Paceklik

Mukadimah Tadarus Limolasan September 2018

Jauh panggang daripada api, harapan yang pupus. Usaha yang telah dilakukan sejak menanam, menyemai, menyirami tak berujung dengan panen karena paceklik. Paceklik adalah musim berlangsungnya kondisi “sepi” dari rezeki yang umum didefinisikan oleh manusia. Tidak hanya dalam bidang pertanian sebetulnya paceklik berlangsung. Dalam setiap segi kehidupan manusia, jauh dari sesuatu yang ideal dapat disebut paceklik.

Paceklik tidak melulu dalam persoalan global, paceklik atau panen dalam waktu yang bersamaan bisa terjadi pada setiap orang. Yang dimaksud adalah misal dalam kondisi yang sama dua orang yang berbeda dalam menyikapi hasil yang didapat bisa membedakan kondisi tersebut paceklik atau panen.

Jika hasil panen seberat 1 kwintal diterima dengan ngresulo oleh si A karena panennya tahun lalu hampir mencapai 1 ton, namun si B menerima dengan rasa syukur walaupun tahun lalu mencapai 2 ton, setidaknya hasil 1 kwintal pada tahun ini sudah cukup untuk biaya kuliah anaknya, maka 1 kwintal bagi si A adalah paceklik namun panen bagi si B.

Melihat konteks manusia zaman now yang tentu lebih berkecukupan dan serba terfasilitasi oleh kemudahan, namun moral yang semakin merosot dan meningkatnya kasus kriminal, maka dari sudut pandang etika, tentu zaman sekarang adalah paceklik jika dibandingkan dua generasi sebelum kita. Pada saat itu jarang ditemui hamil pra nikah dan kasus perampokan yang berawal dari kesulitan ekonomi untuk menuruti gengsi.

Riuh, gempar, gusar, ramai, karena banyak dan bebas. Beda dengan zaman yang serba harus tak boleh tidak, yang penting ABS (Asal Bapak Senang) suara dibungkam, kritik dilarang, pengkultusan oleh kelompok, kejengahan oleh rakyat. Semua ditolak jika tak sesuai tanpa ada dialog. Penguasa hanya satu, pemimpin tunggal yang tidak boleh dibantah. Jika sekarang banyak orang yang terlalu bebas bersuara dan seolah semua layak menjadi pemimpin, panen atau paceklik stok pemimpin negeri ini?

Negeri ini panen melimpah stok calon penguasa, namun minim persediaan pemimpin yang berjiwa negarawan. Semua orang merasa dirinya pantas menjadi pemimpin tanpa indikator yang jelas, banyak yang bahkan belum selesai memimpin dirinya sendiri. Masih menjadi budak hawa nafsu dan selalu tunduk pada apapun yang berpotensi menguntungkan diri walau merugikan yang lain. Namun dengan gagah membungkus dirinya dengan slogan amanah, jujur, religius, dst.

Pun sama halnya dengan ekonomi di negara ini, kalau semua kemegahan infrastruktur adalah investasi jangka panjang dengan berhutang pada dunia, nyatanya pembangunan yang ada dalam skala makro negara ini adalah pembangunan untuk para makhluk megapolitan yang sangat dinamis, entah sejauh mana dan seberapa berhasil dan efektifnya revolusi mental.

Tidak masalah, faktanya manusia Indonesia memang ditakdirkan lahir dengan mental yang sangat kuat bahkan lebih perkasa dibandingkan gladiator manapun. Jika ada data setiap bayi yang lahir sudah menanggung hutan jutaan, bukannya mengurangi tapi justru dengan daya nekatnya saat beranjak dewasa dia akan menambah hutang itu secara langsung pada dirinya. Kalau ada yang mengatakan daya beli menurun, tapi bisa dilihat semakin tinggi pula daya nekat masyarakat kita.

Dus, paceklik atau panen itu bukanlah musim. Tapi lebih tepatnya adalah sindrom, maka jika keduanya dikatakan hasil dari suatu proses ternyata kurang tepat, karena sejatinya semua usaha yang dilakukan demi mencapai kesuksesan bernama panen akan tetap menjadi paceklik jika sebetulnya kita mampu merasakan panen sepanjang hayat jika kita mampu bersyukur.

Paceklik Kepemimpinan

Paceklik. Mungkin istilah ini yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan keadaan Indonesia saat ini. Paceklik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai masa kekurangan atau masa sulit. Bukan masa sulitnyapetani untuk panen karena musim kemarau atau masa sulitnya para pengusaha karena harga komoditas barang yang naik akibat menguatnya dollar terhadap rupiah. Melainkan masa dimana sekarang sulit mencari dan menemukan pemimpin yang amanah. Pemimpin yang tidak mudah tergiur dengan kenikmatan dunia dan tidak mudah untuk digoda. Pemimpin yang memang berangkat dari proses belajar yang panjang dan bukan pemimpin yang hanya melalui proses karbitan semata.

Teringat sebuah hadits yang menjelaskan bahwa “Shalat jamaah lebih baik 27 derajat dibanding shalat sendirian.” (HR. Bukhari). Hadits ini yang mungkin menjadi inspirasi para elit korup di Indonesia dalam menjalankan aksinya. Mereka menyengajakan salah tafsir dengan mengartikan bahwa segala sesuatu yang dilakukan secara bersama-sama akan membawa manfaat yang besar pula atau bahkan mungkin tidak mengerti sama sekali apa tafsir tersebut. Namun, hal ini menjadi menyimpang karena digunakan untuk semua hal. Tidak terkecuali ketika mereka memberanikan diri untuk melakukan tindakan korupsi.

