Ngaku Lepat

Mukadimah Maiyah Balitar Juni 2018

Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang bersabar.” (QS. An-Nahl: 126)

Manusia itu makhluk dinamis. Ia bukan makhluk statis. Ia tak seperti malaikat yang selalu benar. Bukan pula setan yang selalu salah. Manusia bisa benar dan juga salah. Dan inilah ladang perjuangan manusia. Terus belajar berjuang berusaha menuju garis kebenaran. Garis kesucian.

Kenyataannya, sebagai manusia kita memang tidak bisa menghindar untuk tak berbuat salah. Entah itu kita sengaja maupun tidak. Entah itu kepada Tuhan kita, kepada sesama manusia, maupun kepada alam sekitar kita.

Bukan bermaksud meremehkan Tuhan. Hanya saja, ketika kita mempunyai kesalahan kepada Tuhan, meminta maaf kepada-Nya tak sesulit ketika meminta maaf kepada sesama manusia. Tuhan, satu-satunya yang Maha Pemaaf, Maha Memberikan ampunan atas segala kesalahan. Pintu maaf-Nya teramat luas dibanding kesalahan yang kita lakukan. Nha kalau kesalahan ini terjadi kepada sesama manusia? Ini jauh lebih sulit dibandingkan meminta maaf kepada Tuhan kita.

Tak semua manusia bisa meneladani sedikit sifat Tuhan, mudah memaafkan. Tak semua manusia membuka pintu maafnya lebar-lebar untuk siapapun saja yang datang dan mengharapkan permaafan. Sedang ada yang mengatakan bahwa Tuhan tak akan memberikan ampunan kepada seseorang. Kecuali seseorang tersebut telah dimaafkan oleh yang padanya ia berbuat kesalahan.

Terlebih, kesalahan kepada manusia ini rawan beranak-pinak. Katakanlah kita berbuat kesalahan kepada si A. Si A sakit hati dan menderita karena kesalahan yang kita lakukan kepadanya. Kemudian ada orang lain yang mengetahuinya. Orangtua si A, misalnya. Orangtua si A ikut sakit hati karena melihat anaknya menderita atas perbuatan kita. Apa tidak beranak-pinak ini namanya? Orang yang sakit hati karena perbuatan kita semakin merambat pula.

Beruntung kita diperkenalkan dengan Islam yang mengajarkan untuk saling bermaaf-maafan. Saling meminta maaf dan saling memaafkan. Momen lebaran, seringkali dimanfaatkan oleh orang-orang muslim untuk saling mengikhlaskan kesalahan. Idul fitri. Semua bergerak untuk saling membebaskan kesalahan satu sama lain, agar semua bisa sama-sama kembali fitri, kembali suci.

Kanjeng Sunan Kalijaga pun membawakan ajaran untuk saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan ini melalui sebuah ketupat. Ketupat yang dalam bahasa Jawa disebut kupat ini berasal dari kata ngaku lepat. Mengakui kesalahan. Entah itu kesalahan kepada Tuhan kita maupun kepada sesama ciptaan-Nya.

Ngaku lepat ini juga tak berhenti sebatas pada mengakui kesalahan saja. Lebih dari itu, juga terselip harapan untuk meneruskannya untuk melakukan laku papat. Lebar, luber, lebur, dan labur. Selain itu, sebelum lebaran, masyarakat Jawa juga biasa mengecat rumahnya dengan labur. Ini dilakukan agar rumahnya bersih, menghormati para tamu yang akan bersilaturahim. Dari sini terselip pesan singkat agar kita senantiasa belajar menjaga kebersihan lahir dan batin untuk menghormati orang lain. Agar siapapun saja yang berada di sekitar kita merasakan kenyamanan atas kesucian yang berusaha kita jaga.

Apa itu laku papat: lebar, luber, lebur, dan labur? Bagaimana kita mengaplikasikannya dalam keseharian kita? Mari bersama-sama kita diskusikan di MMB 23 Juni 2018. Pada kesempatan ini, MMB mengajak jamaah untuk Sinau Ngaku Lepat, saling berkumpul, saling belajar memaafkan dan mengikhlaskan kesalahan satu sama lain. Agar semakin mudah pula jalan kita untuk menuju kesucian dan semakin mendekat kepada yang Maha Mensucikan.

Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang yang bersabar.” (QS. An-Nahl: 126) Manusia itu makhluk dinamis. Ia bukan makhluk statis. Ia tak seperti malaikat yang…