Meraba Emergence dan Swarm Intelligence Maiyah

“Human is the ocean, while every single drop of it is also an ocean” –Muhammad Iqbal

Di seberang lapangan. Agak tersembunyi dari jalur pejalan kaki. Malam memasuki seperempat keduanya. Lokasi acara yang berada di lereng pegunungan menjadikan suhu menjadi begitu dingin. Udara seolah membeku. Sama seperti modernisme, membeku. “Mengukur keberhasilan dari sisi pandang materialisme sudah menuju puncaknya,” begitu ucap seorang sahabat yang pernah lama di Philadelphia, Amerika. “bahkan kalau perlu, Tuhan diberi price tag dan dikapitalisasi,” ucap seorang yang lain lagi, seorang dosen komunikasi di perguruan tinggi negeri di Surabaya. The end of modernism.

Modernisme, seperti halnya kapitalisme, mulai menyeruak (emerge) sejak ditemukannya mesin uap yang menjadi penanda Revolusi Industri. Sebagaimana proses mekanis pada mesin uap, revolusi industri diikuti kemudian oleh revolusi di sektor ekonomi dan perbankan. Bank dan institusi moneter laksana bunga di musim semi. (Nilai mata) uang kemudian menjadi satuan paling primer dari seluruh aktifitas manusia.

Usaha mendapatkan kesembuhan dari penyakit adalah sama dan sebanding dengan nilai kapital dari obat dan alat kesehatan. Apakah juga keringat seorang juru sembuh, yang kemudian disebut dokter? Usaha pembukaan akses berupa jalan bagi masyarakat di pelosok adalah sama dan sebanding dengan kapital nilai investasi dan sumber daya alam yang bisa diangkut dari pelosok ke pabrik-pabrik di kota. Apakah juga kelelahan seorang juru ukur, yang kemudian diatributkan surveyor dan kartografer?

***

Penghujung abad 15. Dua tempat yang berbeda. Italia dan Bali. Di bawah kemegahan sistina dan kapel di Italia, Leonardo da Vinci menyelesaikan sebuah lukisan mural yang dikenal dengan “The Last Supper”, di mana ia dan dunia sekarang, merayakannya sebagai sebuah karya seni yang “patuh” pada geometri dan matematika modern.

Di belahan bola dunia yang lain, diayun irama degung Bali yang kontemplatif, sebuah karya lukis berjudul “Smaradhana” juga berhasil diselesaikan, yang terlihat tidak patuh pada prinsip geometri, malah terlihat acak dan tidak beraturan, random.

Dari dua fragmen di atas, sering kemudian berujung pada pertanyaan retoris dan stereotype: apakah “Barat” lebih maju daripada “Timur”? Apakah geometri modern yang diterapkan Da Vinci lantas menjadi lebih maju daripada seniman tak dikenal yang melukis Smaradhana? Saya, berpikiran demikian sebelum akhirnya kepala saya dihantam oleh beberapa tulisan Mbah Nun yang mengangkat tema tidak adanya dualisme melainkan hanya keutuhan, kemanunggalan, kemenyatuan, nyawiji.

Dunia dan akhirat bukanlah dua, melainkan satu. Tidak ada ilmu agama dan ilmu non-agama, melainkan semuanya dari Tuhan, dan lain sebagainya. Hantaman ini membuka mata saya pada sebuah karya berjudul Fractal Geometry of Nature yang ditulis oleh B. Mandelbrot pada 1982 tentang sebuah cara pandang geometri yang berbeda dengan geometri modern, Geometri Fraktal.

Geometri fractal ini masih beririsan pula dengan Chaos Theory di mana ternyata sesuatu yang terlihat acak dan tidak beraturan sebenarnya memiliki pola tertentu yang “tidak patuh” pada geometri modern. Pola dedaunan, gumpalan awan, debur ombak samudera, motif pada kulit kerang, kelopak bunga, cangkang mollusca adalah beberapa contoh dari “aplikasi” geometri fractal ini.

Penelitian lebih lanjut terhadap peradaban “Timur” ternyata menunjukkan pola yang sama pada beberapa produk ekspresi budayanya. Termasuk pula lukisan Smaradhana. Pada titik ini, penelitian tersebut masih “menyimpulkan” bahwa sebenarnya peradaban Timur, bersama peradaban Barat, juga menerapkan cara bergeometri. Yang berbeda hanyalah pada pola geometri yang dianutnya. Jadi anggapan bahwa peradaban Timur “tertinggal” dari peradaban Barat sangat tidak berdasar. Sebab memang keduanya berjalan pada “rel” yang berbeda.

Peradaban Timur memilih untuk “mengadopsi” cara alam bergeometri yakni geometri fraktal. Batik ditulis dan dibuat, kayu dan bebatuan diukir, candi dan rumah dibangun, ataupun pola pemerintahan dikerjakan–seluruhnya mengadopsi bagaimana alam “bekerja”.

Mohon maaf kalau tulisan ini juga demikian. Random. Acak. Tidak beraturan. Ini sangat tidak terhindarkan karena saya menulisnya tidak dalam rumus, pola, formula ataupun pakem penulisan. Sebab memang saya tidak bisa, menguasainya apalagi. Jadi, kalau masih ada yang getun karena tersesat di tulisan ini, demi kebaikan saya, mohon bersegera beralih ke tulisan lain yang lebih jelas manpangat-nya.

Buku Cak Nun