Padhangmbulan dan Bocah yang Belajar Mandiri

Liputan Singkat Majelis Ilmu Maiyah Padhangmbulan, 28 Juni 2018

Padhangmbulan, universitas kehidupan. Padhangmbulan telah, sedang, dan akan terus menempa beribu-ribu nyawa buat belajar menjadi manusia.

“PB itu sami kaleh gudang ilmu.” Seorang jamaah generasi zaman next alias generasi Maiyah yang dilahirkan 18 tahun lalu ini menyuarakan pendapatnya mengenai Padhangmbulan. Bahwa dalam pandangannya, Padhangmbulan, Maiyahan ini adalah gudang ilmu. Semua ilmu bisa dipelajari di sini.

Mau belajar apa? Mau mencari apa? Di sini kita bisa mempelajari apapun saja. Mas Syaiful pun kembali menghadirkan kenangan akan Padhangmbulan beberapa bulan lalu. Saat Mas Syaiful menyaksikan bahwa pengajian tak melulu mempelajari apa yang selama ini disebut “ilmu agama”. Pengajian pun mempelajari ilmu perbubutan. “Di mana lagi ada pengajian seperti ini kalau tidak di Padhangmbulan?” Tanya Mas Syaiful mengingatkan karakter lain daripada yang lainnya Padhangmbulan.

Sebagai madrasah, Padhangmbulan memberikan kesempatan untuk siapapun saja yang ingin belajar berkarya. Padhangmbulan memberikan panggung kepada siapapun yang ingin bisa. “PB mulai bulan depan akan banyak sekali diwarnai kreativitas anak muda. Tapi tetap ruhnya adalah Maiyah,” Cak Yus mempersilakan para jamaah yang ingin menunjukkan otentisitas dan pengasahan pribadinya.

Semua ini dilakukan untuk menjadi bagian dari usaha mempersiapkan generasi Maiyah masa depan. Generasi yang mampu terus-menerus menebar kebaikan dan keindahan dengan berlandaskan kebenaran.

“Lahirlah-lahirlah, lahir kembali. Bangunlah-bangunlah, bangun kembali. Mengumpulkan kepingan-kepingan saudaramu yang ditinggalkan oleh kemajuan.”

Jangan khawatir, Cak. Besar keyakinan, bahwa dari sini akan banyak terlahir generasi tangguh. Jiwa ini optimis melihat adik-adik 9 tahunan yang dengan semangat kemandirian menjajakan tikar plastik di area parkiran. Ini bukan soal tikar plastik. Tapi tentang bagaimana bocah kecil ini bisa mengambil peluang dari Padhangmbulan untuk mempelajari sesuatu yang belum tentu ia dapatkan di bangku sekolahan.

Lagi, Cak. Pesimis ini semakin terkikis melihat para pemuda yang begitu antusias mempelajari apapun saja. Semua, ini bisa menjadi bekal untuk memancarkan cahaya di hari-hari berikutnya.

“Lihatlah-lihatlah mentari baru, yang terbit dari dalam tekadmu. Sesudah senja di ujung duka, nikmatilah mengalirnya cahaya.”

Sayup-sayup lagu Padhangmbulan yang dinyanyikan Mbah Frangky Sahilatua masih terdengar menemani para nyawa yang ingin belajar menjadi manusia. Bukan hanya fisiknya yang berwujud manusia, tapi benar-benar menjadi manusia. Manusia yang mampu menggunakan kesadaran akal pikiran dan hatinya dalam melakukan setiap tindak-tanduknya. Bukan sekadar ikut arus, apalagi sami’na wa atho’na saat dikendalikan oleh yang berada di luar sana. (Hilwin Nisa’)