Nyinatria (Dadia Satria)

Mukadimah Pasemuan Bebrayan Cilacap Juni 2018

Gurunda kita, Muhammad Ainun Nadjib selalu mengatakan jangan Qola Cak Nun, tapi Qola Alloh dong. Jangan ada batas antara kamu dengan Tuhan. Kalaupun ada pembatas cukuplah itu Rasulullah.

Mbah Nun pun selalu mengingatkan, “Jangan jadi pengikutku, aku jadi pengikutnya Rasulullah saja terseok-seok. Malah kamu berkeinginan jadi pengikutku. Temukan dan jadilah dirimu sendiri.”

Apa sebenarnya makna yang terkandung di dalamnya?

Sistem sosial mengenal tata nilai dan konstruksi norma, baik itu tertulis ataupun tidak. Baik itu dari agama yang hari ini melembaga menjadi Ormas, MUI, Kemenag dan Madzhab Fiqh. Ini kita tekankan pada agama dalam hasil tafsir elit pemeluknya, yang mana jutaan orang tunduk patuh padanya. Yang mana tafsir mereka belum tentu sama dengan apa yang dimaksud oleh pencipta agama sendiri. Ataupun Negara dengan segala produk hukumnya.

Selama ini kita menyadari bahwa semuanya itu telah alamiah dan tak bisa diganggu gugat. Sudah Final. Bahwa semua itu harus ada dan tak bisa ditolak. Padahal bukankah semua itu adalah produk manusia. Baik itu tafsir maupun produk hukum? Bisakah manusia yang serba terbatas dan tidak absolut ini menciptakan pemikiran yang pasti dan mutlak benar? Kalau tidak bisa, bukankah hasil pemikirannya pun bersifat terbatas? Bukankah Itu hanya perspektif mufasir dan produsen undang-undang semata? Kalau itu perspektif berarti itu pilihan.

Pilihan kita terhadap nilai dan norma itu hanya ada dua. Mengikuti atau membuat sendiri. Penekanan Mbah Nun agar tidak ada batas antara kita dengan Allah adalah agar kita sanggup memproduk nilai sendiri, mentadaburi ayat qauliyah sendiri dan peka serta memberi makna sendiri terhadap tiap inci dan gerak alam qauniah yang tiap saat tersaji di depan kita.

Selama kita mengikuti hasil pemikiran orang lain, selama itu pula kita membebek, selama itu pula kita menjadi kerumunan. Kita hilang tanpa punya identitas murni yang kita miliki. Sedangkan kelak kita mati dan menghadap dan mempertanggungjawabkan semuanya sendiri? Cobalah sesekali kita memandang diri sendiri, mana yang benar-benar identitas diri kita atau justru selama ini kita mengikuti identitas orang lain, identitas idola kita, identitas kerumunan. Kerumunan partai, kerumunan perusahaan atau kerumunan pasar serta masyarakat. Ada dan tidaknya kita sama saja. Al-wujudi ka ‘adami, manusia mubah. Kita hanya angka dan penambah jumlah, tidak masuk dari mereka yang diperhitungkan. Kitalah buih di lautan yang dihempas gelombang tanpa punya makna dan arti. Kitalah kue yang diperebutkan oleh barat dan timur dan diperhinakan oleh utara dan selatan.

Seorang Ksatria adalah mereka yang terlepas dan tidak terjajah oleh semua nilai dan batasan yang dibuat oleh siapapun. Mereka merdeka. Ini bukan berarti mereka hidup tanpa nilai. Mereka hidup dengan nilai otentik yang ia peroleh dari proses merenung, tanpa mengikuti trend kerumunan. Mereka cipta dan jalani dengan penuh tanggungjawab nilai originalnya sendiri. Mereka berhasil membuka hijab masa depan dirinya tanpa takut batasan apapun.

Mereka tidak lari dari kenyataan hidup, tidak terjebak pada permasalahan eskatologi dan metafisika yang spekulatif, mereka hadapi dengan keyakinan bahwa mereka lahir dan ditempatkan di bumi untuk menyelesaikan tugasnya sebagai Wakil Alloh atau Khalifatullah. Khalifatullah yang tidak cengeng, yang sebentar-bentar menjawab Wallahua’lam Bish-shawab dan mengatakan bahwa ini kehendak Tuhan yang harus diterima tanpa tawar. Merekalah yang tangannya kotor karena mengangkat kucing di selokan, bukan mereka yang telunjuknya bersih karena buta realitas dan melaporkan semuanya ke langit.

Gurunda kita, Muhammad Ainun Nadjib selalu mengatakan jangan Qola Cak Nun, tapi Qola Alloh dong. Jangan ada batas antara kamu dengan Tuhan. Kalaupun ada pembatas cukuplah itu Rasulullah. Mbah Nun pun selalu mengingatkan, “Jangan jadi pengikutku, aku jadi pengikutnya Rasulullah saja terseok-seok.