Ngasah Bongkahan
‘Tauhid Penghidupan’

Hari ini, terhitung 4 (empat) hari sejak tanggal 17 Maret 2018 tempo hari. Kita mendapat sangu 17 (tujuh belas) poin dari simbah yang dirangkai sebagai Tauhid Penghidupan. Pada tiap-tiap poin terdapat kandungan nasehat, anjuran, pepiling, dan secara tersirat ‘kekhawatiran’. Oleh sebab itu, saya coba mengurai poin-poin tersebut dengan pelan-pelan.

Tujuh belas poin ini bisa kita ambil dengan pendekatan dua sisi, agar kita berada di tengah-tengah (wasatha). Sisi pertama sebagai Mbah Nun. Dan sisi kedua sebagai anak cucu Maiyah. Tentu saja antara Mbah Nun dengan anak cucu Maiyah bukan 2 (dua) kutub yang berlawanan. Maka maksud di tengah antara keduanya adalah menyerap kandungan tersembunyi yang ingin disampaikan Mbah Nun melalui metode nepaake sarira (tepa selira). Menempatkan rasa sebagaimana yang Mbah Nun kira-kira rasakan, dan tak lupa tetap memerankan diri sebagai anak cucu Maiyah yang paham adab serta unggah-ungguh.

Dari poin-poin tersebut saya serap dan saya munculkan 5 kesan yang sesungguhnya bisa lebih meluas dan melebar. Lima kesan tersebut adalah sebagai berikut:

Sisi pertama dari sisi Mbah Nun, (versi saya).

  1. Mbah Nun akan memilih anak cucunya tidak kaya asal pandai membawa kemanfaatan.
  2. Akan memilih anak cucunya tidak tenar dan terkenal asal diridhoi Allah dan dicintai Rasulullah.
  3. Akan memilih anak cucunya tidak menjadi pejabat, aparat, ataupun konglomerat asal mampu melaksanakan dengan penuh perjuangan hajat kehidupannya sebagai khalifah dan abdillah.
  4. Akan memilih anak cucunya rukun sebagai jelata dan saling bergandengan membangun salam, daripada menjadi raja yang memecah hubungan antar manusia dan bahkan berurusan sama Tuhan dan rasul-Nya.
  5. Akan memilih anak cucunya hidup tenteram meski dengan persediaan air di gentong atau kendi namun bisa saling berbagi, daripada punya susu dan arak berbarel-barel namun tak punya gagasan hidup bersama

Sisi kedua dari sisi diri kita masing-masing, mungkin bisa dengan pertanyaan untuk diri kita sendiri.

  1. Jika kita menjadi kaya, apakah masih pandai membawa manfaat? Sedangkan untuk menjadi manfaat tak harus kaya? Dan jika kaya bisa memerankan kita menjadi makin bermanfaat, kekayaan seperti apa itu?
  2. Jika kita menjadi tenar dan terkenal, apakah kita juga sekaligus diridhoi Allah dan dicintai Rasulullah? Ataukah kita malah makin redup dan terabaikan di hadapan-Nya dan di hadapan Rasulullah?
  3. Jika memang menjadi aparat, pejabat, hingga konglomerat menjadi titah yang harus dijalankan, akankah kita betah terhadap godaan-godaan yang mempengaruhi untuk bersikap tidak adil? Timbangan apa yang dipegang untuk tetap mampu bersikap adil baik dalam keadaan kaya maupun dalam keadaan miskin?
  4. Jika kita menjadi penguasa, apakah kita masih bisa mempertahankan paugeran bahwa kekuasaan itu merupakan satu titik sementara dan kecil dari susunan rangkaian panjang kekuasaan? Rangkaian dari lembut hingga kasar, dari tampak atau tak tampak, dari lahir maupun batin, dari langit maupun bumi, yang kesemuanya di-Rajai oleh Allah langsung.
  5. Akankah kita mampu mempertahankan konsep nerimo dengan persediaan “air kendi dan gentong”? Ataukah kita boleh jadi akan meledak dan tak tahan diri dengan segala model keprihatinan, sehingga perlu berbuka sebelum tiba waktunya dan sudah merayakan pesta kemenangan sebelum berhasil kembali bersentuhan secara intim kepada fitrah kita masing-masing?

