Negeri Shima (De Cool of Java)

Mukadimah SabaMaiya Desember 2018

Me-review literatur sejarah, nama Ratu Shima cukup dikenal karena ketegasan dan keadilannya dalam memerintah Kerajaan Kalingga di Abad ke-7 masehi. Ada salah satu cerita yang populer mengenai kebijaksanaan Ratu Shima dan banyak diketahui masyarakat hingga kini yaitu ketika ada seorang raja asing yang meletakkan kantung berisi emas di tengah-tengah persimpangan jalan dekat alun-alun ibu kota Kerajaan.

Raja asing tersebut melakukan hal itu karena dia mendengar kabar tentang kejujuran dari rakyat Negeri Ratu Shima dan berniat menguji kebenaran kabar itu. Tidak seorang pun berani menyentuh kantung yang bukan miliknya itu selama lebih dari tiga tahun, hingga pada suatu hari ada seorang putra Ratu Shima, secara sengaja menyentuh kantung itu, bukan untuk mencurinya, namun hanya sebatas menyentuh saja.

Mengetahui hal tersebut Ratu Shima lalu menjatuhkan hukuman mati untuk putranya, akan tetapi para pejabat dan menteri kerajaan memohon agar Sang Ratu mau mengurungkan niatnya itu dan mengampuni sang pangeran. Maka Ratu pun menjatuhkan hukuman memotong satu ruas jari tangan sang pangeran.

Terlepas dari benar salah kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Sang Ratu sebagai pemimpin begitu jernih (kami umpamakan air) dalam menerapkan peraturan. Sebuah pencapaian hukum yang mungkin tak seorang pun akan membayangkan pada saat ini.

Bila ujian dari Raja asing itu diberlakukan hari ini, bisa dipastikan orang-orang tidak hanya akan saling mendahului tapi juga akan saling menjegal untuk memperebutkan sekantung emas itu. Hari ini, yang kita sebut sebagai zaman modern bahkan sudah ada yang menyebutkan pasca modern seolah telah membalikkan logika bagaimana hidup mesti berlangsung, di mana materi (bahkan kata materi juga telah menyempit hanya sebagai harta benda) adalah tujuan utamanya. Orang-orang bersaing untuk memperkaya diri dengan segala cara. Hari ini dunia tidak hanya keruh tapi juga penuh dengan racun.

Di Maiyah kita diajarkan untuk bersikap dalam menghadapi hal semacam itu, yang pertama berusaha menjernihkan air keruh itu, dimulai dari membersihkan cara berpikir materialistik yang sedang berlangsung pada sebagian besar manusia. Sikap kedua adalah berusaha bertahan atau beradaptasi dari keruhnya air hingga membuat imunitas atas racun itu. Dan sikap ketiga yang mungkin paling mudah dilakukan yaitu berusaha untuk tidak memperkeruh air.

SabaMaiya edisi kali ini, mari bersama-sama melingkar untuk mendiskusikannya. Kisah tentang kejujuran dan penerapan keadilan dari Negeri Shima itu jangan hanya dijadikan dongeng masa lalu, tapi juga menjadi pijakan masa kini dan yang akan datang.

Buku Cak Nun