Orang Mandar yang Lahir di Jombang: Jejak Mbah Nun di Tanah Mandar

Majalah Sastra Sabana Yogyakarta, 2015

“Emha datang!”, beberapa dari anak-anak Muda Flamboyant berteriak-teriak. Mereka berdiri di sepanjang jalan dalam jejeran panjang. Bagai prajurit yang menantikan datangnya panglima yang dihormatinya. Setelah turun dari bus yang ditumpanginya, berdesak-desakkan orang-orang mendatanginya, memeluknya dan menciumi tangannya. Lucunya, beberapa orang yang tidak mengenali sebelumnya, menganggap bahwa sosok Mbah Nun, adalah sosok kyai, seorang tua yang mengenakan gamis dan surban. Tapi saat turun dari bus, ia mengenakan jaket kulit dan berambut gondrong serta melangkah dengan gagah. Pupuslah bayangan awal itu. Ternyata Mbah Nun seorang muda, jauh dari sosok seorang kyai.

Selama di Mandar, Mbah Nun melakukan berbagai aktivitas. Memimpin langsung workshop, memandu anak-anak muda dalam diskusi dengan aneka topik, mandi ke sungai Mandar, sambil menantang anak-anak Mandar berlomba menyelam. Di samping itu Mbah Nun harus rela menerima daulat masyarakat Mandar, khususnya kaum ibu, yang beramai-ramai datang membawa sebotol dua botol air mineral, meminta keberkatan dari doa-doanya. Ada beragam topik masalah yang diajukan mereka ke Mbah Nun; penyembuhan, pengasihan, dan soal rezeki.

Kehadiran Mbah Nun di Mandar–disadari atau tidak–berperan mendinamisasi proses berpikir kirtis dan proses kreatif masyarakat Mandar dalam semua aspek kehidupan. Ya politik, ekonomi, sosial budaya dan tentunya dalam hal agama dan keberagamaan.

Pada kunjungan yang kedua ke tanah Mandar, Mbah Nun mengingatkan ke orang-orang Mandar, untuk senantiasa waspada. Sebab relatif tidak terlalu lama mendatang perubahan demi perubahan akan berlangsung pula di Mandar. Jembatan sudah mulai dibangun, jalan-jalan akan makin diperlebar. Tidak lama lagi mobil ukuran raksasa akan melintas, mengantar-pulaukan aneka produk pertanian di Mandar. Fakta itulah yang terjadi sekarang.

Pada lingkup pengembangan seni budaya, peran Mbah Nun memberi support yang cukup signifikan. Komunitas kesenian bertumbuh dan berkembang. Teater Flamboyant, yang pada awalnya menjadi hunian anak-anak muda tanggung, suka mabuk-mabukkan, anak-anak muda yang tidak terdidik, merupakan komunitas Mandar pertama yang disentuh. Keberpihakannya terhadap proses pengembangan seni budaya Mandar terwujud dalam bentuk upaya fasilitasi pelaku seni budaya Mandar untuk bisa tampil di tanah Jawa. Maestro Rebana Perempuan, Bu Cammana, yang diundang khusus untuk tampil di Yogya.

Saya Orang Mandar yang Lahir di Jombang

Dalam berbagai kesempatan, entah di Mandar dan di luar Mandar, seringkali Mbah Nun mendeklarasikan dirinya sebagai orang Mandar. “Saya orang Mandar yang lahir di Jombang”. Ungkapan ini cukup membanggakan orang-orang Mandar. Dan dengan pernyataan itu pula para tokoh dan sesepuh orang Mandar meresponsnya dengan penuh keikhlasan.

Taruhlah misalnya Husni Djamaluddin (penyair), Baharuddin Lopa (Menteri Hukum dan Perundang-undangan dan Jaksa Agung di masa Gus Dur), Andi Mappatunru Sompawali (tokoh adat, mantan anggota DPR), S. Mengga (mantan Bupati Polewali Mamasa), dan sejumlah tokoh lainnya. Tentu pernyataan itu tidak sepihak. Sebab Mbah Nun kemudian didaulat menjadi orang Mandar oleh tokoh-tokoh masyarakat Mandar yang berhimpun di Yayasan Sipamandar.

Dalam momentum halal bi halal di tahun 1999, Mbah Nun disemati peniti emas, sebagai penanda bahwa Mbah Nun adalah warga Mandar kehormatan atas upayanya mengenalkan Mandar ke Indonesia, melalui tulisan-tulisannya.

Tahun 1997, Teater Flamboyant Mandar menghelat seminar bertajuk “Kebebasan Berekspresi, Dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia”. Pembicara utama dalam seminar ini adalah Baharuddin Lopa yang disandingkan dengan Mbah Nun. Ketika itu Mbah Nun sedang dicekal di beberapa tempat, tidak diperkenankan bicara di depan orang banyak.

Tiba saatnya, untuk tampil, tiba-tiba aparat kepolisian dipimpin Wakapolres Polewali Mamasa (sekarang Polewali Mandar) saat itu bersikeras tidak memperkenankan Mbah Nun berbicara. Tentu, panitia kasak-kusuk, termasuk Barlop (sebutan Baharuddin Lopa), pak Husni Djamaluddin dan Andi Mappatunru. Alhasil, terbangun kesepakatan antara panitia dengan tokoh-tokoh masyarakat Mandar, bahwa Mbah Nun, tetap hadir di arena seminar tapi tidak tampil bicara.

Lalu kemudian, pasca seminar, diskusi dengan Mbah Nun digelar di tempat lain. Pilihan tempat saat itu adalah di rumah Andi Mappatunru, sesepuh Masyarakat Mandar. Usai seminar, Baharuddin Lopa, Mbah Nun, Husni Djamaluddin, Zubair Rukkawali, Alisjahbana, bersama puluhan anak muda bergerak ke rumah Andi Mappatunru di Kandeapi, sekitar 600 meter dari lokasi seminar.

Diskusi pun digelar. Husni Djamaluddin bertindak selaku moderator memberi kesempatan kepada Mbah Nun untuk bicara. Mbah Nun lalu menggambarkan situasi politik nasional saat itu, juga menceritakan perihal pencekalan dirinya, yang menurutnya itu takhayul. Dalam kesempatan itu, Mbah Nun, di depan Baharuddin Lopa, mengajak hadirin untuk mendoakan agar kelak Baharuddin Lopa bisa memimpin Indonesia, minimal jadi Menteri. Dan kepada Baharuddin Lopa, Mbah Nun menyematkan gelar “Ayatullah Baharuddin Lopa”.

Baharuddin Lopa dan Mbah Nun.

Beberapa tahun kemudian Baharuddin Lopa, memang menjadi menteri kehakiman, entah karena doa bersama di rumah A. Mappatunru beberapa tahun silam, yang diijabahi oleh Tuhan, atau memang sudah ‘nasib’ bagi Barlop untuk menjadi menteri. Karena konon menurut Husni Djamaluddin, penguasa Orde Baru pernah menawarkan jabatan menteri kepada Barlop asal ia mau mengakui keberhasilan penguasa Orde Baru dan mengungkapkannya ke publik, meski pada akhirnya Barlop tak tergiur bujukan itu.