Musik KiaiKanjeng, Genre Ketuhanan Yang Maha Esa

Liputan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 23 Oktober 2018

“Jadi hidup itu butuh ketepatan nada.” Begitu di antara respons Mbah Nun seusai workshop musik bersama KiaiKanjeng. Dan adalah menjadi bagian dari permainan nada, dalam rangka mencoba mencari ketepatan nada lah malam ini KiaiKanjeng turut hadir memperindah benderangnya malam bulan purnama.

Tidak ingin menyia-nyiakan nada kehadiran KiaiKanjeng di antara tangga-tangga nada Maiyah Padhangmbulan, malam ini jamaah diajak nyinauni KiaiKanjeng. Mas Syaiful mempersilakan jamaah untuk menanyakan apapun saja mengenai KiaiKanjeng kepada Pakdhe-Pakdhe KiaiKanjeng. Nyinauni Kiai Kanjeng. Ya, itulah tajuk Padhangmbulan kali ini. Pola komunikasi yang diharapkan adalah terjalinnya workshop dari jamaah Padhangmbulan bersama Bapak-bapak KiaiKanjeng.

Dibuka dengan kesadaran bersama bahwa Majelis Maiyah adalah ruang sinau bareng, belajar bersama, yang kesanggupan dan kesungguhan berpikir menjadi syarat utama. Bukan hanya “narasumber” saja yang mengolah pikiran, tapi semua jamaah terlibat secara aktif mencari dan menemukan formula-formula ilmu.

Bukan disodori “menu” informasi dan “hidangan” ilmu, tapi juga meracik bumbu, menanak nasi, nguleg sambal, lalu menikmatinya secara bersama-sama.

Nuansa kesadaran seperti itulah yang mencuacai workshop nyinauni KiaiKanjeng. Dan hadir di panggung lima penanya dari jamaah Padhangmbulan. Catatan yang kita sepakati bersama adalah setia dan menyetiai tema bersama. Pertanyaan atau respons di luar tema, para jamaah diharap berpuasa terlebih dahulu.

Ragam pertanyaan dari jamaah cukup bervariasi. Mulai dari genre musik, cengkok lagu shalawat dan dangdut, jadwal latihan, hingga fase perjalanan KiaiKanjeng.

Apa genre shalawat KiaiKanjeng? Begitu di antara pertanyaan yang disampaikan jamaah malam ini. Sebelum menjawab, Pak Nevi mencoba menyelaraskan nada pemikiran jamaah, terkait bershalawat dan menyanyikan shalawat. Karena bershalawat tidak lah sama dengan menyanyikan shalawat.

Mosok adewe nesrani Kanjeng Nabi, nesrani Gusti Allah mung cangkem-cangkeme dewe. Iki onok tangan, onok saron, ayok diajak shalawatan kabeh, diajak nesrani Kanjeng Nabi, nesrani Gusti Allah.” Kurang lebih begitulah yang disampaikan Pak Nevi menirukan apa yang telah disampaikan Mbah Nun.

Sekali lagi, yang perlu digarisbawahi, KiaiKanjeng tidaklah menyanyikan shalawat. Yang dilakukan KiaiKanjeng adalah bershalawat. KiaiKanjeng mengajak apapun saja untuk bersama-sama bershalawat, bersama-sama mencintai dan membahasakan cinta kita kepada Gusti dan Kanjeng Nabi melalui keindahan nada-nada. Barangkali, melalui kesungguhan dalam memantulkan dan menyuguhkan keindahan-keindahan bunyi ini bisa mengundang haru Gusti dan Kanjeng Nabi.

Jadi, kalau ada yang tanya, “Shalawat KiaiKanjeng genre-nya apa? Genre KiaiKanjeng adalah genre Ketuhanan Yang Maha Esa.” Semua yang dilakukan, semua bunyi yang diperdengarkan, semata-mata hanyalah karena untuk membahasakan cintanya kepada Sang Penguasa dan Pemberi Rasa Cinta.

Di lain sisi, Mas Syaiful memiliki kesempatan lumayan lapang untuk bertanya kepada Pak Nevi, misalnya tentang proses kreativitas bermusik KiaiKanjeng. Bapak-bapak KiaiKanjeng merespon setiap pertanyaan secara bergantian, akurat menempatkan komposisi respon untuk setiap pertanyaan, berbagi tugas secara alami menyampaikan penekanan-penekanan khusus bagi penanya. Tentu saja alur komunikasi menjadi cair, nyaman dan gayeng.

Pak Nevi bercerita tentang empat fase perjalanan KiaiKanjeng. Direspons oleh Pak Bobit, dikuatkan oleh Mas Jijit, diperdalam oleh Pak Joko Kamto, dicairkan oleh Mas Joko SP.

Demikian pula ketika seorang jamaah menukik pada musik ritmis dan melodis. Lalu terjadilah dialog secara “live”, saling merespons, dan Bapak-bapak KiaiKanjeng cukup piawai bergantian meracik respon demi respons. Mas Ari yang memiliki bekal “akademis” melengkapi sudut pandang, Mas Jijit dan Mas Joko melembutkan pandangan agar lebih mudah dicerna, dan Pak Bobit menanggapinya dengan keyboard Beliau.

Mas Doni membuka pintu: memaparkan beda pengalaman latihan saat ngeband dengan ketika mengikuti sesi latihan KiaiKanjeng. “Sesi latihan KiaiKanjeng selain berlatih layaknya berlatih musik, ada sesi latihan yang lebih substansial,” ungkap Mas Doni.

Latihan apa dan bagaimana? Mas Doni menyatakan latihan ngolah rasa, latihan ngemong rasa, latihan nyawiji. Latihan ini dilaksanakan kapan saja dan di mana saja. Yang ditekankan Mas Doni adalah latihan srawung sesama manusia dan menjadi manusia. Situasi dan pola sesrawungan inilah salah satu faktor yang mewataki musik KiaiKanjeng.

Lalu terjadilah semacam latihan kolaborasi singkat antara jamaah dengan Bapak-bapak KiaiKanjeng. Dipilihlah lantunan lagu “Subhaanallaah.” Dipandu oleh Mas Imam jamaah diajak untuk mengalami langsung “rasa” dan “naluri” musik KiaiKanjeng. (Achmad Saifullah Syahid/Hilwin Nisa)

Buku dan Merchandise