MQ Pitu, Sugeng Ambal Warsa Maneges Qudroh

Belakangan ini angka tujuh kerap hadir berkelebat dalam pikiran. Angka tujuh yang pertama dikarenakan pada 27 Januari lalu saya berkesempatan mengikuti Gedenktag für die Opfer des Nasionalsozialismus atau lebih gampangnya disebut Hari Peringatan Holocaust di tempat saya bekerja, sebuah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Baden Württemberg. Holocaust yakni suatu peristiwa pada kisaran perang Dunia kedua di mana pada kepemimpinan Adolf Hitler terjadi pembunuhan besar-besaran terhadap mayoritas orang Yahudi di Jerman pada tahun 1940-an.

Setiap tahunnya pada tanggal 27 Januari terutama kantor-kantor pemerintahan di Jerman selalu memperingatinya. Hal menarik dari peringatan tersebut ialah dalam pidato Bapak Direktur RSJ di hadapan para karyawan, pasien, anak SMP dan SMA, beliau tidak mengungkit apakah dulu Adolf Hitler dan partainya bersalah atau tidak, namun Pak Direktur lebih menekankan dan memfokuskan bagaimana agar masa kelam sejarah mereka itu tidak terulang di kemudian hari.

Rasa Memiliki

Saya melihat persitiwa kelam dalam sejarah perjalanan Jerman itu di zaman ini tidak diabaikan. Masyarakat Jerman diajak untuk memiliki sejarah itu namun harus disikapi dengan cara pandang yang sebisa mungkin “hakim” atau presisi. Sense of Belonging atau rasa memiliki ini saya melihat juga  diturunkan dari generasi zaman old ke zaman now dan juga menjadi ruh di Maiyah.

Maiyah mengajak ana-anak muda belajar banyak dari perjalanan nenek moyang dari mungkin 10 tahun lalu, 50 tahun atau bahkan 500 hingga ribuan tahun lalu. Ini diperlukan agar dalam perjalanan sejarah baik di rumah tangga, masyarakat ataupun bernegara ke depan tidak mengulang kesalahan yang sama.

Rasa memiliki ini menurut saya menjadi penting karena di dalamnya ada cinta dan kerelaan. Jika hari ini ada suatu negara yang para pemimpinnya berlomba untuk memperkaya diri dan keluarganya saja, melanggar banyak aturan negara sehingga merugikan rakyat serta masa depan bangsanya,  maka keseluruhan hidupnya tak akan pernah memiliki rasa ketenangan. Sebab hatinya tak memiliki rasa cinta sedikit pun dan kerelaan berkorban kepada rakyat. Padahal dari sebagian harta dan ilmu yang dititipkan itu ada hak yang harus diberikan kepada yang lain.

MQ Pitu

Sedangkan angka tujuh yang kedua ini pun cukup spesial. Sebab Anoman Maneges di Tlatah Pakuning Jawi, Magelang beranjak ke usianya yang ketujuh. Rasa memiliki dan pengetahuan akan sejarah di-ada-kannya Maneges Qudroh juga menarik untuk diselami.

Jika mengingat kembali ‘bayi’ Maneges Qudroh, sesungguhnya nama tersebut memiliki bobot yang teramat berat dalam memanggulnya. Maneges Qudroh merupakan simpul Maiyah di Magelang juga sekitarnya dan biasanya diadakan setiap malam minggu pertama bulan Masehi. Nama Maneges Qudroh merupakan pemberian dari Simbah Guru, Muhammad Ainun Nadjib ketika para Jamaah Maiyah Magelang berniat ingin mengadakan forum paseduluran bagi Jamaah Maiyah di wilayah Magelang dan sekitarnya. Cak Nun pada 2011 memberikan beberapa usulan nama yakni Numrapi, Maneges Qudroh, Sangkan Paran, dan Minalloh illalloh. Yang akhirnya terpilih Maneges Qudroh sebagai nama forum ini.

Menurut Cak Nun, Maneges berasal dari salah satu cerita pewayangan yaitu pada lakon Anoman Maneges. Dalam cerita tersebut dikisahkan Semar dan Anoman sebagai Pamonge Pandhawa mendapat tantangan untuk mencairkan suasana yang semakin keruh dan rumit.

Cak Nun membandingkan Kresna ketika berubah menjadi raksasa dengan ketika Anoman Maneges berubah menjadi raksasa. Sebab beda kalau Kresna berubah wujud menjadi raksasa, sedang Anoman berubah menjadi raksasa namun tetap berwujud Anoman. “Nah sekarang Anomane sih cilik banget nang Magelang kae,” kata Cak Nun.

Beliau juga menambahkan, “Nek koe sinau Maneges, lambat atau cepat kudu gelem ngethek-ngethek sithik. Jenenge wae Anoman, iyo to? Gelem tirakate Kethek, tirakate Monyet, tirakate dikethèk-kethèkké wong, diremehké uwong dan saya kira tirakat yang terbaik adalah diremehkan orang.”

Dr. Ahmad Fuad Effendy, satu dari sembilan Penjaga Bahasa Arab Dunia King Abdullah bin Abdul Aziz International Center for Arabic Language atau yang kerap disapa Cak Fuad menuturkan bahwa Qudroh berarti kekuasaan Allah. Sedangkan Cak Nun mentadabburinya, Qudroh itu sebagai tindakan khususnya Allah karena tindakan yang rutinnya adalah Sunatulloh.

“Ibarate ngene, nek wit Klopo ki sunatullohe ra ndue pang, nek ono wit Klopo duwe pang kui berarti Qudroh”, tambah Cak Nun. Ibaratnya begini, pohon Kelapa itu sunnahnya tidak bercabang, kalau ada pohon kelapa bercabang itu namanya Qudroh.

Angka tujuh atau pitu dalam peradaban Jawa sarat akan makna. Semoga di usianya yang ketujuh, MQ tetap selalu Istiqomah, selalu mendapat pituduh, pitulungan dengan segala pitutur yang ada dalam lingkarannya. Berkah di Bumi, Berkah di Langit.

Sugeng Ambal Warso ingkang kaping VII Maneges Qudroh.

Münich Airport, Jerman, 1 Februari 2018

Belakangan ini angka tujuh kerap hadir berkelebat dalam pikiran. Angka tujuh yang pertama dikarenakan pada 27 Januari lalu saya berkesempatan mengikuti…