Mereka Mandiri dan Baik, Jangan Anggap Perlu Dituturi

Liputan Sinau Bareng CNKK di Dusun Petis, Duduk Sampeyan, Gresik, 19 Juli 2018

Tidak perlu banyak aturan, berilah ruang dan kepercayaan. Demikian salah satu perasan nilai yang diwedhar Mbah Nun tadi malam. Secara titis Mbah Nun membidik muatan sabda Nabi tentang kewajiban mencari ilmu, yang dikontekstualisasikan pada bentangan kasunyatan zaman kini. Hadits “Tholabul ‘ilmi faridlotun ‘ala kulli muslimiin wa muslimatin” telah jelas artinya. Bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi tiap muslim. Mbah Nun kemudian mengajak jamaah menukik kepada frasa “mencari ilmu”.

“Sing wajib iku ndolek ilmu, rek. Dudu mulang, dudu ngajari. Yang perlu kita bangun itu atmosfer mencari ilmu, jika dilakukan bersama-sama jadinya sinau bareng. Saiki sing akeh iku atmosfer mulang, kakehan wong sing penggaweane tutur-tutur ae…,” dhawuh Mbah Nun.

Tak sekadar membaca fenomena dan lalu mengajukan kritik atasnya, Mbah Nun juga sekaligus menerapkan ilmu itu di panggung. Lima belas jamaah yang “pemuda” secara acak diminta naik, dibagi menjadi tiga kelompok. Masing-masing kelompok diberi waktu 45 menit untuk diskusi. Mereka diminta merumuskan hal-hal apa saja yang perlu diwarisi (diteruskan) dari generasi sebelumnya, dan apa saja yang patut ditinggalkan.

Saya hanya akan berbagi sebagian hasil diskusi kelompok I. Mereka bersepakat ada 5 hal yang perlu diteruskan, yakni, pertama, menjaga sopan santun dan akhlak; kedua, bersedia berkhidmad dan taat; ketiga, memantaskan diri untuk menjadi teladan sekaligus meneladani; empat, gemar memberi, tak berharap diberi; dan kelima, gemar mempelajari dan menghargai sejarah.

Kelima poin tersebut dipresentasikan di hadapan ribuan jamaah, disertai argumentasi-argumentasi yang mapan. Dari paparan anak-anak muda itu, Mbah Nun mengajukan pertanyaan retoris kepada para tokoh masyarakat yang hadir (sebagai representasi generasi “tua”), “Lho, delok’en tah Pak, arek-arek enom iki bisa lho menemukan secara mandiri hal-hal baik. Ngunu iku sik perlu dituturi ta?”

Ketika atmosfer pencarian itu tercipta, berikanlah ruang, kasih kepercayaan, tak perlu terlalu repot menggemakan aturan, maka proses mencari ilmu akan berlangsung menyenangkan. Begitu saya mencatat dan menarik kesimpulan.

Ikhtiar simulasi mencari warisan nilai dari generasi sepuh ini seolah memang berjodoh dengan lokasi Maiyahan. Sebelum bernama Petis, konon dusun ini dulunya memiliki nama Nitis. Akhlak mulia yang diajarteladankan oleh para sesepuh, diharapkan dapat menitis, diwarisi oleh generasi penerusnya. Mbah Nun juga berpesan, “Banyak yang teridentifikasi oleh kita baru sebatas uwoh, buahnya. Arek-arek enom iki kudu terus latihan berpikir mengakar, golekana nganti oyot’e, Rek. Sing telaten, kudu teliti, harus “taftiisy”. Mbah Buyut Pupon mengganti nama dusunmu dari Nitis menjadi Fatiisy, Petis!”.