Mudik Sejati

Mukadimah Sulthon Penanggungan Juni 2018

Sya’ban telah terlewati. Sya’ban yang berasal dari akar kata Syi’ab. Diartikan sebagai “Jalan menuju Puncak”. Kemudian tibalah kita di Ramadlan yang artinya kering, panas, menghauskan. Setelah kita berjalan menuju puncak (Sya’ban), kita akan dihadang oleh Ramadlan (panas, menghauskan) agar kita sanggup mencapai tingkat kesucian (Fitri). 

Di tengah-tengah antara Ramadlan dan Fitri banyak orang melakukan mudik. Terutama Bangsa Indonesia. Entah asal-muasalnya bagaimana. Tapi ini menjadi tradisi tahunan Bangsa Indonesia.

Mudik merupakan kata kerja yang berasal dari kata “udik” yang artinya kampung atau desa. Mudik berasal dari “me-udik” yang diartikan sebagai menuju udik. Atau secara terminologi berarti pulang ke kampung halaman.

Tradisi mudik menggambarkan kerinduan para perantau tentang romantisme desa yang otonom. Sejak masa kerajaan, desa memiliki otonomi yang begitu besar. Bahkan Cak Nun pun pernah menulis tentang itu dalam “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”.

Desa merajut kembali ikatan pertemanan dan kekerabatan yang mulai pudar. Kolektivisme orang desa mampu menundukkan kesombongan, kewibawaan, dan kehormatan. Gairah berdesa menjadi pemantik seseorang melepaskan jabatan, identitas formal, dan status sosial. Hanya di desa, pepatah “duduk sama rata, berdiri sama tinggi” mampu terealisasi. Jadilah manusia makhluk tanpa kasta.

Prinsip-prinsip demokrasi dijunjung tinggi dengan menghargai segala bentuk perbedaan. Identitas agama, budaya, dan suku bangsa melebur, menihilkan beragam perselisihan dan permusuhan.

Desa sebagai sarana peredam segala kerinduan. Meski sudah bertahun-tahun berada di tanah rantau, mereka terikat dengan iklim perdesaan yang guyub, damai, dan tenang. Desa menjadi tempat istirahat paling nyaman dan mengesankan. Desa menampung romantisme masa kecil yang penuh kenangan. Di sana terbentang ribuan kenangan yang menautkan masa kini dengan masa silam.

Lalu, apa yang dimaksud dengan “Mudik Sejati”?

Jika istilah Mudik Sejati dilihat sebagai kata sifat, maka akan timbul pertanyaan apakah ada mudik yang tidak sejati? Padahal sejatinya, mudik ya mudik. Tidak ada mudik yang tidak mudik, semua berarti pulang kampung.

Lantas, apa maksud dari istilah Mudik Sejati?

Mudik Sejati adalah sebuah kata kerja yang berasal dari mudik menuju kesejatian. Yang artinya pulang atau kembali kepada kesejatian atau fitrah manusia, sesuai makna Idul Fitri itu sendiri.

Kembali kepada Fitrah manusia, pada konsep utama manusia, pada setting-an awal keinsanan, yang sering dilambangkan dengan kata suci atau kesucian.

Suci berarti bersih, bukan sekadar bersih tetapi bersih yang mulia. Bersih dari pengingkaran, penyelewengan dan pembelotan yang berujung kedurhakaan terhadap fitrah atau komitmen awal manusia untuk bertauhid ketika sebelum dilahirkan.

Dalam Maiyah tentu kita mengenal arti mudik secara luas. Bukan hanya kampung halaman jasadiyah, bahkan rohaniah, dengan konsep innalillahi wa innailaihi roji’un.

Mau tidak mau, bisa tidak bisa, ikhlas tidak ikhlas kita harus melakukan perjalan menuju pulang, entah itu dengan cara baik, atau buruk. 

Dalam ilmu tasawwuf ada yang namanya kasyaf atau tabir. Betapa ngerinya kita jika kita tahu bahwa kita berada dalam kepungan tabir. Perjalanan kita menuju pulang akan terhalang kabut-kabut. Akibatnya kita terjungkal, terjatuh, berdarah-darah.

Betapa ngerinya lagi jika kita telah sampai pada Tuhan dengan keadaan diri yang penuh dengan kedholiman. Dholim yang artinya “tidak pada tempatnya”, tertumpuk pada diri kita. 

Pulang, perjalan menuju pulang, harus tetap kita lakukan, solusinya “Qul in kuntum tuhibbunallah fattabi’uni yuhbibkumullah“. Katakanlah hai Muhammad, ikutilah aku, jika engkau cinta kepada Allah. Baik (fastabiqul khoirot) saja tidak cukup. Benar (al-Haq) saja tidak cukup, jika tanpa ada cinta.

Melalui tema Mudik Sejati, diharapkan mampu mengingatkan kita untuk kembali meninjau dan menata ulang tujuan hidup agar sesuai fitrah yang sejati.

Seperti para pemudik, kita mencoba untuk bernostalgia, menyusuri kembali jalan-jalan setapak kehidupan kita. Masih kah asri seperti suasana pedesaan? Ataukah riuh rendah, hiruk pikuk, atau bahkan carut marut bak kehidupan urban?

Untuk lebih lengkap dan gamblangnya, mari melingkar dalam Majelis Masyarakat Maiyah Sulthon Penanggungan pada hari Sabtu, 30 Juni 2018 jam 20:00 di Rumah Cak Luthfi, Dusun Sumberingin Desa Sumbersuko Kec. Gempol Kab. Pasuruan.