Meraba Emergence dan Swarm Intelligence Maiyah

Lalu kemudian Maiyah “dihadirkan” dan secara natural “memutuskan” untuk berjalan sebagai Organisme, bukan organisasi. Idiom “terus berjalan”, “mengalir”, “berjuang” dan idiom-idiom akrab di dalam Maiyahan adalah idiom yang lahir dari sistem Organis yang dijalankan Maiyah. Sekadar mendudukkan persoalan agar tidak capek karena terus menerus berdiri, Maiyah sebagai Organisme ini berjalan dengan sistem organis, dan bukannya berjalan dengan sistem mekanis sebagaimana sebuah organisasi dijalankan.

Contoh sistem organis yang paling jelas adalah bagaimana tubuh manusia dan tetumbuhan bekerja. Dan contoh sistem mekanis adalah bagaimana mobil atau kendaraan bekerja. So, cara paling sederhana membedakan sistem organis dan mekanis adalah membandingkan bagaimana sistem tubuh manusia berkerja dan bagaimana sebuah kendaraan bekerja. Sesederhana itu? Tentu saja tidak. Ini hanya untuk ngapusi ketidaknututan otak saya mencernanya, apalagi menjelaskannya.

Ternyata keputusan Maiyah sebagai organisme ini adalah sejalan, selaras, bersesuaian dan dalam harmoni dengan bagaimana alam bekerja. Mungkin karena Maiyah lahir secara otentik di Nusantara, ia “patuh” pada katuranggan-nya sebagai manusia Nusantara. Yakni hidup bersama alam, dan bukannya menjadi “penguasa” atas alam. “Keputusan” ini juga sedikit banyak membuka cakrawala berpikir saya dan sedikit “memahami” kenapa Maiyah tidak lantas bisa menjadi “mainstream” atau ada satu dua tokoh yang “moncer” di kancah nasional maupun internasional.

Ini selaras dengan salah satu mukjizat-Nya pada alam, yang dikenal dengan Swarm Intelligence. Yakni kecerdasan komunal yang kompleks. Ia bekerja secara ajaib pada kumpulan-kumpulan, komunitas-komunitas di alam.

Lalu, pada Mocopat Syafaat beberapa waktu yang lalu, Mas Sabrang memperkenalkan sebuah istilah dari dunia sains, yakni emergence. Keyakinan beliau bahwa (Jamaah) Maiyah menunjukkan indikasi emergence mendorong saya menuliskan ini dalam kaitannya dengan “kecurigaan” saya atas swarm intelligence yang sedang terbangun dan dibangun oleh Jamaah Maiyah.

Emergence adalah cikal-bakal dan pondasi dasar yang membangun swarm intelligence pada sebuah kumpulan. Emergence ini tidak berasal dari kecerdasan atau potensi individu atau komponen penyusunnya. Sedikit berbeda dengan cara berpikir yang mainstream bahwa kecerdasan atau perubahan sebuah kelompok besar diawali dengan kecerdasan atau perubahan individu atau komponen kecil di dalam kelompok tersebut.

Istilah emeregence sendiri kemudian dipilih karena ia “seolah-olah” muncul begitu saja. “Kesekonyong-konyongan”, demikian saya menerjemahkannya secara subjektif. Ada semacam “traktat”, “aturan”, atau “kesepakatan dasar” sebuah komunal yang “mengikat” setiap komponen/individu di dalamnya.

Menakjubkannya komunitas dan koloni semut, bukan karena setiap semut memiliki kecerdasan atau belajar dengan nggethu mengenai bagaimana menjadi seekor semut yang profesional. Melainkan setiap seekor semut “hanya” tinggal mengikuti bagaimana koloninya berjalan, dan ia secara otomatis menjadi bagiannya. Salah satu mekanisme koloni semut adalah ketika pada iterasi tertentu, ada kekurangan semut pekerja, maka seekor semut yang “idle” akan mengisi peran tersebut.

Mengagumkannya kumpulan ikan kecil atau migrasi ribuan burung, bukan karena setiap ikan kecil atau burung di dalamnya cerdas dan pintar. Melainkan setiap ikan dan burung “hanya” tinggal mengikuti mekanisme berjalannya kumpulan tersebut dan ia secara otomatis menjadi bagiannya. Salah satu mekanisme kumpulan ikan dan migrasi burung adalah ketika pada perulangan tertentu, jumlah ikan atau burung pada baris tersebut harus sekian dengan jarak sekian dari ikan atau burung yang lain. Maka seekor ikan atau burung baru yang bergabung hanya tinggal mengikuti pola tersebut dan menjadi bagiannya.

Buku Cak Nun