Merawat yang Lama, Menyapa yang Baru

Reportase Sinau Bareng di Desa Wijirejo, Pandak, Bantul, 16 Oktober 2018

Anak-anak tampak ceria bermain di sekitar lapangan, beberapa orang tua mengawasi dari jauh, duduk di tempat-tempat seadanya. Beberapa penjaja makanan menggelar tikar. Boleh duduk untuk yang jajan, yang tidak jajan numpang duduk kalau tidak malu juga boleh. Saya numpang duduk saja, tadi sudah makan di angkringan sebelah sana. Itu pemandangan dari pinggir-pinggir lapangan, orang-orang tua yang mengawasi anak-anak mereka sambil menyimak sajian kemesraan dari panggung Sinau Bareng yang didirikan di lapangan Gesikan, Ds Wijirejo ini.

Anak-anak masih ceria saja, berkejar-kejaran, bermain sesuatu yang saya tidak tahu apa namanya, seperti ketapel yang dilontarkan ke atas kemudian melayang turun sambil menyala-nyala. Seorang ibu menjerit kaget, ketika anaknya yang masih kecil mengarahkan ketapel-ketapelan itu ke tempatnya duduk. Ibu-ibu lain di dekatnya juga terkejut, omelan-omelan dengan bahasa Jawa saya kurang mengerti, tapi kita bisa sepakat bahwa seorang ibu tidak pernah membenci anaknya walau suara cemprengnya membahana memecah dinding langit. Anaknya cengengesan, kemudian lari bermain lagi bersama teman-temannya. Mungkin dia hanya merasa kangen sama suara omelan ibunya tadi dan dia memilih cara seperti itu.

“Mbah cap opo koq ra tau misuhi putune,” sekilas dari panggung Mbah Nun sedang melontarkan kalimat tersebut, saya sudah beranjak berkeliling-keliling lagi melihat-lihat, menikmati suasana yang baru saya alami malam itu. Tidak betul-betul baru juga mungkin, kalau dari sudut pandang bahwa kebanyakan Sinau Bareng seringnya diadakan di desa-desa, tapi setiap peristiwa Sinau Bareng ada saja hal-hal baru.

Dari panggung Mbah Nun bercerita dan mengutarakan bekal-bekal benih ilmu yang bisa ditanam pada lahan subur batin masing-masing. “Tidak mengerti saat ini tidak apa-apa, bahkan mengerti atau tidak itu bukan hal utama, tapi Anda bermanfaat. Itu yang penting,” begitu kira-kira kalimat Mbah Nun.

Dalam Sinau Bareng, di Maiyah, pemahaman ilmu memang bukan hal utama dan sepertinya itu sejalan dengan Al-Qur`an sendiri yang tidak pernah dramatis soal kebenaran tapi yang lebih utama adalah soal kemanfaatan. Kita diperintahkan untuk berpikir, mencari ilmu tapi tidak pernah disuruh menjadi benar karena “al-haqqu min robbikum” baru pada masa-masa pengkitaban manusia menjadi sangat dramatis mengenai benar-salah, mengenai definisi, mengenai tolok ukur bahasa dan sebagainya.

Baru saja sorang cawapres dari negara tetangga berkunjung ke Kedatuan Kedaulatan Kadipiro, beliau seorang sesepuh dengan pengetahuan yang mendalam mengenai berbagai kitab. Tapi beliau sang sepuh ini juga perlu meminta nasihat, pertimbangan, saran dan doa restu dari Mbah Nun. Di Maiyah kita menampung semuanya, begitu yang dicontohkan Mbah Nun.

“Beliau kan ilmunya dari kitab-kitab kuning, sehingga banyak hal soal ketatanegaraan yang belum dimengerti,” sekali lagi, kalimat Mbah Nun ini mungkin seingat saya saja. Tapi rasional saja, kita masih berkutat pada kitab-kitab pada abad berapa untuk menghadapi persolan pada era pasca-modern ini? Banyak hal dan persoalan yang belum ada di zaman kitab-kitab itu disusun, walau di satu sisi memang ada juga istilah “tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” itu pada tataran substansi tapi secara teknis dan aplikatif banyak hal yang perlu pembacaan-pembacaan baru.

Game of Thrones sudah menjelang season delapan sebentar lagi, masa yang dikutip masih season awal-awal? Game of Thrones saja melaju sangat cepat, apalagi politik global dunia nyata saat ini, bukan? Toh hanya karena mengutip kalimat bapaknya Jon Snow, tidak berarti yang mengucapkan kalimat itu sesatrio piningit Jon Snow kan. Kita juga tidak tahu kedepannya siapa yang akan menjadi kunci perdamaian di Westeros, sementara Dothraki di bawah kepemimpinan Mother of The Dragon menjadi kekuatan baru di seberang Narrow Sea dan para Night Walker mulai menjadi ancaman baru untuk keseluruhan houses.

Lainnya

Buku dan Merchandise