Nandur Benih Kemesraan Pada Titik Embun Kalimasada

Reportase Sarasehan Lembaga Kebudayaan Embun Kalimasada, 1 November 2018

Mendengarkan Cak Nun bagi saya seperti merasakan Ibn Arabi”. –Dr. Nasir Tamara

Baru saja malam hari sebelumnya Mbah Nun membersamai gelaran Sinau Bareng di Balairung UGM, nanti malam juga akan ada Sinau Bareng Mbah Nun dan KiaiKanjeng di Desa Sariharjo. Pagi ini, kira-kira jam sembilan, agak terik dan tidak berembun, Mbah Nun sudah berada di gedung kampus UII jalan Cik Di Tiro, tepatnya di ruang sidang Yayasan Badan Wakaf. Badan Wakaf UII sedang dalam rencana akan mendirikan suatu lembaga kebudayaan yang diberi nama Embun Kalimasada dan untuk itu mereka merasa perlu mendapat arahan dan bimbingan dari Mbah Nun.

Mbah Nun punya sahabat-sahabat dari berbagai ragam bidang dan latar belakang. Lingkup silaturrahim Mbah Nun memang sangat luas. Di antara yang hadir pada pagi hari ini juga ada Pak Busyro Muqoddas yang kita tahu merupakan sahabat Mbah Nun sejak SMA dulu.

Gedung UII yang ini bagi mahasiswa dan atau mantannya (mantan mahasiswa maksudnya) dikenal juga sebagai pusat kegiatan organisasi-organisasi internal mahasiswa. Di lantai bawah, selain ada sarang mapala, LEM-DPM, paduan suara yang terkenal dengan kuantitas mahasiswi cantiknya (zaman saya kuliah sih begitu, entah sekarang), marching band. Juga ada markas persma yang dulu dikenal dengan nama Muhibah dan sekarang jadi Himmah, saat tahun 70-an Pak Mahfud MD mendirikan persma ini Mbah Nun juga ikut membimbing. Istri saya dulu PU di situ, dan informasi ini tidak penting yah? Maaf. Pada bulletin Muhibah edisi awal, masih dapat kita jumpai tulisan-tulisan Mbah Nun yang ikut membidani berdirinya organisasi tersebut.

Era 70 hingga 90-an memang diperlukan komunitas maupun organisasi-organisasi mahasiswa untuk terus lahir dan bertumbuh, itu era yang sangat berbeda dengan sekarang. Generasi sekarang hampir tidak mungkin lagi turut manut pada konsep lama baik konsep organisasi, pergerakan, bahkan negara sekalipun. Mereka perlu lebih banyak kebaruan.

Semangat generasi millenial ini juga sempat dikemukakan oleh Mbah Nun bahwa generasi baru yang sedang bertumbuh di Nusantara sekarang ini jauh melejit dan jelas bukan merupakan didikan pendahulu-pendahulunya yang telampau mapan dengan bentuk-bentuk yang sudah ada. Lahirlah generasi “mutahabbina fillah”, bukan generasi mental followers NKRI belaka.

Pagi ini, tanggal 1 November 2018 M, dalam ide mendirikan lembaga kebudayaan tersebut Mbah Nun kembali dimintai sumbangan pemikiran dan ide-ide serta pandangan. Bersanding dengan Mbah Nun juga diundanglah Dr. Nasir Tamara yang merupakan seorang pengusaha dan jurnalis senior. Beliau juga ikut membidani berdirinya Republika serta tercatat ikut membantu proses lahirnya Global TV. Jauh hari nama Dr. Nasir Tamara telah santer terdengar di bidang jurnalistik, beliau merupakan seorang yang menyaksikan langsung peristiwa Revolusi Iran saat masih bekerja sebagai kontributor Tempo. Dr. Nasir Tamara kadang memanggil Mbah Nun dengan sebutan “Bung Emha” laiknya sahabat lama.

Sarasehan bertema “Masjid, Pasar dan Strategi” ini dipandu langsung oleh Pak Suwarsono Muhammad. Kesempatan sinau bersama Mbah Nun juga tentu tidak disia-siakan oleh civitas UII lainnya termasuk Pak Rektor yang sekarang sedang menjabat, setelah rektor yang terdahulu mengundurkan diri–ini dulu cukup ramai dibicarkan, sebuah kasus yang dilakukan sebuah organisasi mahasiswa dan oknum di dalamnya. Tapi sekarang organisasinya baik-baik saja.

Dalam ruang sidang di lantai dua inilah sarasehan berlangsung, di mana dindingnya dipenuhi potret dan lukisan para pendiri serta pemimpin UII dari masa ke masa. Sebagai alumni UII (yang tidak lulus) saya tiba-tiba ingin melantunkan hymne UII, hanya saja seperti juga mahasiswa pada umumnya, saya cuma hapal endingnya “Semoga Allah meridloi UII… Amiinnn”