Merenungi Gelisah, Menelisik Telaga

Bergumam sang jalma menapaki bebatuan padas, keluh kesalnya mengorek luka-luka bangsanya. Sembari merebah di bawah pohon rindang dan dituliskannya dalam secarik lontar sebuah esai berbumbu geram: “Mengalami berbagai hal pelik tentu merupakan sebuah kewajaranku, bagi seorang jalma. Tidak ada yang kekal di bawah kolong langit. Pembelaan terhadap subjektivitas makna bersenggolan dengan subjektivitas lainnya kerap kali berujung konflik yang meretakkan.”

Jalma-jalma yang kelihatannya dijamin untuk berserikat, berkumpul ternyata kebebasannya tidak seperti yang dijaminkan. Ada ruang abu-abu yang justru mengatur pola-pola jalma. Berbagai kreativitas, interaksi, seni,  banyak ditunggangi politik.

Gonjang ganjingnya negeri seperti bunyi tetabuhan yang rengeng-rengeng menyentil telinga, sementara langit semakin temaram. Kesombongan dan keakuan yang menawarkan diri semakin anyir di tiap jengkal tanah.
Jalma yang kemudian pecah. Dibelanya, ditolaknya, didukungnya, dikritiknya, disembahnya, diludahi habis tiap-tiap nama yang muncul bak satrio piningit zaman now.

Ini zaman talbis, di mana wajah yang dianggap benar justru penuh kepalsuan di dalamnya. Dukung-mendukung diteriakkan sampai serak, untuk kemudian ditipu lagi, dikubur bersama kekecewaan sebentar, lalu mau ditipu lagi.

Ini zaman di mana Tuhan hanya jadi sandaran berkeluh kesah dan ayat-ayatnya menjadi pembenar di setiap bebal langkah.

Kyai-kyainya dicederai, biksunya diteror, gerejanya dirusak, oleh arus-arus yang tak menentu. Lalu polarisasi tercipta di mana-mana, saling hujat, saling tebar kebencian direkayasa. Orang yang sangat santun di dalam rumah ibadah, bisa menjadi pembenci-pembenci yang ulung.

Apa yang harus diagungkan dari negeriku, ketika membela identitas adalah wujud baku dari sebuah entitas.

Formula peredam getarannya diberikan setiap hari. Namun, siapa yang memicu siapa. Siapa yang mau digerakkan, karena banyak yang bersikukuh untuk bergerak demi keuntungannya sendiri, demi golongannya sendiri, demi agamanya sendiri, demi perut dan usus kekuasaanya sendiri.

Di bilik kosong terdengar: “Lingsir Wengi tan kendhat… Beboyo memolo tan kinaya ngopo…

Inilah “a night full of teror” atau inikah Zaman Kalabendhu itu? Bencana melanda di seluruh negeri. Kemiskinan, kelaparan merenggut nyawa di ujung timur RI. Lalu badainya melesat, rubuhnya berkilah. Geger retakan tanahnya, meluap air bah-Nya.

Manusia lupa berkendara pada kesunyian, berguru pada keheningan. Kaki-kakinya berjejak terus pada beton dan besi, hingga lupa bilamanakah merebah di tanah-tanah basah. Mulutnya terus mengunyah pengawet, namun lupa pada tetumbuhan yang sejuk.

Di tengah berbagai kebuntuan, sang jalma menghentikan tulisnya. Melanjutkan perjalanan panjangnya menyepi dari keramaian, melakoni jalan sunyinya.

Sambil berjalan menyusuri punggungan era, menyibak ratusan ranting-ranting informasi. Kutemukan tempat itu, tempat yang menawarkan air jernih sekaligus cahaya rembulan. Lilinnya redup memberi makna terang.

Semburatnya merah jingga, seleret matahari-Nya menguak angkasa. Dari belik-belik suci itu, ibu-ibu datang membawa bokor mengambil airnya.

Anak-anak diusap air telaga, dan pengembara pencari hidup mampir sejenak mengusap peluhnya. Ada kehidupan dan keseimbangan memancar hebat dari telaga. Tejanya biru disaksikan orang-orang tua yang peka.

Rimbunnya Hutan seakan bertasbih: “Alamilah, nikmatilah, belajarlah, bergembiralah, serta berbahagialah dalam keseimbangan.” –Daur II-308Lingkar Organisme Kemanusiaan.

Dan jalma tak ayal berkata, “Inikah Telaga Maiyah, telaga yang dirindukan banyak orang itu? Telaga keabadian yang Angin menyapu wajah mereka?”

Lama-lama hembusan angin mengeras. Kemudian mendera dengan sangat deras. Angin berputar-putar. Membungkus mereka semua. Dan beberapa saat kemudian mereka diterbangkan pergi dari tempat mereka semula. Mereka berpindah ke bagian lain dari ruang dan waktu.” –Daur II-306Telaga Maiyah.

Sejenak mereka duduk-duduk di telaga, membersihkan diri, lalu bersujud kepada Khalik atas anugerah dari hakikat sebuah pertemuan. Berkelakar sejenak, lalu kembali melanjutkan langkah membawa Air telaga ke gubuk mereka.

Dan sang jalma terus berjalan.

Kleco Wetan, 23 Februari 2018