Meraba Emergence dan Swarm Intelligence Maiyah

Demikian juga pola iterasi ketika Borobudur dibangun dalam waktu lebih kurang 75 tahun. Waktu selama itu pasti mengalami pergantian para pekerja yang membangunnya. Tidak seperti pada teknik arsitektur dan sipil modern, di mana ada gambar kerja. Borobudur tidak memilikinya. Yang menjadi “guidance” adalah pola tertentu pada bentuknya, sehingga siapapun yang mengerjakannya, “hanya” tinggal patuh pada pola tersebut.

Divisi pembuat batu penyusunnya, divisi pembuat arca sang buddha, divisi pembuat stupa, hingga kuli yang meletakkan batu pada tempatnya, “hanya” mengikuti pola tersebut, yang penelitian matematika mutakhir menunjukkan perulangan pola 4-6-9 pada seluruh bangunan Borobudur. Kepatuhan pada pola ini adalah yang juga saya tangkap secara subjektif dengan konsep kepasrahan dalam Islam. Menyerahlah, pasrahlah pada kehendak-Nya. Sebab kita tidak memiliki saham apapun dalam seluruh kehidupan kita. Sebagaimana sering disampaikan oleh Mbah Nun.

Dan dalam sempitnya pandangan saya, demikianlah Maiyah diperjalankan-Nya. Maiyah hanya bisa “sami’na wa atha’na” kepada mekanisme sunnatuLlah, sebagaimana alam semesta bekerja dan berjalan. Jika ada seseorang yang menyelaraskan dirinya dengan frekuensi fitrah kemanusiaannya, pasti akan menerima resonansi dari frekuensi Maiyah.

Maka sangat masuk akal melihat setiap Maiyahan dihadiri oleh berbagai spektrum masyarakat. Baik spektrum sosial, ekonomi, budaya, ideologi, fisik, pendidikan, usia, etnis, maupun spektrum lainnya, termasuk agama yang dianut. Dan logika berikutnya adalah ketika seekor semut, ikan atau burung memilih tidak “patuh” pada pola dalam kumpulannya, ia “terpental keluar” dengan sendirinya yang dengan demikian bisa membahayakan dirinya sendiri.

Dan sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan: menyerahlah pada qudrah dan iradah-Nya, ikuti saja irama-Nya, ngglepung-lah dalam adonan-Nya–dan selamat menemukan nikmatnya bermaiyah. Sebagaimana dipesankan Markesot: “Maka jangan berkata apapun, jangan bantah dan jangan melakukan perlawanan terhadap hewan dan spare part industri. Kalian belajar dulu. Sambil memastikan bahwa di setiap jengkal pengalaman kalian tetap mempertahankan kemanusiaan, kalian Sinau Bareng dulu rajin-rajin”.

Markesot mendorong anak-anak itu untuk berhijrah. Bergerak mendekat ke mereka yang berhimpun dalam lingkaran “anak-anak asuh Markesot” lainnya, yang menyebutnya Maiyah. Lingkaran Cincin Persaudaraan yang membuka pintu sangat terbuka bagi siapa saja. Masukilah lingkar organisme kemanusiaan yang belum pernah ada sebelumnya. Alamilah, nikmatilah, belajarlah, bergembiralah, serta berbahagialah dalam keseimbangan.

Kita bertemu di sana. []