Meratus, Sumber Kehidupan yang Terancam

Catatan Majlis Ilmu Maiyah Syafaat Batangbanyu, 27 Januari 2018

Syafaat Batangbanyu Banjarmasin

Pegunungan Meratus sejatinya memiliki tuah besar. Mengapa Meratus punya tuah? Sebab Meratus adalah ekosistem vital bagi Kalimantan, Indonesia, bahkan dunia. Itulah yang menjadi alasan krusial mengapa Pegunungan Meratus harus tetap dipertahankan keberadaannya, oleh siapa saja. Lebih-lebih masyarakat adat, pemerintah dan seluruh komponen masyarakat. Mereka harus bersama-sama menjaga dan menjauhkan Meratus dari kepentingan dan campur tangan kapitalis yang berupaya menghilangkan Pegunungan Meratus dari peta dunia.

Pegunungan Meratus yang membentang di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah, tidak saja menjadi rumah dunia bagi masyarakat adat Dayak dan rumah dunia bagi tak terhingga flora dan fauna, ia juga berperan sebagai zona penyeimbang semesta raya. Sebagai rumah dunia bagi masyarakat Dayak, Meratus adalah sumber kehidupan.

Sebagaimana warga Desa Juhu, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, masyarakat setempat menempatkan Meratus sebagai ladang Tuhan. Sebab, di tubuh Meratus, denyut nadi kehidupan banyak disandarkan. Mereka bercocok tanam, berburu, memanfaatkan apa yang ada di Meratus sebagai bagian dari merawat bumi, merawat kebijaksaan dalam memenuhi kebutuhan dari apa yang ada di Meratus. Selain itu, tentu masih banyak kehidupan lain di pangkuan Meratus yang belum terjangkau oleh manusia, dan tentu saja harus terus dijaga.

Cak Imam Bukhori mengatakan, Pegunungan Meratus adalah ibu bagi siapa saja. Ia ibu bagi manusia. Ia ibu bagi hewan-hewan, Ibu bagi tumbuhan, Ibu bagi sungai-sungai, Ibu bagi pepohonan. Ia adalah ibu bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Di pangkuannya, manusia hidup, bernapas, beraktivitas. Lewat kasih sayangnya, sungai-sungai mengalir, bunga-bunga merekah dengan indahnya, bekantan bergelantungan dan bersuka cita. Ketika Meratus disakiti, tak hanya manusia yang bersedih, tetapi seluruh makhluk hidup ikut berduka.

Di Majelis Laladang Rindu Ngosongo, Kecamatan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Sabtu (27/1/2018), pegiat Maiyah yang tergabung di dalam Komunitas Syafaat Batangbanyu mendiskusikan nasib Pegunungan Meratus yang dipercaya masih memiliki tuah, meski hari ini ia terancam punah. Dari sekian banyak pembicara, Muhammad Imam Satria, salah satu advokat yang juga pegiat Maiyah di Banjarmasin mengatakan masyarakat bisa melakukan perlawanan atas keputusan pemerintah yang singkatnya mengizinkan aktivitas pertambangan di Pegunungan Meratus melalui beragam cara. Perlawanan itu bisa melalui pergelaran seni, puisi, maupun seperti yang digelar oleh Syafaat Batangbanyu. Namun, perlawanan juga harus dilakukan secara langsung dengan menggugat SK Menteri ESDM lewat jalur hukum. Ia menyebutkan salah satu pengacara senior di Kalimantan Selatan sudah melakukan upaya perlawanan ini.

Syafaat Batangbanyu Banjarmasin

Sejumlah pegiat Maiyah lainnya juga mengatakan hal yang sama. Intinya mereka tidak ingin Pegunungan Meratus dikotori oleh tangan-tangan jahil yang sejauh ini belum kelihatan batang hidungnya. Wawan, salah satu pegiat Maiyah dari Batulicin, juga memiliki harapan yang sama. Apalagi ia mendengar luas izin usaha pertambangan di Meratus memiliki luas yang sama dengan Pulau Bali dan Kabupaten Tanah Bumbu. Itu berarti, Puncak Halau Halau sebagai puncak tertinggi di Pegunungan Meratus yang ketinggiannya mencapai 1901 Mdpl terancam lenyap.

Selain mendiskusikan Tuah Meratus, pegiat Maiyah malam itu juga berdiskusi tentang bibit-bibit Maiyah yang mulai berkembang di sejumlah daerah di Kalimantan Selatan. Di Batulicin, misalnya. Meskipun tidak ada embel-embel Maiyah, tetapi menurut salah satu penggagasnya, Arif Rahman, spirit yang diusung oleh komunitasnya diambil dari Maiyah. Nilai-nilai yang diperjuangkan adalah Maiyah. Itu ditambah dengan mayoritas penggagas forum yang disebut dengan Lesehan Seni dan Sastra ter-influence oleh pemikiran Emha Ainun Nadjib. Pun begitu di Banjarbaru dan beberapa daerah lainnya. Sebagai organisme, Maiyah akan terus berkembang meskipun bisa saja memiliki gaya yang sedikit berbeda dibandingkan dengan Komunitas Maiyah yang sudah berkembang di Pulau Jawa.

Pertemuan malam itu juga digunakan untuk membahas Piagam Maiyah yang berisi pertanyaan seputar problematika sosial yang sering kali terjadi di lingkungan masyarakat. Pegiat Maiyah diberikan secarik kertas. Oleh Koordinator Syafaat Batangbanyu, Sumasno Hadi, mereka diminta untuk mengisi masalah apa yang sering terjadi di masyarakat sekaligus memberikan solusinya. Pengisian formulir Piagam Maiyah dilakukan di seluruh Komunitas Maiyah yang ada di Indonesia.

Sementara itu, maiyahan malam itu turut dimeriahkan oleh grup Mocopat Bambu Laras yang berkolaborasi dengan Ki Sulisno, dosen Pendidikan Sendratasik Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Mereka membawakan tembang Pepiling lengkap dengan bowo-nya yang isinya mengajak umat Islam menjalankan shalat lima waktu. Selain itu, ada juga penampilan Puja Mandela dengan gitar akustiknya yang membawakan lagu “Kesaksian” milik Kantata Takwa. Arif Rahman penyair dari Batulicin menyusul dengan puisi legendaris Cak Nun, “Kemana Anak-anak Itu?”.

Setelah penampilan Arif Rahman yang memukau, Cak Imam Bukhori tak mau kalah. Ia juga membawakan sebuah puisi dengan iringan musik tradisional dari Mocopat Bambu Laras. Tuan rumah, Bambang Sucipto, juga unjuk gigi dengan menampilkan musikalisasi puisi berjudul “Anjing”, karya Imam Bukhori.

Tak seperti biasanya, diskusi malam ditutup dengan doa, lebih cepat yakni pukul 00.00 WITA. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tidak resmi; ngejam lagu-lagu Koes Plus, Iwan Fals, dan God Bless sampai pukul dua dini hari. (PJM/SH)