Pada tahap berikutnya bisa dikembangkan lagi menjadi berikut:

(1)
Mbah Nun akan memilih anak cucunya tidak kaya asal pandai membawa kemanfaatan. Mitsaqan Ghalidha / Perjanjian Yang Teguh (Keluarga Maiyah, Penduduk Negeri Maiyah, dan Person-Person Maiyah), Muta’allimul Maiyah (Masyarakat Maiyah).

Tapi Mbah Nun juga pasti tidak tega hati jika anak cucunya dimanfaatkan, bahkan miskin proyeksi sehingga kemanfaatan yang dipilih terjebak pada ruang sempit dan dangkal.

  • Siapkah anak cucu Maiyah tidak kaya dan tetap tidak mudah dimanfaatkan? Unsur ilmu dan pemahaman (ta’lim, tafhim) apa yang akan kita pakai agar tidak dimanfaatkan?
  • Ataukah, kepada-Nya kita siap mengabdi dan bermanfaat pada kehidupan melalui kekayaan? Jika siap, unsur atau pegangan apa yang akan kita genggam untuk menjaga perjuangan tidak tergelincir pada orientasi dunia?

(2)
Akan memilih anak cucunya tidak tenar dan terkenal asal diridhoi Allah dan dicintai Rasulullah. Salikul Maiyah (Pelaku Salik Maiyah), Muqawwimul Maiyah (Penegak Maiyah), Mustaqimul Maiyah (Pelurus Maiyah), Muassisul Maiyah (Pendiri, Peletak Dasar, Peletak Asas Maiyah)

Tapi Mbah Nun juga sedih jika anak-cucunya kehilangan kebahagiaan karena merasa tak dianggap dunia pun tak cukup punya alasan rasional untuk merasa diridhoi oleh Allah dan dicintai Rasulullah.

  • Siapkah kita tidak terkenal dan tak dikenal namun sangat mengenal arti kebahagiaan? Sehingga tidak mudah diiming-imingi ketenaran dan keglamoran hidup?
  • Ataukah, anak cucu Maiyah memilih untuk ambil peran untuk bisa tetap terkenal, tenar, bukan untuk menampakkan wajah sendiri namun untuk makin membawa cakrawala ma’ruf (ta’rif) yang mengenalkan banyak orang kenal kepada cinta Tuhan dan Rasul-Nya melalui ‘wajah’ kita?

(3)
Akan memilih anak cucunya tidak menjadi pejabat, aparat, ataupun konglomerat asal mampu melaksanakan dengan penuh perjuangan hajat kehidupannya sebagai khalifah dan abdillah. Mujahidul Maiyah (Mujahid, Yang Berjihad), Hafidhul Maiyah (Penjaga Maiyah), Fa’ilul Maiyah (Pekerja Maiyah),

Tapi Mbah Nun juga pasti tidak terima, jika anak cucunya yang berusaha bersungguh-sungguh menegakkan tarekat hidup lahir batinnya tak mengerti peran dan tak paham pentingnya saling menganyam.

  • Siapkah kita tidak menjabat namun tetap berbobot dalam berbuat? Tidak menjadi aparat dan tak lantas menjadi keparat? Tak menjadi konglomerat namun sama sekali tak merasa melarat?
  • Apakah kita sudah paham cara meneliti peran kita? Apakah kita telah memiliki metode dan alasan untuk saling dan tetap terhubung? Apakah kita telah melakukan proses berjabatan? Sehingga sejak di ujung jauh hingga di panggung tak merasa sedang terpisah namun tengah bekerja sebagai satu yang menggelar satu hamparan sajadah. Jika satu orang Maiyah lebih berharga dibanding satu ton emas, berapa juta ton emas yang kita punya? (ta’mil, taf’il)

