Niteni Berhala Zaman

Mukadimah Suluk Pesisiran Maret 2018

Tiap kali kita disodori kata “kebenaran”, bisa jadi pikiran kita melayang menuju pada sesuatu yang menjadi patokan. Bisa berbentuk Kitab suci, Undang-undang, Peraturan, atau apapun yang dianggap normatif, yang biasanya berposisi saling berhadapan, hitam-putih dan kadang kaku tanpa sela.

Tapi apakah benar hal-hal yang selama ini dipresisikan hitam-putih, berhadap-hadapan, kaku tanpa sela tersebut selalu harus menjadi referensi utama menguak “kebenaran”?

Dalam khazanah Nusantara, terutama masyarakat Jawa ada istilah ‘niteni‘. Secara linguistik ‘niteni‘ berasal dari titen yang berarti ingat atau eling. Sebagai konsep filosofis, ‘niteni‘ lebih bisa diartikan kata kerja sekaligus kata sifat berupa kecakapan dalam praktik yang meliputi aspek pengamatan, memperhatikan, kecermatan, atau peneliti. Bahasa yang biasa dipakai oleh kalangan akademisi dengan istilah observasi.

Dari proses ‘niteni‘ inilah biasa orang Jawa menyebut dengan Ilmu Titen, Istilah ‘Titen’ ini digunakan tidak hanya untuk menangkap kejadian kejadian di lingkungan sekitar hanya dengan panca indera sebagai alat pengamatan, melaikan mengunakan perangkat rasa, dan diolah terus-menurus melalui laku dan pengalaman sebagai pembuktian secara empiris. Hal ini menjadi kebiasaan setiap individu dalam tradisi Jawa dibekali dengan kebiasaan ‘Niteni‘.

Niteni‘ dalam konteks persinggungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam maupun transendental. Kemampuan untuk ‘niteni‘ adalah sebagai upaya manusia merancang masa depan. Mewaspadai kejadian di sekitarnya, menghindari maupun mencegah malapetaka atau akibat buruk bagi pribadi maupun lingkungan, yang salah satunya adalah menghindari manusia dari kepunahan eksistensinya. Baik ego, komunitas, entitas baik maupun makna kemanusiaanya.

Dari sejarah kita belajar bahwa kadang kala kehancuran peradaban manusia dimulai dari kehilangan konsep Rububiyahnya. Berhala sebagai bagian penanding Entitas Pelindung. Penjaga peradaban kerap dihadirkan sebagai tertuduh. Karena esensi berhala pada ujungnya adalah pembiasan laku secara konservatif yang kemudian menutup kemungkinan hadirnya re-evaluasi dari Sang Maha Mutlak.

Ketika kita diingatkan dengan sejarah Nabi Ibrahim, sebagai bapak Tauhid, kita diingatkan pada peristiwa penghancuran berhala secara fisik yang berupa patung-patung yang dianggap sebagai Tuhan. Dan mengingatkan serta mengajarkan kepada kita untuk kembali pada Allah Swt sebagai Tuhan yang sejati dan hanya mengabdi dan bertuhan kepada Allah bukan kepada yang lainya.

Dalam hidup hari ini tentu sangat berbeda dengan masa yang lampau. Dulu orang tak pernah disibukkan dengan hal-hal semacam media sosial, pencitraan, pengoar kebencian dan lain sebagainya. Ranah Zaman telah berubah. Entah kenapa popularitas, identitas, kekayaan materialistis, bukan hal yang asing lagi untuk dikejar-kejar. Padahal dalam lagu ‘Rampak Osing’ tentulah diingatkan semua itu tidak dibawa mati, karena titik perpindahan di dunia adalah kematian. Hal-hal bersifat sementara telah menjadi berhala.  Cerita ini mungkin selalu ada di dunia dengan bentuk yang berbeda di setiap zamannya.

Apakah hari ini dengan adanya fenomena berita viral zaman now akhir-akhir ini termasuk pemberhalaan, yang dibentuk oleh media. Baik itu media televisi ataupun media sosial. Indoktrinasi media yang membentuk cara berpikir instan untuk memperoleh kesuksesaan dan ketenaran, yang sebenarnya merupakan pembentukan berhala-berhala kecil yang tujuan akhirnya memperoleh berhala yang lebih besar yaitu uang.

Niteni dihadirkan oleh simbah kita tidak hanya berhenti pada membaca, tapi pada langkah aplikatif, yang dalam Islam sebagai sarana. Membaca apa yang diwahyukan–iqra` bismi rabbika–tentang kehidupan ini detik demi detik selalu berubah. “Ambir weruh tentang dutaning wong urip luruh kebenaran sejati” tanpa harus terjebak pada palung keberhalaan. Sebab sehebat apapun berhala yang dihadirkan oleh setiap pergulatan zaman, tidak akan pernah bisa menerjemahkan kehakikian fungsinya, apalagi kepada manusia secara langgeng. “Wa laa yastathi’una lahum nasro wa laa anfusahum yanshuruun” (Al-A’raf: 192).

Dengan ‘niteni‘ (bahasa Jawa) mungkin kita akan lebih mengerti karena ‘niteni‘ bukan sekedar mengingat-ingat yang dalam bahasa Jawa ‘eling-eling‘. Niteni tentu lebih kompleks, karena melihat peristiwa dari berbagai dimensi baik waktu, arah, apa dan bagaimana peristiwa, dan seterusnya.

Di Majelis Masyarakat Maiyah Suluk Pesisiran edisi Maret 2018 ini, kita duduk bersama untuk saling berdiskusi mencari, mencoba mengenali dan meneliti lebih dalam makna ‘Berhala Zaman’ sekarang ini. Karena bagaimanapun dalam hidup dan bersosial, tentu tak akan lepas dari hal-hal bersifat materi dan juga media sosialnya. Bagaimana seharusnya, kita bermedia-sosial yang baik dan menyikapi, dengan laku hidup yang sesuai dengan kebutuhan bukan keinginan semata. Sehingga menjadi bekal lebih jauh melangkah dan memantapkan kuda-kuda sehingga siap dengan perubahan dan dinamika zaman serta selalu bersama Allah dan Rasulullah.

Tiap kali kita disodori kata “kebenaran”, bisa jadi pikiran kita melayang menuju pada sesuatu yang menjadi patokan. Bisa berbentuk Kitab suci, Undang-undang, Peraturan, atau apapun yang dianggap normatif, yang biasanya berposisi saling berhadapan, hitam-putih dan kadang kaku tanpa sela. Tapi apakah…