Pak Is dan Kesetiaan Perjuangan

In Memoriam Pak Ismarwanto

Minggu pagi (25/2), saya dikejutkan dengan sebuah pesan singkat dari Gandhie; “Pas mendarat di Yogya, iki Pak Is meninggal. Segera infokan ke WA Group KC”.  Sebuah pesan singkat yang mengabarkan bahwa Pak Ismarwanto, Empu Seruling KiaiKanjeng telah meninggal dunia. Ya, kemarin memang Gandhie sudah merencanakan untuk menuju YogYa, karena malamnya akan mendampingi Cak Nun ke Gambang Syafaat kemudian dilanjutkan ke Pati malam nanti (26/2) di acara Suluk Maleman.

Tentu saja saya kaget, Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun. Setiap kita berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah. Memang sebulan terakhir saya mendengar bahwa Pak Ismarwanto sedang sakit. Perjumpaan terakhir saya dengan Pak Ismarwanto adalah saat KiaiKanjeng hadir di Jakarta bulan lalu di Kenduri Cinta edisi Januari 2018; AMENANGI ZAMAN NOW.

Pak Is memang salah satu idola Jamaah Maiyah. Penampilannya yang selalu nyentrik, dengan style pakaian yang mbois adalah ciri khas Pak Is yang selalu saya ingat. Peci yang digunakan oleh Pak Is juga pasti berbeda dari Pakde-pakde KiaiKanjeng yang lainnya. Pak Is sering mengenakan peci yang ukurannya panjang ke atas lebih dari peci normal kebanyakan. Coba saja anda cek di foto-foto Pak Is ketika pentas bersama KiaiKanjeng.

Saya masih ingat bulan lalu, seperti biasa sebelum Kenduri Cinta dimulai, jika kebetulan KiaiKanjeng hadir maka soundcheck dilakukan sebelum makan malam. Ini juga merupakan sebuah pertimbangan teknis, agar memudahkan para personil KiaiKanjeng setelah soundcheck menuju rumah makan untuk makan malam, tanpa harus kembali ke hotel tempat transit terlebih dahulu. Saya yang kebetulan saat itu bertanggung jawab mendampingi KiaiKanjeng, harus memastikan bahwa seluruh personel dan crew KiaiKanjeng sudah menuju rumah makan yang sudah kita booking untuk tempat makan malam.

Seperti biasanya, Pak Is adalah orang terakhir yang masih duduk-duduk di panggung. Ketika saya persilakan untuk makan malam, Pak Is mengatakan bahwa sedang tidak enak badan, dan lidahnya terasa pahit, sehingga tidak nafsu makan. Kemudian Pak Is meminta untuk dibelikan obat. Salah satu teman Kenduri Cinta kemudian mencarikan obat yang diminta oleh Pak Is. Meskipun tidak ingin makan, tetapi Pak Is tetap ikut ke rumah makan.

Saya sempat khawatir, dan sempat mbatin, apa Pak Is kita minta untuk istirahat saja, karena saat itu KiaiKanjeng menuju Jakarta menggunakan Bus, dan esoknya setelah Kenduri Cinta akan langsung kembali ke Yogyakarta. Perjalanan darat akan semakin terasa berat jika fisik sedang tidak fit. Tetapi malam itu Pak Is tetap mengikuti Kenduri Cinta dari awal hingga akhir.  Bahkan 100 persen Pak Is menampilkan kemampuan terbaiknya meniup seruling malam itu. Tidak berubah sama sekali alunannya meskipun sedang merasa tidak enak badan.

Seperti biasanya, lagu “One More Night” yang di tengah-tengah lagu tersebut masing-masing personel KiaiKanjeng melakukan improvisasi dengan memainkan alat musik mereka, mulai dari Pak Bayu, Pak Nevi, Pak Bobiet, Mas Ari, Pak Joko, Mas Jijit serta Mas Adit, dan tentu saja Pak Is dengan tiupan serulingnya adalah salah satu alunan instrument yang ditunggu-tunggu oleh Jamaah Maiyah. Coba saja anda tonton kembali salah satu video “One More Night” aransemen KiaiKanjeng di Youtube, saya yakin kebanyakan dari anda sudah hafal intonasi suara seruling yang ditiup oleh Pak Is dalam lagu tersebut.