(4)
Akan memilih anak cucunya rukun sebagai jelata dan saling bergandengan membangun salam, daripada menjadi raja yang memecah hubungan antar manusia dan bahkan berurusan sama Tuhan dan Rasul-Nya. Anshorul Maiyah (Para ‘Anshor’ Maiyah), Muhajirul Maiyah (Para ‘Muhajirrin’ Maiyah)

Tapi betapa sedihnya Mbah Nun, jika anak cucu Maiyah bukan hanya tidak rukun, tapi juga malah beradu kepala kekuasaan masing-masing yang hanya menggembirakan para pecinta adu domba. Maka, tiap-tiap kita bisa menyangka sedang menjadi penguasa padahal sedang menjadi pecundang bahkan gelandangan di negeri sendiri.

  • Apakah anak cucu Maiyah siap menjadi jelata saja dengan tetap bertahan membangun salam satu dengan yang lain, sementara godaan hidup makin menyiksa? Sebab tidak hanya soal berjuang untuk bersama, namun juga bertambahnya rasa iba melihat anak istri yang belum mengerti.
  • Atukah anak-cucu Maiyah siap bersuka-cita dengan hiasan kemuliaan dunia? Namun untuk makin meneguhkan sikap andap asor dan menyambut gembira siapa saja yang mulia sebab bersama Rasulullah pada langkah-langkahnya. (Takhlis)

(5)
Akan memilih anak cucunya hidup tentram meski dengan persediaan air di gentong atau kendi namun bisa saling berbagi, daripada punya susu dan arak berbarel-barel namun tak punya gagasan hidup bersama. Jannatul Maiyah (Kebun-Kebun Maiyah), Muwallidul Maiyah (Pelahir Maiyah), Banna`ul Maiyah (Anak Cucu Maiyah), Ruwwadul Maiyah (Pengajak Maiyah),

Tapi Mbah Nun pasti prihatin jika kemudian air pada kendi dan gentong tersebut tidak digunakan untuk saling menyegarkan, namun malah diperjual-belikan. Sebab tak menyangka bahwa air itu berkah tak kunjung kering, melainkan menyangka itu aset ekonomi yang lazim dimaterialisasi di dalam kehidupan saat ini.

  • Akankah anak cucu masyarakat Maiyah bersedia tetap tangguh dan jernih dengan kondisi yang tampak pas-pasan? Apakah anak cucu Maiyah masih memiliki kecanggihan proses reaktualisasi dan reunderstanding tentang satu keyakinan mekanisme keadilan dan rezeki dari Tuhan dalam kurun waktu yang panjang?
  • Ataukah anak cucu Maiyah bisa memilih berinteraksi dan melakukan aktivitas produksi untuk meningkatkan kualitas saling memenuhi dan saling berbagi? Dan merasa tenteram bukan sebagai transaksi untung rugi materi yang mereduksi laba kemanusiaan murni? Apa pagar untuk tidak terjebak orientasi transaksi ekonomi? Apa terus bisa terjadi secara turun-temurun dan menjadi pegangan bahwa bahwa hidup dan mati adab (Ta’dibul Islam) tertaut secara mutlak dari hidup dan matinya hati warganya sendiri?

Jika pendekatan sudut pandang itu benar, mungkin berarti bahwa kita sedang benar-benar diberi kloso untuk tidak salah orientasi, abai pada sejarah, lupa landasan hidup, tidak memiliki pandangan kosmis dalam skala mikro maupun makro. Yakni: tak menimbang pada masa silam, memprioritaskan masa kini, tak memikirkan efek mendatang. Yang namanya kosmis atau jagad, persoalan silam kini dan akan itu meliputi tidak hanya jasad, namun juga jiwa, dan ruhani.

Sebab ini sangat serius, ‘syariat’ aktivitas masyarakat Maiyah perlu disusun secara rapi. Syariat pergaulan, dagang, keamanan, ilmu, seni, budaya, catatan, alternatif metode pengobatan, teknologi, dan lain sebagainya.