Nikmat Bergembira Sinau Bareng Tentang Pesantren

Liputan Sinau Bareng CNKK di PP Darul Ma'arif Payaman Lamongan, 4 Juli 2018

Setiap kali mengikuti Sinau Bareng, kadang saya suka terlintas pikiran: tidak sia-sia semua persiapan yang sudah ditempuh oleh penyelenggara jauh-jauh hari, termasuk saat H-1 dan Hari-H, untuk mewujudkan Sinau Bareng ini. Mengapa begitu? Karena begini: Sinau Bareng menurut saya selalu menggoreskan nilai yang tinggi: membubuhkan sesuatu dan berbagai sesuatu yang baik, indah, dan kaya dimensi dan nilai, secara membulat, dalam berbagai kriteria. Ringkasnya, Sinau Bareng itu apik dan berkandungan fenomenologis. Dan itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Malam ini giliran Lamongan. Sinau Bareng bersama Mbah Nun dan KiaiKanjeng kali ini diselenggarakan oleh Yayasan Pondok Pesantren Darul Ma’arif Payaman Solokuro Lamongan Jatim. Untuk itu, kita simak sejenak laporan dari kawan kita: Faiq dan Zainuri. Keduanya penggiat Simpul Maiyah Semesta Lamongan.

“Sudah sedari pagi persiapan dilakukan, sampai siang hingga sore hari. Tikar digelar pukul 16.07 WIB. KiaiKanjeng gladi bersih pukul 17.03 WIB. Bakda maghrib orang-orang mulai berdatangan, ada juga yang sudah sejak sore. Puluhan Banser dikerahkan untuk membantu kelancaran. Para pedagang sudah menjajakan daganganya. Para jamaah yang sudah menantikan Mbah Nun seakan tidak mau ketinggalan, sudah ada dari mereka yang standby duduk mengisi shaf barisan depan. Ada juga yang duduk-duduk di lantai depan kelas-kelas Yayasan PP Darul Ma’arif.”

“Meskipun tema dan tempat acara pada malam hari ini berlatar belakang “Santri”, namun banyak dari para jamaah dan masyarakat yang hadir tidak hanya berlatang belakang Santri. Seruan sholawat dari para jamaah yang sudah hadir dari tadi membangkitkan semangat kebersamaan. KiaiKanjeng naik panggung tepat pukul 18.56 WIB, kemudian melakukan soundcheck sebelum acara dimulai, berberapa lagu dinyanyikan untuk mengisi keheningan malam. Para jamaah tak henti-hentinya berdatangan.”

Mas Zainuri juga menuturkan hal yang dirasakannya saat tiba di desa Payaman ini. Masyarakat masih menjaga spirit tradisional Jawanya yang tercermin dari saling tegur sapa di antara, meskipun sudah modern secara materialnya. Di lokasi, Mas Zainuri mengambil tempat di tengah-tengah hadirin yang insyaAllah mendapatkan barokah lebih karena tak bisa masuk alias tak kebagian tempat, dan menyimak lewat layar yang sudah dibentangkan. Pilihan yang mulia itu Mas.

Dari foto-foto yang dibagikan Mas Adin, terlihat sekali suasana yang satu, padu, erat, dan serempak kompak seperti menyangga bersama suatu nilai atau rasa yang tak selalu bisa diungkapkan lewat kata-kata. Suatu keagungan kolektif, keummatan, atau keberbarengan sebagai umat, atau apapun namanya, yang barangkali diam-diam kita rindukan.

Sementara itu pada muatan edukasinya, Mbah Nun meminta dibuat kelompok yang terdiri atas santri, masyarakat Payaman, dan masyarakat umum. Nanti mereka dapat tugas merespons pertanyaan yang beliau ajukan. Tapi sebelum itu, mereka semua para jamaah dipersatukan hatinya dengan diajak bareng-bareng melantunkan shalawat Nariyah. (Ingat-ingat lagi penjelasan Mbah Nun tentang shalawat yang satu ini di beberapa Sinau Bareng ya).

Sudah ada lima kelompok terbentuk. Untuk kelompok pertama, mereka harus menjawab pertanyaan tentang asal-usul istilah santri. Apa bedanya santri dengan siswa, mahasiswa, peserta didik.

Untuk kelompok kedua, pertanyaannya adalah apa beda pesantren dengan sekolahan, bagaimana asal-usul dari keduanya. Sedangkan untuk kelompok ketiga, pertanyaannya: yang pertama dipelajari santri itu apa dan pelajar itu apa? Apa bedanya al-Qur`an dengan buku-buku lainnya. Minimal perbedaan ini harus lima, karena perbedaannya banyak.

Sedangkan kelompok keempat mendapat jatah pertanyaan tentang perbedaan antara boarding school dengan pondok pesantren? Bedanya apa pesantren modern dengan pesantren salaf.

Terakhir, kelompok lima mendapatkan pertanyaan: apakah pesantren itu masa depan atau masa lalu. Apakah pesantren yang harus menyesuaikan zaman atau zaman yang harus diciptakan oleh pesantren. Apakah Indonesia ditolong pesantren atau pesantren yang berharap kepada Indonesia.

Asli ini deretan pertanyaan yang berat, mendasar, dan butuh pertemuan banyak buat menjawabnya. Tapi untungnya Sinau Bareng itu satu formula mengolah yang berat karena mensyaratkan ketajaman analisis dan konstruksi berpikir menjadi sederhana, mudah, cari jalan mendasar ke inti-intinya. Dan Mbah Nun nanti akan memberikan contoh tentang itu semua. Maka para partisipan ini pun nggak harus ngelu. Mereka coba memikirkannya dalam diskusi kelompok dalam waktu yang secukupnya saja, tapi semua dilakukan sembari bergembira. Bisa berkenalan dengan orang baru, dan nanti akan dirayakan dengan kemesraan lagu-lagu KiaiKanjeng.

Tetapi satu hal saja barangkali, semua pertanyaan mendasar Mbah Nun tentang pesantren dan pendidikan Islam tadi itu agaknya memang perlu, karena siapa tahu kita sudah lama tak memikirkannya. Alias kita sudah melaju jauh, tapi lupa asal-usul dan hal-hal prinsip. Kita perlu mundur belakang sejenak. Kita yang saya maksud ya semua stakeholder pendidikan Islam termasuk Pondok Pesantren maupun sekolah-sekolah yang menisbatkan diri modern Islam. Lewat simulasi bersama santri dan masyarakat tadi, secara halus Mbah Nun memandu kembali ke hal-hal dasar. (Helmi M)