Wédang Uwuh (70)

Negeri Paugeran

Kedaulatan Rakyat, 20 Maret 2018

Kalau pakai antawacana Tony Koeswoyo “terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan”:  Yogya ini sedang mengalami suatu keadaan yang kita menjadi mulia untuk mencemaskannya, tetapi menjadi remeh kalau berlebihan dalam mencemaskannya.

Kondisi jantung Yogya membuat para pelakunya menjadi lebih dewasa dan matang jika bersikap tenang menghadapinya. Tetapi ketenangan tidak sama dengan kesemberonoan. Kesabaran bisa membuat orang terpeleset ke ketidak-waspadaan. Sebaliknya, ketidaksabaran membuat orang kehilangan irama, terserimpet oleh waktu. Akhirnya semakin terasing di pinggiran sejarah.

Di atas semua itu, tidak ada sesuatu yang terlalu dahsyat dan mengerikan yang sudah, sedang atau akan terjadi di Yogya. Sebab Yogya adalah “Negeri Paugeran”. Paugeran itu bukan untuk dipahami, hanya karena bisa dirumuskan. Paugeran bukan padatan sehingga bisa digenggam. Paugeran bukan sesuatu yang bisa diperdebatkan dengan bekal keterbatasan dan kebodohan masing-masing.

Kalau engkau burung, paugeran adalah angkasa luas dengan udara segar. Kalau engkau ikan, paugeran adalah lautan yang dalam. Kalau engkau ayam, paugeran adalah kebun permai loh jinawi. Kalau engkau bukan burung, begitu masuk Yogya, engkau akan mau tak mau jadi burung. Siapapun, dari manapun, berke-diri-an apapun, begitu bersemayam di Yogya, akan belajar menjadi burung, ayam atau ikan.

Engkau boleh berasal dari utara atau selatan, timur atau barat, segala penjuru arah dan angin. Bahkan jika engkau makhluk yang berasal dari masa depan, begitu engkau memasuki Yogya, yang kau hirup adalah hawa paugeran. Jangan berpikir dungu dan bersikap lugu bertanya siapa atau apa atau bagaimana paugeran itu. Cukup satu ingatan: sepanjang Pancer masih ditugasi untuk mengawal Negeri Paugeran, maka semua Sedulur Papat akan mengacu padanya.

Bahkan kalau seakan sedang berlangsung kiprah orang-orang yang sedang sangat sibuk dan penuh nafsu melanggar paugeran, sesungguhnya itu adalah bagian dialektis dari dinamika paugeran.

Maka Yogya bukan dan tidak akan menjadi semacam peradaban Tsamud, ‘Ad, Namrud, Fir’aun, Kekaisaran Mongolia, Imperium Britania, Roma, Ottoman, sampai Hitler, Perang Dunia I dan II, Adikuasa abad modern dan silang sengkarut energi Lawwamah, Ammarah, pun Muthmainnah dalam skala-skala besar hari ini — di mana Allah mempertunjukkan betapa dahsyat, jahat dan kejam isi kepala dan dada manusia.

Paugeran Yogya tak akan mengizinkan terjadinya tragedi-tragedi besar tak terbayangkan, di mana nyawa lebih rendah dari debu. Tak ada daging manusia membusuk massal. Darah menggenang jadi rawa-rawa. Ilmu pupus, peradaban demi peradaban sirna. Bahkan kalau dalam skala pendek sejarah, di Negeri Paugeran sampai hari ini masih sedang terus dicari “Sirna Ilang Kertaning Bhumi”. Itu benar-benar sirna, ataukah “disengaja”, ditimbun, disembunyikan dengan mewariskan sejumlah “password” kepada anak cucu. Sabdopalon Noyogenggong kita tunda-tunda terus interval 500 tahunnya, tanpa ilmu dan pengetahuan kita berkembang untuk lebih tepat mempersepsikannya.

Negeri Paugeran Yogya akan menjaga keselamatan penduduknya dari pengulangan atau kontinuasi masa silam, di mana 60 juta manusia mati membusuk di era penaklukan Mongol, tanpa prosesi pemakaman para “ahsanu taqwim” ciptaan Allah itu. Kemudian 25 juta di masa Dinasti Ming. 30 juta produksi pemberontakan Taiping. 30 Juta pada Perang Dunia pertama. 100 juta di Perang Dunia kedua. Ditambah ratusan genosida “kecil-kecil” di sana sini sampai hari ini. Belum lagi pemusnahan-pemusnahan “canggih” dan munafik: pembunuhan karakter di seantero bumi, cuci otak global, pembasmian akal sehat dan nurani lewat pendidikan, kebudayaan dan media. Sampai cyber war, perang asimetris, dan ranjau-ranjau kemanufikan yang menjerumuskan siapa saja ke lubang-lubang ranjau dan jurang-jurang gelap.

Negeri Paugeran Yogya bisa dikotori oleh arus sampah medsos, kegamangan medmas, revolusi prasangka dan halusinasi viral-viral, tetapi tidak bisa dihancurkan oleh itu semua. Semua penghuni Negeri Paugeran Yogya hatinya berdoa meskipun meskipun kesadarannya tidak tahu bahwa hatinya sedang berdoa. Semua yang berada di wilayah Negeri Paugeran, nuraninya adalah mantra, meskipun rasio-rasio globalisme mengkamuflasenya dengan khayalan-khayalan ilmu.

Kalau ada yang melanggar paugeran, sesungguhnya ia dan mereka sedang menempuh jalan melingkar dan berlipat untuk sampai kembali ke paugeran. Banyak orang merasa menang, karena tidak kunjung mengerti hakiki kemenangan dan kekalahan. Banyak orang merasa pinter dan alim membuang mengusir dimensi-dimensi yang tidak mungkin dicabut dari lubuk kejiwaan mereka sendiri. Banyak orang menikmati kebencian, padahal mereka sedang membangun cinta. Banyak lainnya yang meremehkan dan membuang-buang, padahal mereka sedang merintis kesetiaan. Papat-papating atunggil /Tunggalku mapat /Papatku manunggal /Jagatku njalma kiblat /Kiblatku njalma jagat

Paugeran itu bukan untuk dipahami, hanya karena bisa dirumuskan. Paugeran bukan padatan sehingga bisa digenggam.