Narsis Tragis

Selepas Jum’atan biasanya Kang Kuat leyeh-leyeh sebentar di masjid. Itu setelah kewajibannya sebagai asisten bendahara untuk menghitung isi kotak amal ditunaikan. Dengan kopiah merah-putih dan sarung seadanya, ia akan duduk bersandar dengan malas. Kang Sabar masih sibuk melihat dan sesekali mencoretkan pena di buku anggaran.

“Kang, kok ya bisa ada orang Islam berperilaku melebihi Kanjeng Nabi, ya? Memaksa orang lain ikut aturan mainnya sendiri,” celetuk Kang Kuat dengan tatapan mengarah ke langit-langit lantai dua.

Seperti biasa, Kang Sabar sudah tidak kaget lagi dengan lontaran pertanyaan semacam itu. Ia mafhum, jomblo kaffah bersyariat itu memang tidak memiliki latar belakang belajar agama secara tuntas. Bahkan terkesan sangat radikal dalam belajar. Pernah sekian tahun di pusat gerakan politik, bergeser ke budaya, dan akhir-akhir ini malah mbambung tidak jelas.

“Lho, kok bisa sampai situ mikirnya? Emangnya siapa pencetusnya?” sahut Kang Sabar sekenanya sembari menghapus angka di papan tulis berwarna putih.

“Sebelum Jumatan tadi aku baca tulisan Mbah Nun tahun 1994 berjudul Kau Kira Kau Segala-galanya bagi Umat di dalam buku Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai. Di situ ada kalimat nampol kurang lebih begini bunyinya, ‘yang paling celaka dari seluruh celaka rutin massal itu ialah bahwa kamu sendiri percaya bahwa kamu adalah segala-galanya bagi umatmu!’ Kayaknya ada nyambung sama si Anu, deh,” sambung Kang Kuat dengan ekspresi serius dan punggung sudah tegak.

Kang Sabar melirik ke sosok ceking di belakangnya. “Bisa jadi memang tiap zaman ada tingkah polah semacam itu. ‘Kantenan tiyang‘ kalau menurut Om Bud kemarin malam. Tiap orang punya polah sesuai kecenderungan dan lakonnya. Maka tahun 1994 dan 2018 ada kemiripan fenomena. Barangkali tahun-tahun itu ada gegeran serupa juga.”

“Nih kutambahin lagi isi tulisan itu, kira-kira begini, ‘akhirnya kamu sendiri menomorsatukan dirimu, mengutamakan nama besarmu, melahap posisimu. Kamu lupa bahwa kamu tidak penting.’ Nah lho! Kok ngeri ya. Dia berjuang bisa jadi ikhlas kayak dulu aku di rohis waktu SMA. Cuma lantas diidentikkan dengan dakwah, walau pacaran sekalipun, tetap dianggap relijiyes. Anggapan ini lama kelamaan bikin narsis lho. Mirip kisah tragis Kiai Barseso yang ada di Kitab Hikam ya, Kang?” si jomblo bersemangat sekali sampai lupa kipas-kipas angin belum dimatikan. Ia bergegas berdiri dan berlari sembari memegang sarungnya yang kedodoran.

Kang Sabar diam sejenak dari kegiatan menulis di papan. Lantas karena si jomblo pergi, ia kembali lanjutkan kegiatan.

Sekembalinya dari laksanakan SOP yang tertunda, Kang Kuat datang dengan berujar, “Kamu menyanggupi tumpukan keharusan yang tidak sanggup kamu penuhi!”

Pak Kiai lewat di antara kedua pria ini. Mungkin rangkaian zikirnya selesai, mungkin juga gagal fokus oleh pertanyaan santri kalongnya yang berambut panjang itu.

“Itu tadi kalimat yang aku ingat betul dari esai itu, Kang. Nampol banget, ya? Aku pernah begitu, dalam sehari semalam kepayahan atur waktu. Bahkan tidur pun tak sempat. Padahal kalau pakai skala prioritas, ada beberapa hal yang belum perlu disegerakan.”

Kang Sabar duduk bersila dan memasukkan recehan serta lembaran uang ke dalam tas. Siap disetor ke bank syariah meski di sana bisa jadi dicampur dengan kertas berbunga lainnya. “Bisa jadi begitu, yang dicari orang sekarang barangkali ada juga di era sebelum reformasi. Semakin banyak jabatan, sumber penghasilan, bahkan teman jalan lawan jenis dijadikan kebanggaan. Bukannya sekarang ini tren satu orang duduki banyak pos di pemerintahan pusat sekalipun masih bertebaran?”

Si pria yang tengah cari sasaran ta’aruf tengah menerawang jauh ke langit biru di beranda masjid. Kemudian ia lihat layar ponsel pintarnya dan membaca dari sana, “Sementara itu, pedagang yang asli pedagang saja pun setia untuk berdisiplin memasok pesanan-pesanan yang sudah terkonfirmasi.”

“Konteksnya apa?” tanya Kang Sabar saat beringsut dari posisi duduknya, mengembalikan kotak amal ke sudut masjid.

“Di situ sih aku menangkapnya kalau kita ini sering tidak amanah, sidiq, tabligh, dan fatonah, salah satunya karena kebanyakan pelanggan. Jadi tidak fokus dan keluarkan banyak kebohongan saat dituntut kewajiban. Khawatir nama besar tercoreng karena tidak bisa jawab pertanyaan, tak bisa tunaikan tugas sesuai jabatan, dan deretan gugatan khas manusia.” Ucap Kang Kuat sembari menggulung karpet.

“Nah, sudah jelas pekerjaan rumah kita apa kan dari tulisan jadul Mbah Nun tapi kekinian itu? Jangan sampai merasa kita ini segala-galanya bagi umat. Ngeri efeknya. Mentang-mentang jadi asisten bendahara masjid lantas sok merasa dibutuhkan warga komplek. Bahkan dijadikan tambahan di Curriculum Vitae waktu mau ta’arufan. Hahaha …” seloroh Kang Sabar sembari keluar dari pintu masjid.

“Wuah, juangkrik. Nutup dialognya kok nggatheli tenan, og.” Umpat Kang Kuat yang ditinggal sendirian di masjid komplek.

Buku Cak Nun