan contoh bahwa tanah pun telah mengalami kehancuran karena kebijakan “narkobais” pupuk kimia. Bahwa rebutan kekuasaan lewat pilpres jangan-jangan juga berposisi kayak narkoba lho. Dan ini yang paling telak, jomblo kelamaan pun bisa jadi narkoba. Hahaha.

Bagaimana dengan narkoba dalam konteks kebudayaan? Untuk yang ini, sekadar saya remind, teman-teman bisa membaca tulisan Cak Nun berjudul Narkotika Kebudayaan, Kebohongan, Pseudo Happiness. Itu ditulis di Majalah Matra pada tahun 90-an, dan sudah tergabung dalam buku Titik Nadir Demokrasi. Coba dicari ya, buat melengkapi pemahaman Anda semua tentang candu-mencandu ini.

Semalam BNN Provinsi DIY mengundang Cak Nun dan KiaiKanjeng buat Sinau Bareng. Tujuan dan maksud BNN menyelenggarakan acara ini ialah mengajak masyarakat memahami bahaya narkoba, dan hal-hal berkaitan dengannya yang perlu diwaspadai pula. Agar masyarakat sejauh-jauhnya menghindarkan diri dari menjadi pengguna narkoba, pengedar apalagi.

Acara digelar di Lapangan Trirenggo Bantul, tempat yang rasanya cocik memang buat Sinau bareng-bareng karena lokasinya yang beda dengan situasi kota besar: sepi, tidak padat. Sebanyak itu orang datang, suasana tenang tetap meliputi. Sampai pun acara usai, iring-iringan motor meninggalkan area peparkiran, tak ada suara berisik atau berlebihan sedikit pun yang ditimbulkannya. Agak aneh memang!

Cak Nun didampingi Pak Brigjen Drs. Triwarno Atmojo (Kepala BNNP DIY), Marsda TNI Srimulyo Handoko (Gubernur AAU Yogyakarta), Pak Arif Nurhartanto (DPRD DIY), dan narasumber lainnya. Duduk berjejer menghadap semua jamaah yang rapi lesehan di lapangan Trirenggo ini sebagaimana pada Sinau Bareng selama ini. Di belakangnya, para player KiaiKanjeng berada pada tempat masing-masing.

Memberikan frame dan membuka Sinau Bareng ini, Cak Nun menyampaikan sejumlah pandangan, salah satunya yang saya tulis di paragraf awal di atas. Selain itu, dua pandangan yang utama di permulaan ini menurut saya adalah pesan Cak Nun agar kita jangan sampai punya sedikit pun konflik dengan Allah, dengan malaikat-malaikat Allah, dengan Kanjeng Nabi. Nanti kalau konflik, itu berarti bermusuhan dengan transformator kehidupan ini, dan hidup jadi macet. Soal narkoba ini bisa dibaca dalam perspektif konflik ini, dan Cak Nun telah uraikan dengan gamblang.

Kedua, menggunakan ilmu do’a khatmil Qur`an di mana ada permohonan di situ Allahumma dzakkirna minhu ma nasiina wa ‘allimna minhu ma jahilna yang artinya kita memohon kepada Allah agar diingatkan pada hal-hal yang kita lalai atau sembrono dan dikasih tahu pada hal-hal yang kita bodoh mengenainya. Lalu pertanyaannya, memakai narkoba itu bodoh atau jahat? Menurut Cak Nun, pakai narkoba itu bodoh. Kalaulah disebut jahat, maka itu jahat kepada diri sendiri, dan itu adalah kebodohan yang paling bodoh.

Doa khotmil Qur`an dihadirkan KiaiKanjeng dengan terlebih dahulu diawali dengan nomor Pambuko. Tentang khotmil Qur`an ini, ada cara lain dalam memaknai apa yang disebut khataman dari Cak Nun, tapi bisa kita catat di bagian lain berikutnya. Intinya di bagian awal ini, kita memang sinau tentang narkoba, tetapi diusahakan mendapatkan perspektif yang sama untuk melihat fenomena yang lebih luas.

Tentang narkoba yang menjadi wilayah kerja BNN ini, Cak Nun sendiri juga cerita belum lama ini disambati seorang ibu-ibu yang anaknya terjerat narkoba, dan meminta tolong agar bagaimana si anak terlepas dari kecanduan narkoba ini. Maka, seraya merespons paparan para narasumber, Cak Nun urun sejumlah prinsip, metode, dan penemuan memahami persoalan narkoba ini, termasuk buat memulihkan para pengguna atau pecandu narkoba.

Pada Sinau Bareng di desa Tlogomulyo Temanggung beberapa hari lalu, Cak Nun berbicara bahwa sejatinya Allah menurunkan agama itu sebagai basyiran wa nadziran, sesuatu yang bikin gembira hati manusia dan baru nanti jika manusia kebabalasan bergembiranya maka agama tampil memberikan pengingatan. Nah, lain halnya dengan Sinau Bareng tadi malam. Agama dan kitab suci Allah hadir untuk menyembuhkan sakit yang diidap manusia.

Artinya, saya belajar dan melihat, mungkin di luar atau di sekeliling sedang berlangung orang menjalankan agama tapi sayangnya justru membuahkan sakit, permusuhan, serang-menyerang, serbu-menyerbu (dan pasti ada yang perlu dibenahi dalam kita memahami agama dan manusia), tapi malam tadi di kesunyian kota Bantul kita belajar yang sebaliknya. Yakni, berbekal agama dan ayat-ayat-Nya, kita belajar mengatasi sakit manusia. Sudah bukan zamannya lagi nambahi masalah atau menciptakan masalah demi masalah.

Buku Cak Nun