Pahala Bersabar dan Mau Memaafkan

Laporan singkat Majelis Ilmu Padhangmbulan Jombang, 30 April 2018

Hari ini, seolah masyarakat kita tengah sedikit kurang bersahabat dengan yang namanya ideal. Cak Fuad mencontohkan saat ada yang menjelek-jelekkan Islam ataupun mengejek ulama’, seketika akan ada dua kubu yang muncul karenanya. Yang satu ingin segera menyalahkan, sedang yang lain kekeh ingin memaafkannya. Lantas, di kubu mana kita sebaiknya? Menghukumkah, atau memaafkannya?

Berpuasa. Berhenti sejenak untuk merenung sebelum mengambil keputusan. Tidak terburu-buru memutuskan. Begitulah kiranya yang diingatkan Cak Fuad tadi malam di Padhangmbulan.

Melihat kondisi ini, Cak Fuad pun mengajak jamaah untuk sejenak mencoba melihat bagaimana Al-Quran dan para Rasul Allah dahulu mengajari kita menyikapi keadaan seperti ini. Cak Fuad membacakan beberapa ayat Al Quran, di antaranya ada QS Al-Baqarah ayat 194 dan juga As-Syura ayat 40. Tentu ayat-ayat tersebut turun pada konteks yang tak sama. Secara keseluruhan, ayat-ayat itu membolehkan kita membalas kejahatan yang telah dilakukan seseorang kepada kita. Dengan catatan, balasan yang kita lakukan pun harus setimpal dengan apa yang telah dilakukan orang tersebut. Jangan sampai melebihinya. Dan inilah yang menjadi ciri khas ajaran Islam yaitu selalu mengajarkan bersikap adil, pas, presisi, dan tidak berlebihan.

Seusai jeda, ternyata ayat-ayat tersebut pun masih berkelanjutan. Meskipun Tuhan membolehkan balasan yang setimpal, memaafkan dan bersabar atas kedzaliman yang dilakukan orang lain itu jauh lebih baik daripada membalasnya. Tidak tanggung-tanggung, Allah pun menjanjikan pahala yang sangat tinggi bagi orang-orang yang mampu bersabar dan memaafkan atas kejahatan yang telah dilakukan orang lain terhadapnya.

Dan kalau berkaca pada sifat Kanjeng Nabi, Beliau memiliki dua sifat dasar, al hilmu dan arrahmah. Kanjeng Nabi mampu bersabar untuk tidak segera menghukum. Tak ayal jika sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan bahwa membebaskan seribu orang yang hersalah itu lebih baik daripada menghukum satu orang yang tak bersalah.

Benar kiranya apa yang telah disampaikan Mas Amin saat memandu para perwakilan simpul tadi. Di PadhangmBulan ini, jamaah bisa menyepi sejenak, bertapa sejenak, menepi dari hiruk-pikuk aktivitas di luar sana, guna menjernihkan hati dan menata pikiran. Untuk kemudian, dari ‘pertapaan’ di PadhangmBulan ini, kita bisa memetik buah dan sedikit-sedikit belajar meneruskan membagikannya sepulang dari sini. Syukur-syukur kita bisa turut belajar menanam pohon, sebagaimana yang Cak Dil sampaikan, bahwa maiyah, simpul-simpul maiyah ini ibaratkan menanam pohon yang memberikan keteduhan bagi sekitar. (hilwin)

Hari ini, seolah masyarakat kita tengah sedikit kurang bersahabat dengan yang namanya ideal. Cak Fuad mencontohkan saat ada yang menjelek-jelekkan Islam ataupun mengejek ulama’, seketika akan ada dua kubu yang muncul karenanya. Yang satu ingin segera menyalahkan, sedang yang lain kekeh ingin…