Beliau memang seorang maestro seruling di Indonesia. Dan kita sangat bersyukur karena pernah dipertemukan dengan sosok Pak Ismarwanto di Maiyah. Kita tidak akan menemukan daftar nama beliau dalam jajaran musisi di Indonesia, tetapi kita semua sangat yakin bahwa Pak Is layak disejajarkan dengan mereka yang di dunia musik Indonesia disebut-sebut sebagai musisi.

Pak Is sendiri bukan lulusan fakultas sebuah kampus yang terfokus mempelajari seruling. Tetapi Pak Is menemukan sendiri kampusnya untuk mempelajari seruling. Dengan membuat sendiri serulingnya, Pak Is bukan hanya memahami alat yang ia mainkan dalam bermusik, tetapi Pak Is benar-benar mengenal bahan baku untuk membuat seruling yang ia gunakan. Bahkan tanpa menyentuh jenis bambu yang menjadi bahan baku seruling, Pak Is sangat faham bambu mana yang memang berkualitas baik untuk dijadikan seruling.

Ilmu yang dimiliki oleh Pak Is untuk membuat seruling bukan ilmu yang bisa diwariskan begitu saja. Karena Pak Is sangat menjiwai bambu yang ia sentuh dan kemudian ia olah menjadi seruling. Bagaimana kualitas seruling hasil buatan Pak Is itu? Silahkan cek sendiri di berbagai video KiaiKanjeng yang sudah beredar di internet.

Ada sebuah cerita lucu yang pernah dikisahkan oleh Pak Bobiet. Dalam sebuah obrolan sore saat itu Pak Bobiet menceritakan bahwa salah satu syarat menjadi personel KiaiKanjeng adalah pernah mengalami ketinggalan bus rombongan. Tidak terkecuali dengan Pak Is.

Suatu ketika, Pak Is ketinggalan bus rombongan KiaiKanjeng. Pak Bobiet adalah teman satu kamar Pak Is saat itu. Pak Bobiet mengira bahwa Pak Is sudah keluar dari Hotel, karena di tempat tidur sudah tidak terlihat. Singkat cerita, bus rombongan KiaiKanjeng meninggalkan hotel transit. Setelah sekian jauh perjalanan, seluruh yang ada di bus baru menyadari bahwa Pak Is tidak terlihat di dalam bus. Tentu saja seluruh personel bingung.

Diceritakan oleh Pak Bobiet, saat itu belum ada teknologi Whatsapp seperti hari ini, sehingga semuanya sibuk mencari di mana Pak Is berada. Usut punya usut, ternyata Pak Is masih berada di kamar hotel, dan masih tidur dengan nyenyak di tempat tidur. Mohon maaf, tubuh Pak Is yang kecil itu dikira oleh Pak Bobiet adalah bantal guling yang ditutupi selimut, karena memang Pak Is saat itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Mungkin kedinginan karena AC kamar terlalu rendah suhunya.

Ada-ada saja Pak Is. Namun akhirnya Pak Is dijemput kembali ke hotel transit. Bagaimana dengan personil KiaiKanjeng yang lain, apakah pernah mengalami ketinggalan Bus? Sudah pernah semua, kata Pak Bobiet.

Memang, ketika seseorang sudah meninggal dunia, maka semua kenangan yang pernah kita rasakan akan muncul dalam memori ingatan kita. Begitu juga dengan Pak Is. Saya yakin anda semua juga masih hafal senyuman Pak Is, gerak tubuh Pak Is, bagaimana cara merokok Pak Is sampai ketika Pak Is meniup seruling saat KiaiKanjeng memainkan sebuah nomor lagu.

Pak Is, sudah pasti kami semua akan merindukanmu. Karena sekarang, kami sudah tidak akan lagi mendengarkan langsung alunan seruling khas tiupan Pak Is di nomor “One More Night” dan lagu-lagu lainnya. Matur suwun Pak Is, njenengan sudah mengajarkan kepada kami arti tentang kesetiaan, kemurnian, dan kejujuran. Karena kami melihat Pak Is adalah manusia yang otentik. Manusia yang tidak membutuhkan pencitraan agar dilihat oleh orang lain. Sugeng tindak Pak Is.