Nguri Budaya dan Bersih Desa di “Paradise” Baron Nganjuk

Liputan Sinau Bareng CNKK di Desa Baron Nganjuk, 14 Agustus 2018

Acara bertajuk Sinau Bareng Cak dan KiaiKanjeng “Nguri Budaya Bersih Budaya” digelar di lapangan Desa Baron Kec. Baron Kab. Nganjuk. Waktu baru menunjukkan pukul 19.00 WIB. Masyarakat sudah memadati lapangan desa. Yang pasti tidak ketinggalan adalah pasar rakyat digelar sepanjang jalan desa.

Mencermati tajuk acara malam ini asosasi berpikir kita akan hinggap pada satu diksi: tradisional. Pertanyaannya adalah apakah nguri budaya identik dengan tradisionalitas? Mengapa setiap pagelaran yang diselenggarakan warga desa dengan berbagai ungkapan budaya mereka yang khas, dikonotasikan sebagai tradisional?

Tegasnya, apakah tradisionalitas selalu berada di kutub yang berseberangan dengan modernitas?

Sinau Bareng malam ini menyodorkan jawaban secara gamblang, jangkep dan seimbang.

Mari kita lihat fakta di lapangan desa Baron malam ini. Instrumen dan simbol tradisionalitas menemukan irisan budaya dengan modernitas. Dua kutub tradisional dan modern yang selama ini terpolarisasi secara sepihak dipertemukan, disilaturahimkan, dan dibebrayankan secara harmonis.

Pasar rakyat dipadati oleh anak-anak muda yang tangan mereka menggenggam telepon pintar. Sambil nongkrong menikmati kacang godhok jari-jari mereka berselancar di jagat media sosial.

Warga desa guyub rukun, berbondong-bondong memenuhi lapangan desa. Ibu-ibu menggendong bayi. Anak-anak memancarkan raut wajah gembira. Adegan ini mengingatkan saya pada istilah yang pernah disampaikan Kyai Tohar: merdesa.

Apa itu merdesa? Menurut Kyai Tohar, merdesa berasal dari kata “desa” dalam bahasa Jawa kuno. Artinya: “tempat hidup yang layak, sejahtera dan patut”. Dalam pengertian ini juga tersirat makna desa–suatu kawasan yang merdeka dan berdaulat.

Sinau Bareng, Nguri Budaya dan Bersih Desa, yang diselenggarakan di desa Baron mengabarkan tengah berlangsung kehidupan surga–paradise, yang menemukan gathukan-nya dengan paradesa.

Selamat nguri budaya dan bersih desa. Janganlah kita tertipu oleh dikotomi-dikotomi dari sono! (Achmad Saifullah Syahid)