Ngiwarikeun Bihari

Mukadimah Riungan Magarmaya Januari 2018

Ngiwarikeun bihari, memasadepankan masa silam, men-zamannow-kan zaman old adalah belajar berpikir, menganalisa, menimbang, memutuskan, maupun berdaulat. Belajar sejarah bukan berarti kita mengenang kembali peristiwa manis dan besar dalam romantisme sejarah, melainkan kita diharapkan harus mampu untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan leluhur-leluhur kita zaman dahulu. Melalui penelusuran sejarah pula kita dapat mengakui keberadaan manusia Sunda di masa lampau yang membawa pengaruh (baik atau buruk) terhadap perkembangan manusia dan alam sekarang.

Kini nilai-nilai budaya Sunda dalam diri masyarakat mulai tercerabut, budaya pamali sudah menjadi guyonan, terkikis dan hilang. Di sisi lain kita juga beranggapan bahwa rasionalitas yang diajarkan di bangku sekolah, bangku kuliah, seminar, pelatihan ternyata tidak bisa mendidik keberadaban masyarakat, akibatnya daerah kita mengalami keadaan yang dalam istilah urang Sunda disebut “kaluhur teu sirungan kahandap teu akaran“. Di satu sisi tidak percaya lagi pada pamali, tapi di sisi lain rasionalitas juga tidak cukup untuk menggerakan diri menaati berbagai ketentuan dan aturan yang berlaku sekarang.

Memasadepankan masa silam artinya mempertanyakan kembali setiap hal yang kita pakai, pahami, dan punyai. Kompor gas dengan hawu, motor dengan kuda, pangsi dengan jas, sekolah dengan ngebak, ngantor dengan nyawah, pemilu dengan musyawarah, sepatu dengan sandal, dan berjuta hal lain yang mesti kita rundingkan kembali. Kita makin terbuka dengan kemungkinan-kemungkinan. Terimakasih kepada keruwetan zaman yang makin membuat pening. Jangan-jangan memang bangunan rumah dari gedèg bagi urang Sunda adalah modern dibanding dengan rumah berbahan bata dan semen. Bagaimana dengan kesehatan, pendidikan, politik, pertanian, hingga berkesenian?

Selain makhluk individu, manusia juga makhluk sosial. Maka berkumpul mangrupakeun pengantar awal urang mengenal diri, lingkungan, jeung Gusti. Naon wae ekspresina, gayana, fasionna, trendna, teu masalah, asalkan bisa memastikan Gusti Alloh selalu hadir dan ikut serta dalam aktivitas masing-masing kita sehari-hari. Enjoy dan roll-kan saja, selanjutnya……?

Nya ngopi, shareng dan gagalakgakan deui we, ha.

Mangga diantos.

Ngiwarikeun bihari, memasadepankan masa silam, men-zamannow-kan zaman old adalah belajar berpikir, menganalisa, menimbang, memutuskan, maupun berdaulat. Belajar sejarah bukan berarti kita mengenang kembali peristiwa manis dan besar dalam romantisme sejarah, melainkan kita diharapkan harus mampu…