Dosa besar ini seakan menjadi virus yang sudah menjalar ke berbagai elemen pemerintahan. Tercatat sebanyak 2.357 koruptor masih berstatus Pelayan Rakyat terjerat kasus tersebut. Kemudian yang lebih mengejutkan belum lama ini diberitakan sebanyak 41 dari total 45 anggota dewan di daerah tertentu ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan anggaran. Hal itu dilakukan setelah petugas yang berwajib mengumumkan 22 anggota dewan di suatu daerah di Jawa Timur sebagai tersangka kasus dugaan suap pembahasan APBN-P Pemkot Tahun Anggaran 2015.

Pergeseran pola korupsi dari individu menuju korupsi secara massal merupakan fenomena yang sangat menarik. Para ahli sosiologi menyebutkan hal ini merupakan salah satu bentuk penyimpangan kolektif. Kelompok, jenis ini suka melakukan tindak kejahatan baik secara sembunyi-sembunyi (syaraqah siriyyah) maupun secara terbuka secara bersama-sama. Sepertinya tafsir peribahasa Berat sama dipikul ringan sama dijinjing kembali disalahartikan. Kaum ini menjadi lebih memiliki keberanian untuk melakukan penyimpangan karena dilakukan secara bersama-sama atau dalam istilah lain sering disebut dengan koreupsi berjamaah.

Tidak berhenti sampai di situ, logika masyarakat kembali dibuat terbalik ketika lembaga yang bertugas mengawasi jalannya Pemilihan Umum meloloskan beberapa calon legislatif yang akan ikut berkontestasi pada Pil-Pil 2019 mendatang, notabene adalah eks narapidana maling uang negara. Para elite yang sejatinya dipilih oleh rakyat untuk mengemban amanah (kepercayaan rakyat) dalam mengelola negara tanpa rasa malu sedikitpun justru sebaliknya, mengambil sesuatu yang bukan haknya (nyolong). Mereka tidak lagi memikirkan kepentingan yang lebih besar yaitu rakyat sebagai majikan, melainkan hanya memikirkan kepentingan pribadi dan golongan. Rela menciderai kepercayaan yang diberikan dengan seakan menutup mata ketika dihadapkan pada masalah yang ada. Tak peduli rakyat menjerit dan meronta akibat ulahnya. Kaum ini terus saja berdalil bahwa itu hanyalah fitnah belaka. Rakyat yang menjadi korban hanya bisa gigit jari melihat kenyataan bahwa negaranya sudah kering akan pembantu yang peduli terhadap majikannya.

Spiritualitas Pemimpin

Pemimpin yang baik sejatinya memilik spiritualitas yang tinggi. Mereka harus memiliki kepekaan terhadap apa yang mereka terima sebagai amanah rakyat serta mampu menjalaankan dengan sebaik-baiknya. Selanjutnya seorang pemimpin harus mampu mengendalikan dirinya dari godaan-godaan gemerlap dunia yang akan membutakan matanya.

Selain itu, seorang pemimpin juga harus memiliki 2 kriteria yang sangat penting yaitu ‘Imamah dan ‘Ilmu yang baik. ‘Imamah di sini dimaksudkan bahwa seorang pemimpin memiliki kemampuan Leadership yang baik. Sehingga keputusan yang ia ambil sesuai dengan kebutuhan dan tepat sasaran. Sedangkan ‘Ilmu yang dimaksud adalah kemampuan untuk menjalankan tugas sesuai tanggung jawab. Kemudian yang terpenting adalah dengan memiliki ‘lmu yang baik akan menghindarkan dari hal-hal yan bisa menciderai amanah rakyat.

Penulis teringat Serat Kalathida karya Raden Ngabehi Ronggowarsito yang memberikan banyak pelajaran kehidupan kepada kita. Pada pupuh ke-7 disebutkan:

Amenangi zaman edan, ewuhaya ing pambudi
Melu ngedan nora tahan, yen tan melu anglakoni,
Boya keduman melik, kaliren wakasanipun,
Ndilalah kersa allah, begja-begjaning kang lali,
Luwih begja kang eling klawan waspada.

Artinya kurang lebih seperti ini: “Hidup di dalam jaman edan, memang repot. Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan. Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.”

Dari sini jelas bahwa Ronggowarsito ingin mengajarkan kepada kita semua, terutama kepada para pemimpin untuk terus waspada dengan apa yang dihadapi. Memimpin itu bukan sekedar menjalankan tetapi juga menahan. Menjalankan apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya serta menahan diri dari hal yang merugikan. Maka dari itu diperlukan mental yang kuat agar para pemimpin kita mampu mengemban tugas serta mampu menjalankan amanah rakyat dengan baik.

Sebenarnya sudah ada prototype yang jelas bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik. Rasulullah menjadikan dirinya sebagai uswah bagi umatnya baik dalam hal sebagai pemimpin negara sekaligus pemimpin agama. Bagaimana beliau memimpin, mengambil keputusan, maupun dalam menyelesaikan konflik yang ada menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Terlebih beliau juga mengajarkan akan rasa khauf terhadap Allah SWT yang Maha Mengetahui akan apa yang dilakukan oleh hambanya. Ketika seorang pemimpin memiliki rasa takut terhadap Tuhanya maka secara tidak langung ia akan selalu menjaga hatinya agar berjalan dalam koridor yang seharusnya. Karena diatas kekuasan yang mereka miliki masih ada kekuasaan yang lebih besar di atasnya yaitu Allah SWT.

Buku Cak Nun