Orang Mandar yang Lahir di Jombang: Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar

Majalah Sastra Sabana Yogyakarta, 2015

Guru, Kakak, dan Sahabat

Dalam berbagai hal orang Mandar seringkali melibatkan Mbah Nun. Misalnya, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Salah satu calonnya adalah orang Mandar. Terhadap calon dari Mandar ini banyak mendapatkan penolakan dari elit Sulawesi Selatan saat itu. Segala cara diupayakan oleh tokoh-tokoh Mandar, untuk menggolkan calon tersebut. Nyaris tidak membuahkan hasil.

Lalu ada beberapa pihak dari Teater Flamboyant, dan ada satu dua tokoh masyarakat Mandar, menyarankan untuk melibatkan Mbah Nun. Saat maksud itu disampaikan kepadanya, tanpa berpikir panjang, Mbah Nun mau terlibat dan langsung menulis surat yang ditujukan ke Menteri Agama, yang saat itu dijabat oleh Malik Fajar.

Demikian pula, saat terjadi suksesi kepemimpinan di Kabupaten Polewali Mamasa. Tiga tokoh sepuh Mandar, H. Abd. Malik Pattana Endeng, Abdullah Madjid (Mantan Bupati), dan S. Mengga (Mantan Bupati), bersepakat untuk mendorong calon dari sipil menjadi Bupati Polewali Mamasa. Mbah Nun-pun rela menemani mereka untuk menghadap ke Agum Gumelar, Panglima Kodam VII Wirabuwana. Kedekatan Agum Gumelar dengan Mbah Nun dibaca menjadi alasan pelibatan dirinya dalam urusan ini. Dan dari mana orang Mandar tahu bahwa Agum dan Mbah Nun dekat? Karena Mbah Nun pernah menulis di media yang mengapresiasi Agum Gumelar.

Pasca reformasi, dan kran pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) mulai terbuka, orang-orang Mandar pun mulai bergerak, berjuang untuk membentuk sebuah provinsi Sulawesi Barat. Mbah Nun, yang diyakini ‘didengar’ oleh orang pusat pun dilibatkan. Ia dinobatkan menjadi tim penasehat bersama sepuh Mandar lainnya.

Tatkala Gus Dur yang menjadi presiden, Mbah Nun memediasi pertemuan pejuang pembentukan Sulawesi Barat, dengan Gus Dur. Makin yakinlah orang-orang Mandar bahwa perjuangan pembentukan Sulawesi Barat yang sudah lama digelorakan akan mewujudkan hasil. Akhirnya September 2004, Provinsi Sulawesi Barat bisa terwujud.

Pertanyaannya adalah kenapa sepertinya Mbah Nun, tidak mengenali kata ‘Tidak’ bagi orang Mandar? Bahkan dalam berbagai kesempatan ia menyatakan bahwa kala berada di Mandar, dirinya adalah ‘mayat’, yang rela dibawa kemana saja. Inilah yang sampai sekarang menjadi pertanyaan besar baik di internal Mandar maupun luar Mandar.

Nurdin Hamma (76), Pimpinan Muhammadiyah Cabang Balanipa, salah seorang sepuh, seorang tokoh Mandar juga sungguh kagum kepada Mbah Nun, mencoba mengurai jawaban atas pertanyaan itu. Dalam pandangannya, Mbah Nun adalah guru Bangsa yang riil. Hampir seluruh wilayah Indonesia didatanginya, semata untuk mendidik manusia.

“Cak Nun adalah orang Mandar yang kebetulan lahir di Jombang. Kedatangnnya di Mandar lebih merupakan upaya menapaktilasi perjalanan sejarah panjang Indonesia. Hal itu mungkin dianggapnya penting, untuk mematrikan pada dirinya bahwa Indonesia ada di mana-mana di Nusantara ini, tanahnya luas dan subur namun rakyatnya bak penumpang yang ketinggalan kereta”, ungkap Nurdin Hamma.

Sekarang, mereka yang dulu, sekitar 30-an tahun lalu, hidupnya liar, mabuk-mabukkan dan sepanjang malam bernyanyi-nyanyi di pinggiran jalan, kini sudah memasuki usia yang matang, menuju setengah abad. Profesi mereka beraga. Pedagang, Guru, PNS, tukang ojek, dan sebagian kecil bergabung ke partai menjadi politisi.

Mereka sudah beranak pinak, dan sebagian dari mereka sudah ada yang anaknya sarjana. Mereka tetap saja hormat dan takzim kepada Mbah Nun. Sekarang mereka jarang menyebutnya Emha. Mereka menyebutnya Cak Nun.

“Cak Nun, adalah guru, kakak dan sahabat yang setia menjadi ‘keranjang sampah’ dari keluh-kesah kami. Segala sesuatu urusan kami selalu disandarkan kepada apa wejangan Cak Nun. Untuk memberi nama putra atau putrinya yang baru lahir, mintanya pun ke Cak Nun.”

“Beliau adalah bagian dari hidup kami.”

“Apa yang dulu diajarkan oleh Cak Nun kepada kami menjadi spirit kami dalam menjalani hidup. Kami bersyukur karena Cak Nun berkenan mengarahkan kami menjadi orang baik, itu cukup bagi kami. Tentu penilaian ini sifatnya subjektif, tapi setidaknya kami bangga hidup dengan apa adanya. Kami bisa hidup dengan tanpa mengganggu orang lain, tanpa merampas hak orang lain”.

“Kami sungguh cinta kepada Cak Nun, dan kecintaan itu pun kami wariskan kepada anak-anak kami”.

Tinambung, 4 Mei 2015