Pak Is, Empu Seruling Legendaris

Di panggung Mocopat Syafaat edisi #Januari 2018, Mbah Nun sempat berucap bahwa tahun ini Malaikat Izroil sepertinya sedang sibuk-sibuknya. Sibuk marathon menjalankan Titah Tuhan, mencabut satu demi satu nyawa insan. Mulai dari Om Yon Koeswoyo (6 Jan), Pak Darmanto Jatman (14 Jan), Seniman Yogya Sujud Kendang, Mas Yockie Suryoprayogo dan yang terakhir menyusul sowan ke haribaan Allah yakni Empu Seruling KiaiKanjeng Pak Ismarwanto. Dengan Kasih Sayang Allah, Pak Is dipanggil pada hari Minggu pagi, 25 Februari 2018 di RSKB Yogyakarta. Innalillahi wa inailaihi ra’jiun. Kehidupan adalah berputar. Berasal dari Tuhan dan akan kembali bermuara ke Tuhan.

Tidak banyak yang dapat saya sampaikan lewat tulisan ini. Mohon dimaklumi. Mungkin hanya satu yang paling dan akan terus membekas dalam benak, manakala mengingat seorang peniup seruling legendaris yang bernama Pak Is.

Setiap kali datang Maiyahan di Mocopat Syafaat, saya selalu memilih tempat di samping kiri atau sisi belakang panggung. Dengan maksud agar akses ke toilet mudah. Sebab, saya sering beser kalau terlalu lama kena hawa dingin. Dan persis di belakang panggung MS terdapat sebuah toilet umum.

Selain alasan klise tersebut, maksud lain memilih duduk di dekat area panggung adalah agar nanti bisa bersalaman atau minimal ngluruhi (melempar senyum) kepada bapak-bapak personel KiaiKanjeng yang melintas naik ke panggung. Tak lupa juga, berharap dapat menyalami dan mencium tangan Simbah. Ngalap berkah.

Ada satu personel KiaiKanjeng, yang selalu bikin senyum sekaligus kagum ketika melihatnya. Biasa mengenakan celana hitam, kaos hitam polos lengan panjang, dipadu dengan songkok/kopiah hitam yang memanjang ke atas. Badannya ramping, kurus dan raut wajahnya maaf, sudah banyak sekali kerutan. Tanda perjuangan. Cermin telah banyak makan asam garam. Bukti usianya tak muda lagi. Menginjak senja hari.

Senyum saya, karena dandanan-nya Pak Is itu terbilang nyentrik. Betapa tidak, gaya penampilannya jauh lebih muda ketimbang usianya. Kalau personel lain biasa memakai kemeja lengan pendek/panjang, sedangkan Pak Is jarang. Beliau lebih suka, dan tampak rileks mengenakan kaos polos. Lucunya lagi, bagian bawah kaos tersebut dimasukkan ke dalam celana. Sehingga tampaklah gesper ikat pinggang yang kepalanya (bonggol-nya) berukuran besar. Keren. Sangar. Modis. Mirip dengan gesper yang dikenakan anak-anak zaman now.

Di balik kelucuan dan kenyentrikan gaya berpakaian ala Pak Is, ada rasa kagum yang menggunung di dalam relung. Relung hati saya, dan mungkin Jamaah Maiyah semua. Menamatkan kulit wajah dan tubuh pak Is, kita seperti ditampar keras. Beliau yang sudah usia sepuh, nyatanya masih sangat ampuh. Tangguh. Duduk berjam-jam lamanya membunyikan seruling ajaibnya. Kuat. Betah. Kerasan. Nyaman. Meniupkan keindahan melalui alunan khas bunyi serulingnya. Sama sekali tak terlihat aura lelah, malas, dan lungkrah padanya. Setiap malam dilakoninya. Setiap hari ditunaikannya. Dari sini ke sana. Timur ke barat. Selatan ke utara. Jombang-Surabaya-Jakarta-Yogya. Keliling Indonesia. Hingga ‘piknik’ ke manca negara.

Hebatnya, Pak Is tetap pribadi yang sederhana. Hidup dalam kesederhanaan. Sejak dulu sampai hari wafatnya. Beliau setia menjadi wong cilik. Tubuhnya memang cilik-kecil, tetapi hati, semangat dan pengabdiannya sungguh besar. Serulingnya pun mungil, tetapi merdunya terdengar. Menyebar ke seluruh bumi, kiranya menembus taman Surgawi…

Tentu kita semua bisa belajar banyak dari sosok Pak Is. Belajar tentang semangat, kegigihan, rasa paseduluran, keistiqamahan dan arti melayani. Menjadi bagian dari keluarga besar KiaiKanjeng sejak tahun 1997. Artinya 21 tahun sudah beliau melayani ummat. Mengajak bershalawat. Menghibur, membaur, melebur dan mendapat tempat di hati masyarakat. Tidak serta merta nggolek duit atau materi, juga bukan sekedar urusan duniawi. Apa yang beliau lakukan bersama KiaiKanjeng selama ini lebih sebagai peran menjadi pelayan Tuhan. Dan itu semua tidak lain dalam rangka bersyukur kepada Allah dan berupaya menyayangi ciptaan-Nya.

Akhirnya, kami ucapkan selamat jalan kepada sang Empu. Merdu serulingmu akan selalu kami rindu. Semoga nanti Tuhan izinkan, bagi orang-orang yang mencintaimu dapat bertemu kembali di ‘ruang rindu’.

Doa kami untukmu pak Is, sang Empu seruling legendaris.

Gemolong, 26 Februari 2018