Mereka Tahu Bagaimana Merencanakan Keluarga

Reportase Sinau Bareng CNKK dan BKKBN, Grobogan, 6 November 2018

Jam sudah lebih dari sepuluh malam kala Mbah Nun meminta jamaah turut membersamainya membaca sholawat. Dengan urutan pertama sholatum minallah wa alfa salam, dilanjut Sidnan nabi, dan dipungkasi dengan Sholli wa sallim da’iman alahmada. Ini tidak seperti biasanya. Durasi Mbah Nun membaca sholawat agak lama. Semua terjadi seketika dan tiba-tiba. Kepada pejabat dan aparat keamanan Groboban yang turut hadir di atas panggung, Mbah Nun meminta maaf kalau durasi bersholawatnya kelamaan. Tapi, menurut Mbah Nun, cara ini dilakukan agar semua yang datang bisa diberkahi jodoh bagi yang belum punya jodoh dan bisa menjadi keluarga harmonis bagi yang sudah berkeluarga. Suasana kehikmatan mendengar kalimat-kalimat suci terasakan sejenak di lapangan Gubug, Grobogan, tadi malam, Selasa 6 November 2018.

Sebelum mengajak jamaah berdiri untuk menyanyikan bersama lagu kebangsaan Indonesia Raya. Mbah Nun bertanya kepada jamaah apakah akan keberatan jika jamaah yang sudah duduk diminta untuk berdiri lagi. Masalahnya bukan perkara pindah posisi dari duduk ke berdiri, tetapi persoalan kondisi tanah lapangan Gubug yang gembur karena habis diguyur hujan. “Kalau seandainya Anda berdiri nanti membuat kondisi lebih buruk, kita duduk saja,” pinta Mbah Nun. Tapi jamaah menjawab tidak ada masalah dengan lokasi duduknya. Mereka tidak keberatan jika harus berdiri lagi. Maka pemandangan orang-orang berdiri menyanyikan Indonesia Raya tersaji di lapangan Gubug.

Tidak butuh waktu lama bagi Mbah Nun untuk mengarahkan jalannya sinau bareng malam itu bersama Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Beliau langsung meminta sembilan orang asli Gubug dan empat orang luar Gubug naik ke panggung. Mereka semua kemudian dibagi ke dalam tiga kelompok. Setiap kelompok terdiri atas tiga orang asli Gubug dan satu orang luar Gubug. Setiap kelompok nantinya diminta berembuk untuk menjawab pertanyaan dari Mbah Nun. Kelompok pertama ditanya, apa nilai terpenting bagi orang yang sudah berkeluarga. Kelompok kedua, apa saja ancaman ketahanan bagi orang berkeluarga. Dan, yang terakhir kelompok ketiga, apa saja yang harus dilakukan orang yang berkeluarga. Ada waktu kurang lebih satu jam yang diberikan Mbah Nun untuk kelompok tersebut mencari tempat yang kondusif dan merumuskan jawaban masing-masing.

Sembari menunggu tiga kelompok tersebut berembuk, Mbah Nun menjelaskan bahwa kita sebagai manusia harus tahu keluarga kita semua. Harus tahu akar keluarga kita. Kita sebagai manusia harus bisa mengenal asal mula keluarga kita, yaitu Nabi Adam dan Siti Hawa. Dan, terkhusus kepada warga Gubug dan Grobogan, Mbah Nun meminta mereka untuk mengenal keluarga mereka sampai ke Dewata Cengkar dan Aji Saka. Karena menurut cerita rakyat, dari dua orang itulah peradaban Jawa dimulai. Dan, Grobogan menjadi tanah yang pertama kalinya diinjak sejak manusia hadir di Jawa. Di Grobogan inilah cerita peradaban Jawa dimulai.

Cerita singkat dari Mbah Nun itu seketika menaikan lagi kepercayaan diri warga Grobogan. Pasalnya, kalau kita mencari informasi di pelbagai media, Grobogan kerap sekali menjadi langganan berita daerah termiskin, kekeringan, dan menurut data BKKBN menjadi salah satu daerah  yang menempati angka tertinggi perkawinan usia dini, kematian bayi dan ibu melahirkan. Seolah manusia-manusia yang menghuni daerah ini tidak becus melakoni hidup sesuai standar kewajaran umum. Tapi bersama Mbah Nun, masyarakat Grobogan seperti dibangunkan lagi kesadarannya yang sudah lama tertidur. Bahwa tanah yang mereka tinggali sekarang ini pernah menjadi awalan dari sebuah peradaban besar bernama Jawa.

Kalau kita bisa merunutkan silsilah keluarga kita, kata Mbah Nun, kita bisa terhubung dengan leluhur-leluhur kita dan bisa menjalani hidup dengan acuan ajaran kehidupan yang diwariskan. Mbah Nun memulai sinau keluarga dengan ajakan untuk mengingat keluarga yang sudah tidak ada dan menyambung silaturahim dengan keluarga yang masih ada.

Berbicara tema keluarga, apalagi didampingi oleh BKKBN, pikiran kita langsung menjurus ke bayangan seorang bapak dan ibu beserta anak yang mendiami rumah. Kalau keluarga didefinisikan sesederhana itu, maka acara Sinau Bareng pada malam itu menemui segmen pendengar yang tidak tepat. Pasalnya, kebanyakan yang hadir di malam itu adalah banyak kawula muda yang belum berkeluarga alias jomblo dan juga para remaja alias “kids zaman now”.