Ngruwah!

Mukadimah SabaMaiya Mei 2018

Ruwahan berasal dari kata ruwah yang merupakan nama bulan Jawa di urutan ke delapan, bersamaan dengan bulan Sya’ban tahun Hijriyah.

Kata ruwah sendiri memiliki akar kata arwah, atau roh para leluhur dan nenek moyang. Konon dari arti kata arwah inilah bulan tersebut dijadikan sebagai bulan untuk mengenang para leluhur.

Ruwahan biasanya dilaksanakan sepuluh hari menjelang bulan puasa Ramadlan. Pada tradisi ini sejumlah ritus digelar menurut tradisi dan adat di masing-masing daerah atau pedukuhan. Acara dimulai dari malam nisfu sya’ban, dilanjutkan besrik (bersih-bersih lingkungan Desa sampai pemakaman umum) dengan diiringi slametan kecil.

Nisfu Sya’ban dilaksanakan pada malam ke-15 pada bulan Sya’ban. Rangkaian acaranya berupa sholat sunah berjamaah di masjid kemudian dilanjutkan membaca doa Nisfu Sya’ban kemudian diakhiri dengan makan bersama (ambengan). Ritus ini sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus penyucian diri sebelum masuk ke bulan suci Ramadlan.

Ritus ini juga melambangkan kesucian dan ungkapan rasa sukacita memasuki ibadah puasa yang merupakan bentuk iman kesalehan individu dan kolektif.

Adapun acara ritus bersih kampung, slametan, hingga kenduri serta megengan (kirim-kirim hantaran makanan) adalah manifestasi dari praktik doa bagi semua keluarga sanak saudara, tetangga serta masyarakat sekitar.

Ajang saling bersilaturahmi, saling memaafkan dan saling membantu sudah menjadi kesadaran dan kebiasaan orang Islam Jawa. Biasanya isi hantaran tradisi megengan di Jawa tidak meninggalkan tiga sajian makanan yakni ketan, kolak, dan apem. Makna dari ketiga makanan itu adalah: ketan yang lengket merupakan simbol mengeratkan tali silaturahmi, kolak yang manis bersantan mengajak persaudaraan bisa lebih dewasa dan barokah penuh kemanisan. Apem berarti jika ada yang salah maka sekiranya bisa saling memaafkan.

Tradisi ruwahan juga mengenal Mudik Ruwahan, mudiknya orang Jawa untuk ruwahan tak ubahnya sedang mereplika sirah Nabi Muhammad Saw ketika beliau dan para sahabat hijrah ke Madinah. Yakni mudik untuk melakukan tiga hal yang dibangun untuk mengukuhkan iman dan Islam: mendirikan masjid, membangun pasar, dan mengikat tali persaudaraan.

Yang pertama adalah membangun masjid; ini dimaknai dan dipraktikkan oleh orang Jawa dengan mudik untuk nyadran atau nyekar. Nyadran biasanya dilaksanakan setelah shalat dhuhur, dilanjutkan slametan bersama (kenduren) di Masjid atau Langgar setelah shalat maghrib. Dengan demikian ritus ruwahan adalah memakmurkan masjid, meningkatkan kualitas sujud syukurnya pada Allah Swt.

Yang kedua adalah membangun pasar; dalam rangka slametan, kenduren dan megengan di bulan ruwah ini biasanya akan muncul pasar-pasar kagetan. Hal ini tentu akan menggerakkan roda ekonomi setempat, di mana akan ada perputaran ekonomi di dalamnya.

Yang terakhir ritus-ritus ruwahan itu sendiri telah memperat rasa persaudaraan antara masyarakat yang berada di kampung dan mereka yang baru saja mudik sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw saat beliau mengikat tali persaudaraan antara Anshor dan Muhajirin. Sebuah ritus yang akan diulang kembali oleh orang-orang Islam Jawa saat menutup ritual puasa Ramadlan di Bulan Syawal nanti.

Ritus yang lain di bulan ruwah adalah Nyadran, merupakan ziarah kubur untuk mengingatkan manusia kepada asal-usulnya (leluhur) serta mengingat bahwa suatu saat juga kita akan berada di sana.

Nyadran diawali dengan membersihkah area makam dari rerumputan liar dan sampah, selanjutnya membacakan tahlil, surat Yasin, berdoa agar mereka yang telah tiada mendapat tambahan rahmat dan ampunan dari Gusti Allah SWT.

Dalam kajian sejarah; Nyadran sendiri berasal dari kata sradha, yang merupakan tradisi yang diawali oleh Ratu Tribuana Tunggadewi, raja ketiga Majapahit. Pada zaman itu Kanjeng Ratu ingin melakukan doa kepada sang ibunda Ratu Gayatri, dan roh nenek moyangnya yang telah diperabukan di Candi Jabo. Untuk keperluan itu dipersiapkanlah aneka rupa sajian untuk didermakan kepada para dewa. Sepeninggal Ratu Tribuana Tunggadewi, tradisi ini dilanjutkan juga oleh Prabu Hayam Wuruk.

Di masa penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, tradisi tersebut kemudian diadopsi menjadi upacara nyadran karena bertujuan untuk mendoakan orang tua di alam baka. Sebagaimana disebutkan dalam berbagai hadist, bahwasanya ketika seseorang telah meninggal dunia dan berada di alam barzah, maka semua amal kebaikan di dunia menjadi terputus kecuali tiga hal, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang sholeh.

Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban anak dan cucu untuk senantiasa mendoakan arwah leluhurnya yang telah meninggal. Hanya saja sajian yang dibuat tidak lagi diperuntukkan bagi para dewa, tetapi sebagai sarana sedekah kepada kaum miskin.

Pada acara nyadran, berbagai macam bunga ditaburkan di atas makam orang-orang yang mereka kita cintai. Oleh karena itu nyadran juga disebut nyekar (sekar = bunga). Keindahan dan keharuman bunga menjadi simbol untuk selalu mengenang semua yang indah dan yang baik dari mereka yang telah mendahului.

Dengan demikian, ritus itu memberikan semangat bagi yang masih hidup untuk terus berlomba-lomba demi kebaikan (fastabaqul khoirat). Tradisi ritus ruwahan ini ditutup dengan acara padusan (mandi bersuci).

Tapi,…….

Dalam praktiknya ruwahan atau ngruwah tidak seperti yang dipaparkan di atas. Bahwa kita lupa akan esensi ngruwah itu sendiri, kita hanya melakukan praktik tapi aplikasi di hati kita belum. Bahkan yang terjadi malah wah-nya saja. Lihatlah kita ini betapa ingin sekali terlihat wah, ingin terlihat maju, ingin terlihat berhasil dan sebagainya.

Satu contoh misalnya; suatu acara atau pengajian akan dikatakan terlihat berhasil dan sukses apabila acaranya semarak dan ramai dipenuhi pengunjung, dan apabila sepi pengunjung maka acara tersebut disebut gagal, tidak berhasil dan tidak sukses. Bahkan yang pertama kali ditanyakan kebanyakan orang adalah “Ramai atau tidak acaranya?”. Kita terbiasa mengurusi hal-hal yang terlihat tapi mengabaikan hal-hal yang tidak terlihat.

Yang seharusnya menjadi pertanyaan adalah “Kapan kita ngruwah diri kita sendiri?, Siapkah kita melihat diri kita lebih dalam lagi?”. [KA]